Satu Abad Tetelo di Indonesia, Dosen UGM Kembangkan Vaksin ND dari Isolat Lokal

UGM kembangkan vaksin Newcastle Disease berbasis isolat lokal genotipe VII-i untuk lebih efektif lindungi unggas Indonesia, tingkatkan produktivitas dan daya saing industri perunggasan.

April 16, 2026 - 22:33
Satu Abad Tetelo di Indonesia, Dosen UGM Kembangkan Vaksin ND dari Isolat Lokal
YOGYAKARTA -

Seratus tahun sejak pertama kali ditemukan di Indonesia, penyakit Newcastle Disease (ND) atau tetelo masih menjadi ancaman serius bagi industri perunggasan. Menjawab tantangan tersebut, peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) kini mengembangkan vaksin ND berbasis isolat lokal agar lebih efektif melawan virus yang terus bermutasi.

ND merupakan penyakit menular yang disebabkan virus Avian orthoavulavirus-1. Penyakit ini dikenal sangat ganas karena dapat menyerang sistem pernapasan, pencernaan, hingga saraf unggas, serta menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Indonesia pada Maret 1926 di Batavia oleh peneliti Belanda, Kraneveld, dan sempat dikenal sebagai Batavia Disease.

Pakar virologi veteriner FKH UGM, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, menjelaskan bahwa dampak ND tidak hanya pada kematian unggas, tetapi juga menurunkan produksi telur, menghambat pertumbuhan, serta meningkatkan biaya pengendalian penyakit.

“ND menjadi salah satu faktor utama yang menghambat produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan unggas,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Selama ini, pengendalian ND mengandalkan vaksin berbasis strain klasik seperti LaSota (genotipe II). Namun, kondisi di lapangan telah berubah. Virus yang kini dominan adalah genotipe VII, khususnya sub-genotipe VII-i, yang lebih virulen dan menyebar luas.

Perbedaan antara strain vaksin dan virus yang beredar menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, pendekatan vaksin yang disesuaikan dengan genotipe virus di lapangan dinilai lebih efektif dalam memberikan perlindungan.

Melalui riset yang dilakukan, tim FKH UGM melakukan analisis menyeluruh terhadap virus ND, mulai dari pengambilan sampel, studi gen penting, hingga pemetaan genetik lengkap.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus ND di Indonesia saat ini didominasi oleh genotipe VII-i yang bersifat ganas,” jelas Haryadi.

Berangkat dari temuan tersebut, tim peneliti mengembangkan vaksin berbasis isolat lokal. Mereka berhasil menyeleksi isolat virus ND sub-genotipe VII-i asal Indonesia yang memiliki karakteristik stabil, mampu berkembang baik, dan telah lolos uji molekuler.

Isolat ini dinilai memenuhi syarat sebagai kandidat seed virus untuk pengembangan vaksin ND inaktif yang lebih relevan dengan kondisi lapangan.

Untuk mempercepat pengembangan, UGM juga bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan vaksin kombinasi Newcastle Disease dan Avian Influenza (ND-AI), yang memberikan perlindungan ganda terhadap dua penyakit unggas utama.

“Pengembangan vaksin berbasis isolat lokal menjadi langkah penting agar pengendalian penyakit lebih efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.

Inisiatif ini menjadi contoh sinergi antara dunia akademik dan industri dalam menjawab persoalan nyata di sektor peternakan. Dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan virus, vaksin yang dikembangkan diharapkan mampu menekan penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan kesehatan unggas.

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri perunggasan nasional dan menjaga keberlanjutan produksi di tengah ancaman penyakit yang terus berkembang. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow