Trump Perintahkan Menembak Kapal Pemasang Ranjau di Selat Hormuz, Iran Makin Solid
Presiden AS, Donald Trump telah memerintahkan angkatan lautnya untuk menyerang kapal-kapal yang memasang ranjau di Selat Hormuz.
JAKARTA - Israel menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat untuk menyerang Iran kembali dengan ambisi menghabisi dinasti Khamenei bahkan membualnya mengembalikannya ke "zaman batu", dan Presiden AS, Donald Trump juga telah memerintahkan angkatan lautnya untuk menyerang kapal-kapal yang memasang ranjau di Selat Hormuz.
Ia memerintahkan pasukannya untuk menembak dan membunuh kapal mana pun yang memasang ranjau dan ia mengklaim AS telah mengendalikan penuh Selat Hormuz, dan mengejek Iran karena "tidak mengetahui" siapa pemimpinnya.Dia juga mengatakan bahwa kapal penyapu ranjau AS bekerja "tiga kali lipat" untuk membersihkan ranjau dari perairan.
"Iran sedang mengalami kesulitan besar untuk menentukan siapa pemimpin mereka! Mereka benar-benar tidak tahu! Pertikaian internal antara "Kelompok Garis Keras," yang telah mengalami kekalahan telak di medan perang, dan "Kelompok Moderat," yang sebenarnya tidak moderat sama sekali (tetapi semakin dihormati!), sungguh gila! Kita memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Selat itu "tertutup rapat," sampai Iran mampu membuat kesepakatan!!! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Namun cuitan Trump itu ditepis olehPresiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Dalam pesan bersama di akun X, kedua pemimpin Iran ini menulis, "Di Iran, tidak ada "garis keras" atau "moderat". Kita semua adalah "orang Iran" dan "revolusioner", dengan persatuan yang kuat antara bangsa dan negara".
"Kami akan membuat agresor kriminal itu menyesali perbuatan mereka dengan persatuan bangsa dan pemerintah Iran yang kokoh, dan dengan ketaatan penuh kepada Pemimpin Revolusi Islam," tegas mereka.
"Satu Tuhan, satu Pemimpin, satu bangsa, dan satu jalan; jalan menuju kemenangan bagi Iran," tambah presiden dan ketua parlemen.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghci juga menyatakan bahwa pembunuhan berulang kali yang dilakukan rezim teroris Israel telah sepenuhnya gagal, dan sebaliknya menunjukkan persatuan, tujuan, dan disiplin yang tak tergoyahkan dari lembaga-lembaga negara Republik Islam Iran.
Dalam pernyataannya di X pada hari Kamis, Araghchi menegaskan dengan sangat jelas bahwa kampanye kriminal teroris Israel berupa pembunuhan dan sabotase telah mencapai hasil yang justru berlawanan dengan tujuan yang diinginkan.
"Kegagalan pembunuhan teroris yang dilakukan Israel tercermin dalam bagaimana lembaga-lembaga negara Iran terus bertindak dengan persatuan, tujuan, dan disiplin," kata Araghchi.
Alih-alih melemahkan Republik Islam, tindakan putus asa dan pengecut dari entitas apartheid itu justru memperkuat koordinasi antara garis depan pertahanan Iran dan upaya diplomatiknya.
Diplomat senior Iran tersebut menggambarkan medan perang dan diplomasi sebagai “front yang terkoordinasi penuh dalam perang yang sama". Ia menggarisbawahi, bahwa setiap respons, baik militer, ilmiah, maupun politik, adalah bagian dari strategi tunggal dan terpadu untuk mempertahankan kedaulatan Iran dan mendukung poros perlawanan terhadap agresi Zionis.
"Rakyat Iran bersatu, lebih dari sebelumnya," kata Araghchi, menyoroti tekad nasional yang semakin kuat dalam menghadapi ancaman, sanksi, dan provokasi eksternal.
Dari tingkat kepemimpinan tertinggi di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei hingga setiap lembaga di seluruh negeri, Iran terus memajukan pencapaian ilmiahnya, memperkuat kemampuan pertahanannya, dan memperluas pengaruh regionalnya meskipun rezim teroris Israel berulang kali berupaya menabur perselisihan melalui pembunuhan yang ditargetkan dan operasi bendera palsu.
"Ketergantungan Israel pada terorisme menunjukkan kebangkrutan strategisnya. Karena tidak mampu menantang Iran melalui cara konvensional atau di medan perang, rezim Zionis memilih menggunakan pembunuhan, sebuah tindakan kriminal yang dikecam secara universal sebagai pelanggaran hukum internasional dan martabat manusia dasar," ujar Araghchi.
Namun, setiap kejahatan semacam itu justru semakin memperkuat tekad bangsa Iran, mempercepat langkahnya menuju kemandirian penuh dan kedalaman strategis yang lebih besar.
Kamis kemarin, tiga pimpinan eksekutif, legislatif, dan yudisial Iran mengeluarkan tanggapan bersama kepada Presiden AS Donald Trump, mengecam pernyataannya tentang "perpecahan antara ekstremis dan moderat di Iran sebagai provokasi yang tidak beralasan.
Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni Ejei menyampaikan pesan yang kuat kepada Trump, menekankan tema bersama tentang persatuan nasional dan perlawanan. (*)
Apa Reaksi Anda?