Tidak hanya Apel dan Jeruk, Kesemek Glowing jadi Buah Premium Idola Kota Batu

Sudarmono, yang akrab disapa Momon, berhasil mengubah citra kesemek yang selama ini hanya dianggap tanaman pelengkap menjadi buah bernilai ekonomi tinggi di Kota Batu.

Juli 24, 2026 - 17:33
Tidak hanya Apel dan Jeruk, Kesemek Glowing jadi Buah Premium Idola Kota Batu

BATU - Di tengah dominasi apel dan jeruk sebagai buah khas Kota Batu, sebuah komoditas lokal mulai mencuri perhatian. Berasal dari Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, buah kesemek kini tampil dengan wajah baru setelah melalui proses budidaya dan pengolahan yang dikembangkan selama bertahun-tahun oleh seorang pemuda setempat.

Sudarmono, yang akrab disapa Momon, berhasil mengubah citra kesemek yang selama ini hanya dianggap tanaman pelengkap menjadi buah bernilai ekonomi tinggi. Berbekal riset selama tujuh tahun, ia menghasilkan 'kesemek glowing', buah dengan kulit mengilap, rasa lebih manis, serta daya simpan yang lebih lama dibanding kesemek pada umumnya.

"Prosesnya tidak instan. Kami berkali-kali gagal sampai akhirnya menemukan cara yang tepat agar tampilannya lebih menarik dan kualitasnya meningkat. Sekarang pasar mulai menerima dengan sangat baik," ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Kesemek telah lama tumbuh di kawasan Junggo yang berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Iklim sejuk di wilayah tersebut dinilai sangat cocok untuk mendukung pertumbuhan tanaman dari marga Diospyros itu. 

"Namun selama puluhan tahun, keberadaannya hanya dijadikan tanaman sela dan belum dikelola sebagai komoditas unggulan," urainya.

Melalui inovasi yang dikembangkannya, Momon menggunakan teknik khusus untuk mengurangi getah alami pada buah sehingga menghasilkan tekstur dan rasa yang lebih baik. Ia mengaku menggunakan campuran bahan pangan dalam proses tersebut, meski tidak bersedia mengungkapkan formulanya karena merupakan hasil penelitian pribadi.

"Untuk tantangan terbesar bukan hanya membuat kesemek tampil menarik, tetapi juga memperpanjang masa simpannya," paparnya.

Jika sebelumnya buah hanya bertahan beberapa hari, kini kesemek hasil produksinya mampu bertahan hingga dua pekan di daerah bersuhu dingin dan sekitar satu minggu di wilayah bercuaca panas.

Berkat peningkatan kualitas tersebut, nilai jual kesemek ikut terdongkrak. Untuk kualitas premium atau grade A, harga berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, sedangkan grade B dipasarkan antara Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Dalam satu pekan, Momon mampu mengirim sekitar dua ton kesemek ke berbagai daerah, termasuk Jakarta, Surabaya, dan sejumlah kota besar lainnya melalui jaringan swalayan.

"Meski permintaan terus meningkat, produksi masih menjadi tantangan. Pasalnya, jumlah petani kesemek di Junggo masih terbatas. Rata-rata setiap petani hanya memiliki satu hingga 20 pohon dengan musim panen yang berlangsung antara Mei hingga Juli," ungkapnya.

Momon menilai kesemek asal Kota Batu memiliki peluang menembus pasar ekspor apabila produksi dan kualitasnya terus ditingkatkan. Karena itu, ia berharap ada pendampingan dari pemerintah untuk memperluas budidaya sekaligus membuka akses pasar internasional.

"Kami optimistis kesemek bisa menjadi buah unggulan baru Kota Batu. Potensinya besar, tetapi perlu dukungan agar produksinya meningkat dan mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri," tuturnya.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow