IBC Kerja Sama dengan ASBF dan TMC Dorong UKM Manfaatkan AI untuk Tembus Pasar Global

Indonesia Business Council Australia (IBC) bersama Asia Small Business Federation (ASBF) dan Trisakti Marketing Club (TMC) mendorong pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

April 17, 2026 - 08:30
IBC Kerja Sama dengan ASBF dan TMC Dorong UKM Manfaatkan AI untuk Tembus Pasar Global

Indonesia Business Council Australia (IBC) bersama Asia Small Business Federation (ASBF) dan Trisakti Marketing Club (TMC) mendorong pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia untuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) guna memperluas pasar hingga ke tingkat global.

Dorongan tersebut disampaikan dalam seminar hybrid bertajuk “Navigating Our Future Together: Boosting Export Growth Through AI” yang digelar di Auditorium D, Kampus A Universitas Trisakti, Jakarta pada Kamis (16/4/2026).

Dalam seminar ini, welcoming speech diberikan oleh Eric Pradjonggo (Founder Trisakti Marketing Club), Kristoforus Hendra Djaya (CEO Asia Small Business Federation) dan Josep Rustam (President Indonesia Business Council Australia).

Acara ini dibuka oleh Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. Pada kesempatan ini, beliau juga mengingatkan bahwa penggunaan AI telah masuk dalam segala bidang, dengan membawa segala manfaat dan resikonya. Oleh karena itu pengusaha harus bijak dan waspada dalam mengelolanya. 

Founder & Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, yang menjadi salah satu narasumber, menegaskan bahwa UKM tidak cukup hanya mengandalkan AI secara terpisah. Menurutnya, pemanfaatan AI harus didukung oleh platform yang terintegrasi serta operasional yang unggul.

“AI kalau berdiri sendiri tidak cukup untuk menembus pasar ekspor. UKM harus memiliki platform, dan yang tidak kalah penting adalah operation excellence,” kata Hermawan.

Ia menjelaskan, untuk bersaing di pasar global, pelaku UKM perlu memperhatikan empat aspek utama yang dikenal sebagai QCDS, yakni quality (kualitas), cost (biaya), delivery (pengiriman), dan service (layanan).

Menurutnya, produk yang serupa dengan negara lain tetap dapat bersaing jika memiliki harga yang lebih kompetitif. Hal ini hanya bisa dicapai apabila biaya produksi ditekan tanpa mengorbankan kualitas.

Quality harus minimal sama, tapi harga harus lebih kompetitif. Kalau cost tidak rendah, sulit bersaing. Delivery juga harus cepat dan service harus bagus,” jelasnya.

JAKARTA - IBC

Hermawan juga menyoroti bagaimana negara seperti China mampu unggul dalam persaingan global karena berhasil memadukan pemanfaatan AI dengan keunggulan operasional.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah perilaku pasar dan cara komunikasi bisnis. Konsumen kini semakin mengandalkan AI dalam proses pengambilan keputusan, sehingga pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi mereka.

“Sekarang bukan lagi sekadar human, tapi augmented human. Informasi sudah difilter oleh AI. Selain itu, pasar juga semakin terfragmentasi, sehingga pesan yang disampaikan tidak bisa lagi satu untuk semua,” tuturnya.

Ia mengingatkan, tanpa memanfaatkan AI, pelaku usaha berisiko tertinggal karena sistem rekomendasi berbasis AI semakin menentukan visibilitas produk di pasar digital.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi turut hadir dan memberikan informasi terkait perkembangan neraca perdagangan antara Indonesia dengan negara lain, khususnya dengan Australia. Meskipun ekspor meningkat, tapi neraca perdagangan Indonesia dengan Australia masih negatif. Puntodewi menyoroti pemanfaatan perjanjian IACEPA (Indonesia Australia Comprehensive Economic Participation Agreement) yang masih dibawah 1.25% 

Seminar ini juga menampilkan 5 pembicara, yaitu Taufik Machrus (Subject Matter Expert LPPI – Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia), Purwo Adi Nugroho (Director ATTAX Indonesia), Bayu Eka Putra (COO Mimin.io), Rizky Valbury Agung Saputra (Entrepreneur and Praktisi Digital Marketing) dan Rendy Maulana Akbar (Direktur PT Qwords Company International). Moderator dalam seminar ini adalah Dr. Hermanto Yaputra yang juga menerima penghargaan IBC Awards 2026 dalam seminar ini atas jasa dan jerih-payahnya dalam mengembangkan IBC. 

Sementara itu, Renny Winarto, Owner/Founder brand UN White Noise yang juga menjadi anggota IBC, menilai seminar tersebut memberikan banyak manfaat, terutama dalam membangun jaringan dan memperbarui wawasan terkait pemasaran.

“Acara ini menghubungkan kami dengan orang-orang yang sejalan. Kami jadi lebih optimistis bahwa produk Indonesia bisa bersaing di pasar global,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran AI dalam mendukung perjalanan bisnis, mulai dari pengolahan data hingga strategi pemasaran.

“AI membantu memperlancar perjalanan bisnis, terutama dari sisi data. Tinggal bagaimana kita menentukan tujuan dan memanfaatkan AI sebagai alat pendukung,” katanya.

Menurutnya, pelaku usaha perlu memastikan bisnis mereka berjalan seiring dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal di tengah persaingan global yang semakin ketat.

“Jangan sampai saat orang mencari produk terbaik dari Indonesia, brand kita tidak muncul. Itu berarti kita kalah dalam pemanfaatan teknologi,” ujarnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow