Waspada Hantavirus, Dinkes Bali Perketat Pengawasan di Bandara dan Pelabuhan

Dinas Kesehatan Bali memperketat pengawasan di pintu masuk bandara dan pelabuhan guna mewaspadai penyebaran hantavirus.

Mei 13, 2026 - 08:31
Waspada Hantavirus, Dinkes Bali Perketat Pengawasan di Bandara dan Pelabuhan

BALI - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali memperketat pengawasan terpadu di sejumlah pintu masuk wilayah sebagai langkah antisipasi terhadap potensi masuknya hantavirus. Pengetatan ini dilakukan terutama di titik-titik strategis seperti bandara dan pelabuhan.

Kepala Dinkes Bali, I Nyoman Gede Anom, menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan kesehatan masyarakat di Pulau Dewata.

“Pemprov Bali melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah preventif dengan memperketat surveilans atau pengawasan terpadu di pintu-pintu masuk, baik pelabuhan, bandara, maupun wilayah kerja yang berisiko tinggi,” ujar I Nyoman Gede Anom di Denpasar, Selasa (12/5/2026).

Anom menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus aktif maupun suspek hantavirus di Bali. Namun, skrining tetap diperketat, khususnya bagi pekerja migran Indonesia (PMI) maupun kru kapal pesiar yang baru kembali ke Bali. Selain pengawasan di pintu masuk, koordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota serta fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas juga terus diperkuat.

Langkah ini bertujuan untuk memantau pasien yang menunjukkan gejala flu berat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau tinggal di lingkungan yang kurang bersih. Anom menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang telah terinfeksi virus tersebut.

“Penularan ke manusia juga terjadi jika menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus tersebut, bukan penularan antar-manusia seperti COVID-19,” jelas Anom.

Terkait gejala klinis, pasien yang terinfeksi hantavirus umumnya akan mengalami demam, pusing, serta nyeri otot. Pada kondisi yang lebih parah, infeksi ini dapat memicu gangguan pernapasan yang serius.

Sebagai upaya edukasi, Pemprov Bali terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.

“Warga agar tidak panik, namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus, membersihkan rumah atau gudang yang lama tidak dipakai menggunakan masker dan sarung tangan, serta tidak menyapu kotoran tikus secara kering agar debu tidak terbang,” imbaunya.

Anom meminta masyarakat yang mengalami demam tinggi disertai nyeri otot berat setelah beraktivitas di lingkungan yang banyak tikus untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat. Kendati Bali masih nihil kasus, pihak Dinkes memastikan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) guna memantau perkembangan situasi secara real-time. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow