Waisak di Kota Probolinggo: Memandikan Rupang Budha Bukan Sekadar Ritual, Jadi Momen Membasuh Hati

Tradisi memandikan rupang Buddha di Kota Probolinggo saat Waisak ini sudah berlangsung sejak 2022.

Mei 31, 2026 - 17:01
Waisak di Kota Probolinggo: Memandikan Rupang Budha Bukan Sekadar Ritual, Jadi Momen Membasuh Hati

PROBOLINGGO - Peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE, di Kota Probolinggo tidak melulu soal rangkaian seremoni yang kaku. Setiap tempat ibadah diberi wewenang penuh untuk menentukan prosesi awalnya. Dan di Klenteng Tri Dharma Sumber Naga, ada satu tambahan yang unik, yakni memandikan rupang Buddha. Bukan sekadar membasuh patung, ini merupakansimbol membasuh kekotoran batin yang selama ini mengendap.

"Kami tidak punya ritual khusus yang menandakan dimulainya acara. Dari pagi hingga malam hanya satu hari. Dan tidak semua vihara melakukan hal yang sama. Tergantung kebijakan masing-masing," ujar Ketua II TITD Sumber Naga, Erfan Sutjianto, Minggu (31/5/2026).

Tradisi memandikan rupang ini sudah berlangsung sejak 2022. Bagi mereka, air yang mengalir di atas patung Buddha adalah pengingat untuk membersihkan iri hati, keserakahan, amarah, kebencian, dan segala sampah mental lainnya.

"Ini simbolisasi. Kembali ke pribadi masing-masing. Kalau mau bersih, ya mandikan hati setiap hari. Kalau tidak mau, ritual seribu kali pun percuma. Ada niat dan tekad dari diri sendiri untuk membuang jauh-jauh semua itu," tegasnya.

Namun yang membedakan perayaan tahun ini adalah momentum detik-detik Waisak. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang kerap jatuh pada dini hari atau subuh, tahun ini puncak kebaktian terjadi pada waktu yang sangat bersahabat yaitu pukul 15.44.44. Tepat saat matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus.

"Pernah detik-detik Waisak jatuh jam 02.00, jam 04.00, bahkan jam 12.00 malam. Tapi tahun ini jam 3 sore lebih. Sangat memungkinkan kita mengadakan ritual yang lebih komplit," jelasnya.

Pada saat itulah seluruh umat diajak bermeditasi. Bukan sekadar duduk diam, melainkan melakukan proyeksi diri atas apa yang sudah dilakukan, apa yang belum, dan apa yang akan dilakukan. Ini adalah introspeksi total tanpa kemasan berlebihan.

Setelah momen meditasi, rangkaian acara berlanjut ke malam hari dengan sembahyang bersama seluruh umat Buddha se-Probolinggo. Sekitar satu jam kemudian, para umat budha melakukan ritual Pradaksima yakni ritual mengelilingi suatu obyek sebanyak tiga kali.

Para umat Budha yang bersembahyang di Klenteng Tri Dharma Sumber Naga dengan membawa kembang dan lampion atau lilin, akan mengelilingi bangunan kelenteng.

Dalam ajaran Buddha, mengelilingi suatu objak adalah bentuk penghormatan tertinggi. Kali ini objek yang dikelilingi adalah Bangunan Klenteng Tri Dharma Sumber Naga. Dimana didalamnya juga terdapat patung para dewa.  

Tema besar Waisak 2570 BE yang diusung adalah "Dharma sebagai Landasan Moral dan Kebijaksanaan". Harapannya, tidak ada yang sekadar datang untuk seremoni, tapi benar-benar mengambil pelajaran tentang moral dan kebijaksanaan dalam keseharian.

Klenteng Tri Dharma Sumber Naga sendiri memperkirakan sekitar 500 jamaah akan hadir. Namun karena bertepatan dengan libur panjang, banyak pula yang memilih keluar kota atau memiliki agenda lain di malam hari. "Kita tidak bisa mengharapkan semua hadir. Biarlah yang datang dengan niat tulus," ujarnya.

Waisak tahun ini hanya berlangsung satu hari. Dari pagi hingga malam. Setelah prosesi mengelilingi kelenteng selesai, tidak ada lagi kegiatan. Sederhana, tapi sarat makna. Karena pada akhirnya, membersihkan hati tidak perlu menunggu setahun sekali. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow