Pakar Seismologi ITS Ungkap Misteri Kiamat Geologis Runtuhnya Majapahit
Keruntuhan Imperium Majapahit pada akhir abad ke-15 kerap dibingkai dalam narasi tunggal: intrik politik, perang saudara, dan transisi kekuasaan. Namun, tersimpan narasi lain yang lebih purba.
SURABAYA - Selama berabad-abad, keruntuhan Imperium Majapahit pada akhir abad ke-15 kerap dibingkai dalam narasi tunggal: intrik politik, perang saudara, dan transisi kekuasaan.
Namun, di bawah hamparan tanah Trowulan, Kabupaten Mojokerto—situs
seluas 100 kilometer persegi yang diyakini sebagai "jantung" Majapahit—tersimpan narasi lain yang jauh lebih purba dan mematikan.
Reruntuhan candi berbata merah,
pergeseran aliran sungai, dan lapisan tanah yang porak-poranda perlahan mengungkap sebuah rahasia besar.
"Majapahit tidak hanya runtuh oleh pedang, tetapi juga oleh amukan alam," ungkap Pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Dr. Ir. Firman Syaifuddin S.Si., M.T., Sabtu (1/8/2026).
Firman mengungkapkan, melalui lensa disiplin ilmu baru yang menjanjikan, yakni Arkeoseismologi, Trowulan kini berevolusi dari sekadar situs wisata sejarah menjadi laboratorium alam berskala global.
"Di sinilah, para detektif masa lalu memadukan filologi naskah kuno dengan kecerdasan buatan (AI) untuk merekonstruksi "kiamat" geologis yang pernah mengubur peradaban
terbesar di Nusantara," jelasnya.
Trowulan: Menjadi Saksi Bisu Amukan Bumi
Lantas, mengapa Trowulan begitu istimewa bagi para arkeoseismolog? Doktor Firman mengatakan, jawabannya terletak pada posisi geografisnya yang bak "bom waktu" geologis.
Trowulan berdiri anggun di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit oleh mesin-mesin tektonik paling aktif di Pulau Jawa.
Sementara di sebelah selatan, zona subduksi lempeng Indo-Australia terus menekan. Di sekitarnya, menjulang kompleks vulkanik raksasa Arjuno- Kelud.
Secara struktural, kota kuno ini diiris oleh sistem Sesar Watukosek dan terjepit
oleh kompresi Sesar Naik Kendeng (Kendeng Thrust).
Lebih dari itu, kekayaan bukti fisik di Trowulan sangat langka. Arsitektur Majapahit yang didominasi oleh susunan bata merah tanpa semen modern sangat rentan terhadap guncangan.
Ketika gempa purba terjadi, struktur ini merekam jejak deformasi secara presisi—seperti pilar yang terpuntir, dinding yang runtuh terarah, hingga retakan tembus.
"Dalam dunia arkeoseismologi, fenomena ini disebut Earthquake Archaeological Effects (EAE)," ujarnya.
Jejak Bencana Ganda: Guncangan dan Gelombang Lumpur
Penelitian multidisiplin terbaru juga menyibak tabir penguburan massal Trowulan.
Melalui analisis stratigrafi dan granulometri sedimen tanah, para ilmuwan menemukan bahwa situs-situs penting seperti Kumitir, Kedaton, dan Minakjinggo telah disapu oleh
setidaknya dua jenis bencana raksasa yang datang silih berganti.
"Pertama, gempa bumi dan likuifaksi. Bayangkan bumi yang Anda pijak tiba-tiba mencair. Saat gempa dahsyat mengguncang Trowulan, sedimen aluvial yang belum padat kehilangan kekuatannya—sebuah fenomena mematikan yang disebut likuifaksi," paparnya.
Analisis geologi, lanjutnya, juga menemukan struktur tanah grain-supported (kerikil yang saling bergesekan) di bawah reruntuhan.
"Temuan ini selaras dengan kondisi bangunan candi yang ditemukan hancur dan terpuntir parah," terang Firman.
Kedua, banjir bandang dan lahar vulkanik. Seolah gempa belum cukup, Majapahit juga diterjang air bah membawa material vulkanik.
Berdasarkan penelitian, Firman menemukan jika di bawah mikroskop geologi, lapisan tanah Trowulan menunjukkan endapan matrix-supported (pasir dan kerikil vulkanik), pola saluran (channeling), serta fragmen bata yang tersusun miring searah arus air
(imbrication).
Pelacakan menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) memastikan material ini adalah muntahan dari kompleks vulkanik Arjuno dan letusan epik Gunung Kelud yang mengalir deras menghantam pusat kota.
Menerjemahkan Sandi Kosmis Jawa Kuno
"Hebatnya, bencana geologis yang ditemukan oleh sains modern ini sebenarnya telah "dituliskan" secara metaforis oleh para pujangga keraton berabad-abad lalu," ujarnya.
Sinkronisasi antara lapisan sedimen dan catatan dalam naskah kuno seperti Kakawin Nagarakretagama dan Kitab Pararaton membuat riset Trowulan menjadi sangat komprehensif.
Masyarakat Jawa Kuno mengkodifikasikan bencana dalam epistemologi kosmologis.
Gempa bumi dicatat sebagai lindu atau kampana. Sementara itu, bumi ketug merujuk pada suara gemuruh hebat dari perut bumi.
"Puncaknya adalah Pralaya—konsep
kehancuran kosmis yang menandai pergantian zaman," tandas anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) ini.
Linimasa bencana Majapahit dimulai pada 1334 Masehi (M). Tepat pada tahun kelahiran Raja Hayam Wuruk (masa awal
keemasan). Naskah mencatat terjadinya lindu bumi ketug dan banyu pindah
(banjir bandang yang memindahkan aliran sungai).
Pada tahun 1450 M, peristiwa palindu (gempa bumi hebat) kembali mengguncang, meretakkan pilar-pilar ekonomi di ujung senja Majapahit.
Kemudian tahun 1481 M, bencana guntur pawatugunung (banjir bandang dan erupsi dahsyat) terjadi.
"Banyak ahli meyakini environmental stress inilah yang merusak sistem irigasi, lumbung pangan, dan kanal-kanal Trowulan, yang akhirnya mempercepat "kiamat" atau keruntuhan Majapahit secara permanen," ungkapnya.
Sesar Tersembunyi: Ancaman Tak Kasat Mata
Trowulan bukan sekadar korban letusan gunung, melainkan korban "jaringan" sesar yang kompleks. Sistem Sesar Watukosek yang berkarakteristik mendatar-naik membelah kawasan ini.
Pergerakan patahan inilah yang diduga mengubah aliran Sungai Brantas secara paksa pada abad ke-15, mematikan jalur perdagangan maritim Majapahit.
Di kedalaman, terdapat Sesar Naik Buta (Blind Thrust) dari sabuk Kendeng. Sesar ini tidak merobek permukaan tanah, namun pergerakannya merambat di bawah tanah, menciptakan efek resonansi mematikan yang meruntuhkan candi.
Ditambah lagi dengan Riedel Shear—cabang-cabang patahan kecil yang diam-diam memotong langsung ke sumbu-sumbu percandian, memberikan pukulan fatal meskipun pergeserannya hanya
beberapa sentimeter.
Kecerdasan Buatan dan Satelit: Alat Penjelajah Waktu
Untuk mengungkap siklus gempa purba yang usianya ratusan tahun, palu geologi dan sikat arkeolog tidak lagi cukup. Kini, para ilmuwan mengarahkan teknologi komputasi mutakhir ke jantung Trowulan.
Firman mengatakan, riset arkeoseismologi modern bertumpu pada empat pilar teknologi masa depan.
Meliputi pemetaan udara (Lidar). Lidar memindai Trowulan dari udara, menciptakan model 3D berskala sub-sentimeter.
"Retakan dan pergeseran batu candi terkecil pun kini dapat dihitung tanpa perlu menyentuh situs cagar budaya," katanya.
Kedua adalah Tomografi Bising Seismik (ANT). Dimana Sensor-sensor ditanam untuk "mendengarkan" bising getaran bumi.
"Melalui Ambient Noise Tomography, ilmuwan bisa melihat struktur 3D perut bumi Trowulan dan kedalaman batuan dasar tanpa harus melakukan pengeboran yang merusak," ucap Firman.
Ketiga, Kecerdasan Buatan (Bayesian PINN). Jaringan saraf tiruan berbasis fisika (AI) ditugaskan untuk menghitung probabilitas gempa purba.
"AI ini memodelkan ulang bagaimana gelombang gempa menghancurkan tanah Trowulan di masa lalu, mereduksi jutaan variabel yang tidak pasti menjadi skenario geologi yang presisi," jelas dosen jebolan master Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Keempat adalah Mata Satelit (Google Earth Engine). Melalui radar satelit Sentinel-1, jejak kehancuran sesar purba dan gawir patahan dilacak dari luar angkasa, memetakan potensi bahaya untuk skala regional.
Pelajaran dari Runtuhnya Sebuah Imperium
Integrasi antara batu bata candi, naskah daun lontar, dan kecerdasan buatan di Trowulan disebutnya memberikan satu peringatan keras bagi manusia.
Runtuhnya Kerajaan Majapahit bukanlah
sekadar mitos masa lalu, melainkan alarm untuk masa depan.
Apalagi, kawasan urban modern di Jawa Timur saat ini berdiri di atas lempeng geologis yang sama persis dengan yang menghancurkan Majapahit.
"Arkeoseismologi Trowulan tidak hanya
menceritakan bagaimana leluhur kita tumbang oleh alam, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita hari ini harus merancang tata ruang yang tangguh terhadap gempa. Karena pada akhirnya, sejarah peradaban dan geologi di Pulau Jawa akan selalu mengulang siklusnya," jelas Firman.(*)
Apa Reaksi Anda?