Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Ingatkan Mitigasi Cuaca Ekstrem di Bojonegoro
Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni ingatkan ancaman cuaca ekstrem terhadap sektor migas dan pertanian di Bojonegoro. Desak integrasi mitigasi bencana dan perlindungan petani.
SURABAYA - Ancaman cuaca ekstrem kini menjadi alarm keras bagi stabilitas sektor strategis di Jawa Timur. Kabupaten Bojonegoro, yang memegang peran krusial sebagai lumbung energi dan pangan nasional, disebut berada dalam bayang-bayang risiko besar jika langkah mitigasi tidak segera diperkuat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa perubahan iklim yang tidak menentu bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi ekonomi kerakyatan. Sebagai daerah penghasil migas sekaligus lumbung padi, Bojonegoro memiliki kerentanan ganda terhadap bencana hidrometeorologi.
“Bojonegoro memiliki posisi strategis. Ketika cuaca ekstrem terjadi, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari produksi pertanian hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Sri Wahyuni saat ditemui usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jatim, Kamis (9/4/2026).
Politisi Partai Demokrat ini menyoroti bagaimana curah hujan tinggi seringkali memicu banjir yang merusak siklus tanam, sementara kemarau panjang mengancam ketersediaan air. Tak hanya itu, infrastruktur penunjang sektor energi pun berisiko terganggu jika cuaca ekstrem terus menghantam tanpa persiapan matang.
Ia mendesak agar Pemerintah Provinsi Jatim dan Pemkab Bojonegoro tidak lagi bekerja secara sektoral, melainkan harus terintegrasi dalam memitigasi bencana. Fokus utamanya mencakup penguatan sistem peringatan dini, normalisasi sungai, hingga perbaikan infrastruktur irigasi secara menyeluruh.
“Langkah antisipatif harus diperkuat, jangan sampai kita hanya bersikap reaktif setelah terjadi bencana. Perlindungan terhadap petani dan keberlanjutan sektor energi harus berjalan beriringan,” tegasnya dengan nada lugas.
Selain infrastruktur fisik, Sri juga mendorong adanya edukasi masif bagi para petani agar lebih melek terhadap perubahan iklim. Salah satu solusinya adalah penggunaan varietas tanaman yang lebih tangguh terhadap fluktuasi cuaca ekstrem.
Harapannya, melalui mitigasi yang presisi, Bojonegoro tetap mampu berdiri kokoh sebagai penopang energi dan pangan Jawa Timur, meski di tengah tantangan iklim yang semakin nyata. (*)
Apa Reaksi Anda?