Semakin Ditekan, Iran Justru Siap Membuat Senjata Nuklir

Semakin ditekan, apalagi diserang Amerika Serikat dan zionis Israel, Iran justru makin berniat membuat senjata nuklir.

Mei 13, 2026 - 08:31
Semakin Ditekan, Iran Justru Siap Membuat Senjata Nuklir

JAKARTA - Semakin ditekan, apalagi diserang Amerika Serikat dan zionis Israel, Iran justru makin berniat membuat senjata nuklir.

Isyarat itu telah dikemukakan seorang anggota parlemen senior Iran, Ebrahim Rezaei yang juga Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran.

Ebrahim mengatakan, bahwa pengayaan uranium 90 persen bisa menjadi salah satu pilihan yang tersedia bagi Iran jika menghadapi serangan militer baru, dan bahwa parlemen akan secara resmi meneliti proposal tersebut.

Ebrahim Rezaei memposting pernyataan itu langsung di X. "Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan baru adalah pengayaan uranium hingga 90 persen. Kami akan membahasnya di parlemen."

Presiden AS, Donald Trump cenderung akan melakukan serangan militer terhadap Iran setelah, Minggu malam lalu  ia menolak mentah-mentah proposal perdamaian yang disodorkan Iran melalui mediator Pakistan.

Trump, meski belum membaca secara keseluruhan proposal itu lagsung menyatakan 'tidak bisa menerimanya'.

Apalagi Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu juga terus 'ngompori' pendirian dan sikap Trump dengan mengatakan bahwa perang dengan Iran akan berlanjut selama negara itu memiliki persediaan uranium yang sangat diperkaya.

"Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar," katanya kepada program CBS 60 Minutes.

Ketika ditanya bagaimana cara mengeluarkannya, Netanyahu menjawab, "Anda masuk dan Anda mengeluarkannya".

Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai, dan Iran dilaporkan belum menyerahkan lebih dari 400 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen, sebuah langkah teknis singkat dari tingkat uranium yang digunakan untuk senjata nuklir, yaitu 90 persen.

Karena itu Iran kemudian ditekan-tekan bahkan diancam akan diserang secara militer.

Mendapati fakta itu, Iran bertekad akan memperkaya uranium hingga mencapai tingkat yang bisa digunakan untuk pembuatan senjata nuklir jika diserang.

Donald Trump mengatakan salah satu tujuan utamanya untuk menyerang Iran adalah untuk memastikan bahwa Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Kini tampaknya AS akan memulai kembali perangnya, dan juru bicara komisi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, memperingatkan bahwa Iran justru akan bisa memperkaya uranium hingga kemurnian 90 persen jika diserang lagi.

AS Terpecah Belah

Sementara itu pemerintahan Donald Trump terindikasi terpecah belah caranya menghadapi Iran pada fase selanjutnya.

Ada kelompok yang menyerukan peningkatan tekanan terhadap Iran termasuk melakukan serangan spesifik untuk memperkuat posisi Washington di meja perundingan, sementara kelompok lain ada yang berpegang pada opsi diplomasi.

Seperti dilansir CNN, sumber-sumbernya menyebut Donald Trump dikabarkan frustasi karena para pembantunya terpecah belah.

Diungkapkan, bahwa beberapa ajudan Presiden Donald Trump sekarang percaya bahwa ia lebih serius mempertimbangkan opsi untuk melanjutkan perang terhadap Iran daripada yang disarankan dalam beberapa minggu terakhir.

Mengenai mediasi Pakistan, sumber CNN juga mengatakan bahwa sejumlah rekan dekat Trump lebih memilih mediator Pakistan mengambil sikap lebih tegas dalam menyampaikan pesan-pesan Washington ditengah keraguan dari beberapa pejabat tentang efektivitas peran mereka.

Sumber-sumber itu mengatakan, bahwa Trump telah kehabisan kesabaran dengan penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut oleh Iran dan dampak langsung yang diakibatkannya pada pasar energi serta kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasi itu terjadi setelah tanggapan terbaru Iran atas proposal Amerika selama negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan dalam upaya untuk mengakhiri perang secara permanen yang membuat Trump marah dan yang dianggapnya "sama sekali tidak bisa diterima".

Namun CNN yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini mentebutkan bahwa keputusan strategis besar, atau penentuan langkah selanjutnya yang pasti, kemungkinan besar tidak akan diambil sebelum keberangkatan Donald Trump ke China.

Presiden AS Donald Trump akan tiba di Beijing pada hari ini Rabu untuk kunjungan resmi selama dua hari atas undangan Presiden Tiongkok Xi Jinping .

Dengan meningkatnya tekanan internasional untuk mengakhiri perang dan dampaknya terhadap pasar energi global, Iran diperkirakan akan menjadi salah satu isu paling penting yang akan dibahas Trump dan Xi Jinping selama pembicaraan mereka. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow