Trump Klaim Netanyahu Akan Ikuti Keputusannya soal Iran
Donald Trump mengatakan Benjamin Netanyahu akan mengikuti keinginannya terkait Iran. AS dan Israel dilaporkan berbeda pandangan soal kelanjutan perang dan negosiasi dengan Teheran.
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan mengikuti keputusan yang diambil Washington terkait konflik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah keduanya berbicara melalui telepon mengenai kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran, di tengah perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel soal langkah berikutnya.
Trump: Netanyahu Akan Lakukan Apa yang Saya Inginkan
Saat berbicara kepada wartawan pada Rabu (20/5/2026), Trump mengatakan dirinya belum terburu-buru menyelesaikan kesepakatan dengan Iran, tetapi negosiasi disebut sudah memasuki tahap akhir.
“Kita lihat saja nanti apa yang terjadi,” kata Trump.
Ketika ditanya mengenai keinginan Netanyahu untuk kembali melancarkan aksi militer, Trump menjawab tegas.
“Dia pria yang sangat baik. Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan,” ujar Trump.
Pernyataan ini muncul setelah laporan media Israel menyebut percakapan telepon Trump dan Netanyahu berlangsung cukup tegang terkait kelanjutan perang yang dimulai pada 28 Februari 2026.
AS dan Israel Berbeda Strategi Hadapi Iran
Baik Amerika Serikat maupun Israel sama-sama menolak kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. Namun, kedua negara dilaporkan berbeda pendekatan.
Trump cenderung memilih jalur diplomasi untuk menghentikan program nuklir Iran dan mengakhiri perang, sedangkan Netanyahu disebut lebih mendukung opsi militer untuk menekan Teheran.
Sejumlah pejabat Israel khawatir Washington akan menawarkan kesepakatan yang dianggap terlalu lunak demi menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Isi Proposal Amerika Serikat
Dalam proposal yang diajukan Washington, Iran diminta untuk menyerahkan 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Membatasi aktivitas nuklir hanya di satu fasilitas. Menyetujui gencatan senjata yang bergantung pada proses negosiasi. Tidak menuntut reparasi perang. Menerima pencairan sebagian aset yang dibekukan.
Sebaliknya, Iran menginginkan penghentian perang di seluruh front, pencabutan semua sanksi, kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz.
Iran Tegaskan Tidak Akan Menyerah
Di Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan hak-hak fundamental.
Ia menuduh Amerika Serikat masih berupaya memulai kembali perang sambil menekan Iran melalui jalur ekonomi dan politik.
Menurut Ghalibaf, Teheran tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang adil.
Diplomasi Timur Tengah Berperan
Trump sebelumnya mengungkap bahwa ia sempat membatalkan serangan udara terhadap Iran pada menit-menit terakhir setelah mendapat permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud memuji keputusan Trump yang memberi kesempatan bagi diplomasi untuk mengakhiri perang.
Program Nuklir Iran Jadi Isu Utama
Program nuklir Iran tetap menjadi hambatan terbesar dalam proses perdamaian. Amerika Serikat menawarkan pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas penghentian ambisi nuklir Teheran.
Namun hingga kini, Iran disebut belum menerima proposal tersebut.
Perbedaan pendekatan antara Trump dan Netanyahu menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Israel memiliki tujuan yang sama, jalan menuju penyelesaian konflik Iran masih dipenuhi tarik ulur strategi diplomasi dan tekanan militer.(*)
Apa Reaksi Anda?