Ziarah di Majalengka, Jaksa Agung ST Burhanuddin dan TB Hasanuddin Kenang Perjuangan dan Kisah Berbagi

Jaksa Agung ST Burhanuddin didampingi sang kakak, Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, berziarah ke makam keluarga, sekaligus mengenang kisah masa kecil mereka.

Juli 6, 2026 - 14:37
Ziarah di Majalengka, Jaksa Agung ST Burhanuddin dan TB Hasanuddin Kenang Perjuangan dan Kisah Berbagi
MAJALENGKA -

Pagi belum sepenuhnya terbangun ketika langkah-langkah tenang memasuki kompleks pemakaman di Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Minggu 5 Juli 2026.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun suasana telah dipenuhi keheningan yang sarat makna.

Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin memilih pulang.

Bukan untuk seremoni, melainkan untuk menundukkan kepala di hadapan pusara orang-orang yang telah membentuk jalan hidupnya.

Didampingi sang kakak, Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, serta Bupati Majalengka Eman Suherman dan sejumlah pejabat, Burhanuddin berjalan perlahan menuju deretan makam keluarga. 

Di bawah rindangnya pepohonan, ia memanjatkan doa, larut dalam keheningan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

"Di sini ada makam ibu saya, bapak saya, nenek, saudara-saudara, juga kakek," ujarnya lirih usai ziarah.

Namun pagi itu bukan sekadar ritual doa. Ia menjelma menjadi ruang ingatan membuka kembali lembaran masa kecil yang jauh dari kemewahan.

Burhanuddin mengenang bagaimana ia dan sepuluh saudaranya tumbuh dalam kesederhanaan sebagai anak petani.

"Kami sepuluh bersaudara. Kedekatan itu terbentuk karena kami hidup bersama, saling bahu-membahu. Sekarang tinggal empat," tuturnya, suaranya menyiratkan kehilangan sekaligus keteguhan.

Tak ada warisan materi yang melimpah dari orang tua mereka. Yang tersisa justru lebih abadi: nilai kehidupan.

"Kami selalu diingatkan bahwa hidup ini akan kembali kepada Tuhan. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri," katanya.

Kenangan itu kemudian disambung oleh TB Hasanuddin. Dengan senyum tipis, ia mengisahkan potret sederhana yang kini terasa begitu berharga, sebutir telur dadar yang dibagi sepuluh.

"Ibu kami membuat dadar telur setipis mungkin, lalu dibagi rata untuk kami semua. Itu pelajaran berbagi yang tidak akan pernah kami lupakan," ungkapnya.

Ia membandingkan masa itu dengan kondisi saat ini. "Sekarang anak-anak diberi dua telur saja kadang tidak mau. Dulu, satu telur dibagi sepuluh pun cukup," katanya, setengah berkelakar namun penuh makna.

Kehidupan mereka kala itu juga diwarnai kerja keras sejak dini. Sepulang sekolah, kedua bersaudara ini tak langsung beristirahat. Mereka mencari rumput untuk pakan kambing peliharaan keluarga.

"Bapak kami petani. Kalau ingin memelihara kambing, kami harus bertanggung jawab memberi makan sendiri," ujar TB Hasanuddin.

Di sela kesibukan itu, masa kecil tetap menemukan caranya untuk bahagia. Sebuah sungai kecil di belakang rumah menjadi saksi kebersamaan mereka, tempat mandi, mencari ikan, hingga menjelajah alam tanpa batas.

"Dulu ada walungan kecil di belakang sini. Kami mandi, mencari ikan, dan bermain hampir setiap hari," kenangnya.

Dari ruang sederhana itulah mimpi-mimpi besar tumbuh. Tanpa kemewahan, tanpa privilese, keduanya menapaki jalan panjang hingga dipercaya memegang peran strategis di tingkat nasional.

Bagi mereka, latar belakang bukanlah batas. "Siapa pun punya hak untuk maju, berkembang, bahkan menjadi apa saja, anggota DPR, Jaksa Agung, bahkan presiden sekalipun," pungkas Burhanuddin.

Ziarah pagi itu pun berakhir, namun pesan yang ditinggalkan jauh melampaui doa: bahwa dari kesederhanaan, lahir keteguhan. Dan dari akar yang kuat, tumbuh perjalanan menuju puncak. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow