Seni Terrarium Jadi Media Literasi dan Healing Pegawai MPR RI

Perpustakaan MPR RI bersama Terramori menggelar literasi kreatif seni terrarium bertema pohon sukun dan nilai Pancasila untuk mendorong kreativitas serta semangat kebangsaan pegawai.

Mei 14, 2026 - 09:30
Seni Terrarium Jadi Media Literasi dan Healing Pegawai MPR RI

JAKARTA - Perpustakaan MPR RI berkolaborasi dengan Terramori menggelar kegiatan Literasi Kreatif bertema “Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila” di Ruang Perpustakaan MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan semangat literasi, kreativitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.

Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, Deputi Bidang Administrasi sekaligus Plt Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi MPR RI Heri Herawan, Pustakawan Ahli Madya Yusniar, pejabat eselon III dan IV, pejabat fungsional, serta pegawai di lingkungan Setjen MPR RI.

Founder Terramori, Valentino Putra Budiman, turut hadir membimbing pelatihan pembuatan terrarium. Seni terrarium merupakan teknik menata tanaman kecil, lumut, batu, dan pasir dalam wadah kaca transparan yang membentuk miniatur ekosistem alami atau kerap disebut “hutan dalam botol”.

Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 yang menempatkan perpustakaan sebagai ruang pengembangan diri, kreativitas, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Siti Fauziah mengapresiasi Perpustakaan MPR RI atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi kreatif tidak hanya menjadi aktivitas seni, tetapi juga sarana membangun karakter dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Siti Fauziah yang akrab disapa Titi mengaku senang melihat antusiasme peserta dari berbagai generasi, termasuk keterlibatan peserta laki-laki dalam kegiatan tersebut.

“Saya senang karena kegiatan seperti ini biasanya didominasi peserta perempuan, tetapi hari ini Alhamdulillah ada peserta laki-laki juga dan generasinya cukup berimbang. Artinya kegiatan ini bisa diterima oleh semua kalangan,” ujarnya.

Siti Fauziah

Ia menjelaskan, tema pohon sukun dipilih karena memiliki makna historis dan ideologis yang berkaitan dengan masa pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

“Pohon sukun bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta. Di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak membuat karya terrarium, tetapi juga memahami nilai kesabaran, ketelitian, disiplin, hingga kemampuan berimajinasi. Menurutnya, seluruh tahapan penyusunan terrarium memiliki filosofi yang relevan dengan dunia kerja.

“Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian. Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari,” ungkapnya.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal MPR RI itu juga menceritakan pengalamannya saat menyusun batu kerikil dalam terrarium. Baginya, proses tersebut menggambarkan tantangan dalam organisasi maupun pekerjaan.

“Saya ingin membuat susunan batu seperti tangga, tetapi batunya tidak selalu nurut. Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik,” tuturnya.

Selain menjadi ruang pengembangan kreativitas, kegiatan ini juga dinilai mampu menjadi sarana penyegaran di tengah rutinitas pekerjaan.

“Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja. Dengan meluangkan waktu sejenak, kita bisa membangun semangat baru untuk kembali menjalankan tugas,” katanya.

Salah satu peserta, Vidya Palupi, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan, praktik membuat terrarium ternyata tidak semudah yang terlihat di media sosial.

“Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang saja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya. Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial,” ujarnya.

Vidya berharap kegiatan literasi kreatif seperti itu dapat lebih sering diselenggarakan karena memberi suasana berbeda di tengah rutinitas kerja.

“Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat. Kegiatan ini juga sesuai dengan namanya, menambah kreativitas kami,” katanya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow