Tamiya Bukan Sekadar Mainan, Demam Mini 4WD Kembali Menggila di Malang
Hobi Tamiya atau Mini 4WD kembali bangkit pascapandemi. Kompetisi Damperstyle di MCC Malang menyedot peserta dari berbagai kota dengan hadiah Rp10 juta.
MALANG - Jika Anda mengira Mini 4WD atau yang akrab disebut Tamiya hanyalah mainan plastik anak-anak era 90-an, Anda keliru. Di tangan para pecintanya saat ini, mobil-mobil mini tersebut telah menjelma menjadi hobi teknikal tingkat tinggi yang penuh gengsi dan memacu adrenalin.
Sejarah mencatat demam Tamiya di Indonesia pertama kali meledak pada tahun 1990-an berkat pengaruh anime televisi. Sempat mengalami pasang surut, hobi ini justru menemukan momentum kebangkitan barunya pascapandemi Covid-19. Para anak-anak era 90-an yang kini telah dewasa kembali turun ke lintasan untuk memuaskan kerinduan masa kecil mereka. Ekosistem ini pun berevolusi menjadi lebih terstruktur melalui berbagai gelaran kompetisi yang rutin berpindah dari mal ke mal, hotel, hingga ruang publik.
Semangat baru inilah yang terlihat jelas dalam gelaran bertajuk "Damperstyle" yang diselenggarakan di Malang Creative Center (MCC) pada Minggu (17/5/2026). Memanfaatkan Multi Purpose Area MCC, acara ini berlangsung maraton sejak pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Suasana riuh para peserta dan pengunjung saat menyaksikan ketatnya sesi pencarian kupon balap Tamiya di Multi Purpose Area MCC Malang. (Foto: Ais Tri Wanda Wahyu Safira/TIMES Indonesia)
Kompetisi skala besar ini diinisiasi oleh komunitas lokal, yakni Tamiyazone. Serta mendapat dukungan dari berbagai sponsor besar seperti Djarum 76. Tidak tanggung-tanggung, total hadiah yang diperebutkan dalam ajang adu cepat ini mencapai Rp10 juta.
Daya tarik kompetisi ini sukses menyedot perhatian lebih dari 40 pemain. Menariknya, mereka tidak hanya datang dari lingkup Malang Raya saja, melainkan berbondong-bondong datang dari luar kota seperti Blitar hingga Surabaya. Pemandangan di lokasi pun terbilang unik. Para peserta tampak sibuk membawa boks besar berisi peralatan servis, suku cadang, dan peralatan modifikasi yang presisi.
Atmosfer kompetisi terasa sangat gigih. Setiap kali mobil Tamiya mereka terlempar keluar lintasan saat melewati rintangan lompatan, para peserta tidak menyerah. Mereka dengan cekatan langsung mengambil mobilnya, melakukan evaluasi teknis, mengantre ulang, dan mencoba lagi. Kejelian mata dan ketenangan mekanik benar-benar diuji, sebab sedikit saja kesalahan setelan pada mobil seharga jutaan rupiah ini bisa membuat mereka kehilangan momentum.
Sistem kompetisi yang unik ini dijelaskan oleh salah satu perwakilan peserta asal Lawang, Marti, yang bersama anak dan suaminya bertanding.
"Pendaftarannya enam ratus ribu rupiah untuk empat pembalap. Nanti sesi pertama itu sistemnya cari kupon dari jam 11 siang. Kita dapat jatah kupon buat main, nah kalau Tamiya-nya keluar lintasan (lontang) atau waktunya melebihi limit, kupon itu hilang," ujar Marti saat ditemui sebelum balapan dimulai.
Marti menambahkan bahwa para peserta harus berpacu dengan waktu dalam mengumpulkan kupon kelolosan ini. "Nanti sekitar jam 6 sore baru mulai lomba utamanya (babak kedua). Mobil-mobil diadu lagi sampai finish untuk dapat kupon ke babak ketiga. Begitu terus sampai final. Dicari juara 1, 2, dan 3. Jadi ya tergantung mobilnya stabil apa ndak," lanjutnya.
Peserta mempersiapkan boks servis dan peralatan lengkap untuk mengantisipasi kerusakan sasis atau mesin. (Foto: Ais Tri Wanda Wahyu Safira/TIMES Indonesia)
Event “Damperstyle” di MCC tidak hanya menjadi hiburan bagi pengunjung, tetapi juga memperlihatkan sisi positif hobi Tamiya dalam melatih kreativitas dan ketelitian. (*)
Pewarta: Ais Tri Wanda Wahyu Safira
Apa Reaksi Anda?