Waduk Mrica Kian Kritis, Sedimentasi Ancam Bendungan Terpanjang Asia Tenggara

Sedimentasi tinggi membuat Waduk Mrica, bendungan terpanjang di Asia Tenggara, kian kritis. Kapasitas tampung menurun dan mengancam fungsi irigasi serta pembangkit listrik.

Mei 16, 2026 - 21:01
Waduk Mrica Kian Kritis, Sedimentasi Ancam Bendungan Terpanjang Asia Tenggara

BANJARNEGARA - Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman atau yang lebih dikenal sebagai Waduk Mrica pernah menyandang gelar sebagai bendungan terpanjang di Asia Tenggara. 

‎Bendungan yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1989 memiliki panjang bentang mencapai 6,5 kilometer. 

‎Hal yang perlu diingat, pembangunan Waduk Mrica bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Dimulai dengan peletakan batu pertama pada periode 1984-1987, proyek ini melahirkan perubahan lanskap sosial yang masif di Kabupaten Banjarnegara. 

genangan Waduk Mrica - 2

‎Demi membendung aliran Sungai Serayu, sebanyak 32 desa subur yang tersebar di 7 kecamatan harus rela "dihilangkan" dari peta. Relokasi besar-besaran pun tak terelakkan. Ratusan warga terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka.

‎Sejarah mencatat, salah satu gelombang transmigrasi terbesar dalam sejarah lokal (Bedol Desa), di mana sebagian besar warga terdampak dipindahkan ke wilayah Sumatera dan Kalimantan. 

‎Pengorbanan ini dilakukan demi satu visi besar: menjadikan Mrica sebagai tulang punggung energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 184,5 MW yang mengaliri listrik daerah Jawa dan Bali serta mengairi ribuan hektar sawah melalui DI Banjarcahyana dan DI Penaruban.

‎30 tahun berselang, visi besar itu kini terancam sirna. Berdasarkan laporan terkini per Mei 2026, kondisi waduk yang mencakup area genangan seluas 1.250 hektar ini masuk dalam status kritis.

‎Musuh utamanya bukanlah usia beton, melainkan sedimentasi ekstrem yang melampaui prediksi awal desainnya.

‎85 Persen Genangan Air Jadi Daratan

‎Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Banjarnegara, Junaedi, S.T., mengungkapkan fakta yang mencengangkan. Sekitar 85 hingga 90 persen area genangan kini telah dipenuhi lumpur.

‎"Data ini bukan sekadar angka. Ini adalah alarm keras. Dengan 90% kapasitas terisi sedimen, bendungan berada dalam posisi sangat rentan terhadap ancaman cuaca ekstrem atau guncangan seismik seperti Megathrust," tegas Junaedi kepada wartawan.

‎Kapasitas tampung air yang tersisa kini hanya berkisar antara 10 hingga 12,5 persen. Bahkan, realita di lapangan menunjukkan kapasitas efektifnya mungkin hanya menyisakan 8 persen. 

‎Kekhawatiran bendungan jebol tentu bukan lagi sekadar isapan jempol belaka, Jika tanggul gagal menahan beban akibat luapan air dan tekanan material lumpur yang masif, dampaknya akan bersifat katastropik. 

genangan Waduk Mrica - 1

‎Ribuan jiwa yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Serayu mulai dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap berada dalam zona bahaya air bah.

‎Meskipun dalam kondisi kritis, Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica masih berupaya keras mengoperasikan turbin 3x60 MW mereka. Namun saat kondisi lumpur terus menumpuk, maka jadi ancaman serius masa operasional turbin.

‎Melihat kondisi memprihatinkan ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tentu tidak tinggal diam. Mitigasi risiko bencana terus ditingkatkan oleh BPBD Banjarnegara. 

‎Salah satu solusi teknologi yang kini menjadi tumpuan harapan adalah pengoperasian Mud Suction Pump. Berbeda dengan metode pengerukan konvensional yang memakan waktu lama, teknologi ini bekerja layaknya alat pembersih vakum raksasa. 

‎Mesin ini menyedot lumpur kental melalui jaringan pipa panjang menuju tujuh titik dumping area seluas 145 hektar yang disiapkan di Kecamatan Bawang dan Purwanegara.

‎Langkah ini adalah upaya untuk memperpanjang umur Waduk Mrica. Namun yang perlu dipertanyakan, mampukan teknologi ini berpacu dengan kondisi alam Banjarnegara, hujan ekstrim dan erosi di hulu Sungai Serayu yang semakin kritis?. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow