Turki Kebut Koridor Dagang Irak-Eropa, Target Rampung Tiga Tahun Kurangi Ketergantungan Selat Hormuz
Turki menargetkan koridor transportasi Irak-Eropa rampung dalam tiga tahun. Proyek senilai US$15 miliar ini diharapkan mengurangi ketergantungan logistik terhadap Selat Hormuz.
Pemerintah Turki menargetkan proyek koridor transportasi yang menghubungkan Teluk Persia dengan Eropa melalui Irak dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Jalur baru tersebut diproyeksikan menjadi alternatif distribusi logistik global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang rentan terhadap konflik geopolitik.
Menteri Perhubungan Turki Abdulkadir Uraloglu mengatakan proyek tersebut pada dasarnya diperkirakan selesai dalam empat hingga lima tahun. Namun, pemerintah tengah mengkaji percepatan pembangunan agar dapat dirampungkan dalam waktu tiga tahun sejak konstruksi dimulai.
"Proyek ini bisa saja selesai dalam waktu empat hingga lima tahun, tetapi kami masih akan membahas apakah proyek itu bisa diselesaikan dalam waktu tiga tahun setelah pekerjaannya dimulai," ujar Uraloglu, seperti dikutip harian Yeni Safak, Jumat (31/7/2026).
Hubungkan Teluk Persia hingga Eropa
Proyek koridor tersebut mencakup pembangunan jalur kereta api, jalan tol, serta jaringan telekomunikasi dan energi sepanjang sekitar 1.200 kilometer.
Jalur itu akan menghubungkan Pelabuhan Al-Faw di Irak dengan wilayah Turki, sebelum diteruskan menuju berbagai negara di Eropa.
Pembangunan jalur kereta api dalam proyek tersebut diperkirakan menelan investasi sekitar 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp270,5 triliun.
Turki dan Irak juga telah menyepakati pembangunan pos lintas batas baru di kawasan Faysh Khabur-Ovakoy beserta mekanisme pendanaan proyek tersebut.
Alternatif Jalur Logistik Global
Pemerintah Turki menargetkan seluruh proses dokumentasi teknis selesai tahun ini sehingga pembangunan fisik dapat segera dimulai.
Pembangunan jalur kereta api menjadi prioritas utama karena dinilai mampu mempercepat distribusi barang menuju Eropa sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon melalui transportasi yang lebih efisien.
Apabila rampung, koridor tersebut diproyeksikan menjadi salah satu jalur perdagangan alternatif yang mampu mengurangi ketergantungan logistik global terhadap Selat Hormuz maupun Kanal Suez, dua jalur pelayaran strategis yang kerap menghadapi risiko gangguan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan distribusi sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Kawasan tersebut kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Proyek koridor perdagangan ini melibatkan empat negara, yakni Turki, Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab, sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas perdagangan regional menuju pasar Eropa.(*)
Apa Reaksi Anda?