Riset BRIN, Risiko Siklon Tropis di Indonesia Semakin Meningkat
Perlu kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. Semakin siap, semakin kecil risiko di masa depan.
JAKARTA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia kini semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis. Perubahan iklim dan peningkatan suhu laut disebut mendorong pergeseran wilayah pembentukan siklon yang semakin mendekati Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, mengatakan selama ini Indonesia dianggap relatif aman karena berada di dekat garis khatulistiwa.
Namun, kondisi tersebut kini tidak lagi sepenuhnya berlaku.
"Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita," jelas Yosef dalam laman BRIN dikutip Minggu (8/3/2026).
Berdasarkan analisis data periode 1990 hingga 2023, BRIN mencatat ratusan siklon terjadi di wilayah selatan Indonesia. Bahkan puluhan di antaranya terbentuk langsung di dalam wilayah Indonesia.
Pergeseran pola ini menunjukkan adanya perubahan dinamika cuaca yang perlu diwaspadai.
Salah satu dampak nyata siklon tropis pernah terjadi saat Siklon Seroja melanda pada 2021. Peristiwa tersebut memicu hujan ekstrem, banjir bandang, serta menimbulkan korban jiwa di Nusa Tenggara Timur.
BRIN juga menemukan kombinasi sejumlah faktor cuaca global dan suhu laut yang lebih hangat membuat cuaca ekstrem lebih mudah terjadi dan berlangsung lebih lama.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BRIN bersama BMKG mengembangkan sistem prediksi berbasis kecerdasan buatan yang dapat memperkirakan potensi pembentukan siklon beberapa hari sebelum terjadi.
"Kami Pusat Riset Iklim dan Atmosfer mengembangkan model prediksi yang dapat membantu sistem peringatan dini menjadi lebih akurat. Dengan informasi yang lebih cepat dan tepat, risiko korban dapat ditekan," ujar Yosef.
Selain penguatan teknologi, BRIN menilai kesiapan infrastruktur dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca juga menjadi kunci mitigasi bencana.
"Mitigasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. Semakin siap kita hari ini, semakin kecil risiko di masa depan," tegas Yosef. (*)
Pewarta : Abdul Mutakim
Apa Reaksi Anda?