Gaza Selatan Disebut Hilang dari Peta, Citra Satelit Ungkap Luasnya Kehancuran Akibat Perang

Citra satelit terbaru menunjukkan perubahan besar di Gaza Selatan akibat perang yang berkepanjangan.

Juni 2, 2026 - 12:01
Gaza Selatan Disebut Hilang dari Peta, Citra Satelit Ungkap Luasnya Kehancuran Akibat Perang

JAKARTA - Dunia internasional dinilai belum mampu menghentikan kehancuran yang terus terjadi di Palestina. Di tengah konflik yang berkepanjangan, sejumlah laporan menyebut wilayah Gaza Selatan mengalami perubahan besar akibat pemboman, penghancuran bangunan, dan operasi militer yang berlangsung selama perang.

Citra satelit terbaru menunjukkan perubahan lanskap yang signifikan di Gaza Selatan seiring meluasnya area yang berada di bawah kendali Israel.

Sebelumnya, Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, menegaskan bahwa seluruh wilayah Gaza harus tetap menjadi bagian dari Palestina. Pernyataan itu disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan rencana perluasan kendali Israel atas sebagian besar wilayah Jalur Gaza.

Dilansir Al Jazeera, peta udara terbaru memperlihatkan kerusakan luas yang mencakup kawasan permukiman, lahan pertanian, hingga pemakaman di berbagai wilayah Gaza.

Jurnalis Palestina, Muhannad Qishta, mengaku kesulitan menemukan makam dua saudara perempuannya, Reem dan Walaa, di Khan Younis, Gaza Selatan. Menurutnya, lokasi pemakaman yang dahulu dikenalnya kini tidak lagi mudah dikenali.

Pemakaman Sheikh Mohammed di kawasan Maan, Khan Younis, dilaporkan telah berubah menjadi area yang digunakan untuk aktivitas militer.

“Bahkan orang mati pun tidak luput dari perang ini,” kata Qishta.

“Bagaimana perasaanku jika aku pergi dan mendapati tempat itu menjadi gurun, tanpa makam saudara perempuanku untuk memanjatkan doa?” lanjutnya.

Qishta yang kini tinggal di tenda pengungsian di Khan Younis mengaku belum dapat mengunjungi makam keluarganya setelah operasi militer mengubah kawasan tersebut secara drastis.

Foto-foto satelit beresolusi tinggi yang diambil pada 25 Februari 2026 memperlihatkan lingkungan yang mengalami kerusakan berat. Di sisi lain, warga yang selamat tampak bertahan di kawasan pengungsian yang terus meluas hingga mendekati pesisir Laut Mediterania.

Bagi banyak warga Palestina, gambaran dari udara tersebut menunjukkan besarnya dampak perang yang masih berlangsung hingga saat ini.

Menurut Euro-Med Human Rights Monitor, sebagian besar pemakaman di Gaza mengalami kerusakan, sementara sejumlah lokasi bersejarah dilaporkan telah berubah fungsi selama konflik berlangsung.

Mengubah Geografi dan Ingatan

Citra satelit menunjukkan sejumlah pusat permukiman utama mengalami perubahan besar hingga sulit dikenali dibandingkan kondisi sebelum perang.

Di Rafah, tingkat kerusakan yang luas membuat sejumlah kawasan permukiman nyaris tidak dapat dibedakan satu sama lain.

Lingkungan Saudi di Tal as-Sultan, yang sebelumnya merupakan kompleks perumahan dengan ratusan unit hunian, kini hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Rafah sendiri menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dalam operasi militer yang berlangsung sejak 2024.

Pemandangan udara Rafah saat ini memperlihatkan sebagian besar kawasan perkotaan telah mengalami kerusakan berat, dengan hanya menyisakan jejak jalan dan fondasi bangunan.

Di bagian barat Rafah, kawasan yang dikenal sebagai Kamp Swedia Rafah juga dilaporkan mengalami perubahan besar. Sebelum perang, kawasan tersebut dihuni sekitar 1.300 penduduk yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor perikanan.

Wilayah itu dibangun pada 1965 dengan dukungan internasional untuk menampung pengungsi Palestina dan berkembang menjadi komunitas pesisir yang aktif. Namun, citra satelit terbaru menunjukkan sebagian besar kawasan tersebut telah berubah secara signifikan.

Pos Perbatasan Rafah yang sebelumnya menjadi akses utama warga Gaza menuju dunia luar juga mengalami kerusakan besar. Infrastruktur yang dahulu melayani perlintasan penumpang dan bantuan kemanusiaan kini tidak lagi berfungsi sebagaimana sebelumnya.

Kerusakan juga terlihat di wilayah Bani Suhaila, Abasan, dan al-Zana di bagian timur Khan Younis. Sebelum perang, kawasan ini termasuk daerah permukiman dan pertanian yang padat penduduk.

Setelah mengalami pemboman dan penghancuran, sebagian besar warga terpaksa mengungsi ke kamp-kamp darurat di Al-Mawasi maupun ke wilayah lain yang masih dapat dihuni.

Kompleks perumahan Hamad City di Khan Younis yang dibangun dengan dukungan dana Qatar juga mengalami kerusakan berat. Proyek senilai 135 juta dolar AS tersebut sebelumnya terdiri atas 53 bangunan apartemen dengan sekitar 3.000 unit hunian dan dihuni ribuan keluarga.

Pendidikan dan Pertanian Ikut Terdampak

Kerusakan akibat perang tidak hanya menimpa kawasan permukiman, tetapi juga fasilitas pendidikan.

UNICEF melaporkan lebih dari 97 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau hancur. Kondisi ini menyebabkan sekitar 658 ribu anak kehilangan akses pendidikan formal selama lebih dari dua tahun.

Sejumlah universitas besar di Gaza juga dilaporkan mengalami kerusakan berat. Universitas Islam Gaza dan Universitas Al-Azhar, yang sebelumnya menampung puluhan ribu mahasiswa, termasuk di antara institusi pendidikan yang terdampak konflik.

Sementara itu, lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber pangan utama warga Gaza turut mengalami penyusutan drastis.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), kurang dari lima persen lahan pertanian Gaza yang masih dapat digunakan secara optimal.

Di sejumlah wilayah, rumah kaca dan area pertanian yang sebelumnya menghasilkan sayuran serta buah-buahan kini tidak lagi berfungsi.

“Pemandangan mencari makanan sangat mengerikan, dan kita berada di ambang kelaparan yang bisa muncul kapan saja,” kata jurnalis Palestina, Ola Abu Moamer, kepada Al Jazeera.

Ia menuturkan banyak keluarga kembali dari dapur umum tanpa membawa makanan karena keterbatasan pasokan yang tersedia.

Saat ini, sekitar 1,9 juta warga Palestina dilaporkan mengungsi di dalam wilayah Gaza. Sebagian besar dari mereka harus berpindah tempat berkali-kali akibat situasi keamanan yang terus berubah.

Pendudukan yang Kian Meluas

Dokumentasi visual mengenai kerusakan di Gaza muncul di tengah pernyataan pemerintah Israel terkait perluasan kendali wilayah.

Dalam rekaman yang disiarkan media Israel Channel 12, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut pihaknya telah menguasai sebagian besar wilayah Jalur Gaza dan berencana memperluas area kendali tersebut.

Sejumlah analis menilai perkembangan tersebut berpotensi bertentangan dengan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat.

Meski terdapat upaya gencatan senjata, berbagai laporan menyebut pelanggaran dan aksi kekerasan masih terus terjadi di lapangan.

Perwakilan Dewan Perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov, bahkan memperingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa situasi yang terus memburuk berisiko menjadi kondisi permanen apabila tidak segera ditemukan solusi politik yang berkelanjutan.

Bagi warga Palestina yang hidup di tengah konflik, kerusakan fisik hanyalah sebagian dari penderitaan yang mereka alami.

“Satelit memotret bangunan-bangunan yang hancur, tetapi mereka tidak bisa mendokumentasikan perasaan manusia yang mencari rumahnya tanpa hasil,” kata Qishta.

“Hal tersulit bukanlah kehancuran itu sendiri, tetapi kisah-kisah yang terkubur di baliknya,” tambahnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow