Rhemedi Medical Services Deklarasikan Inisiatif Radiogenomics di Indonesia melalui Momentum Hari Kartini di MPR RI

Momentum peringatan Hari Kartini di lingkungan MPR RI tahun ini menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni.

Mei 13, 2026 - 19:30
Rhemedi Medical Services Deklarasikan Inisiatif Radiogenomics di Indonesia melalui Momentum Hari Kartini di MPR RI

JAKARTA - Momentum peringatan Hari Kartini di lingkungan MPR RI tahun ini menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni. Dalam kegiatan bertajuk “Kartini Masa Kini: Budayakan Deteksi Dini”, sebuah langkah strategis dalam transformasi layanan kesehatan Indonesia mulai diwujudkan secara nyata.

Melalui kegiatan ini, Rhemedi Medical Services secara resmi mendeklarasikan inisiatif pengembangan radiogenomics di Indonesia, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan radiologi dan genomik untuk memahami risiko penyakit secara lebih personal, lebih awal, dan lebih terarah. Deklarasi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi langsung diwujudkan melalui rangkaian kegiatan yang memadukan edukasi publik, kolaborasi lintas disiplin, serta implementasi layanan kesehatan secara langsung di lokasi kegiatan.

Sejak pagi, masyarakat mulai berdatangan dengan berbagai latar belakang dan motivasi, namun dengan satu tujuan yang sama, yaitu memastikan kondisi kesehatannya sebelum muncul gejala. Dalam satu hari, hampir 200 pemeriksaan kesehatan berhasil dilakukan, dengan sekitar 130 pemeriksaan payudara dan 70 pemeriksaan abdomen menggunakan ultrasonografi. Angka ini bukan sekadar capaian operasional, melainkan cerminan kebutuhan nyata masyarakat terhadap layanan deteksi dini yang mudah diakses dan relevan.

Namun lebih dari sekadar angka, kegiatan ini menjadi titik temu berbagai pendekatan yang selama ini berjalan secara terpisah. Dalam satu alur layanan yang terintegrasi, peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan radiologi oleh Rhemedi Medical Services, tetapi juga mendapatkan pemeriksaan klinis payudara dan edukasi kesehatan melalui program Selangkah dari Siloam Hospital, serta pengambilan sampel genomik yang difasilitasi oleh Tanya DNA dari GSI Lab. Integrasi ini menjadi fondasi awal dari pendekatan baru dalam layanan kesehatan yang tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi.

Kehadiran Presiden Direktur Siloam Hospitals Group, David Utama, turut memperkuat dimensi kolaboratif dalam kegiatan ini. Dukungan tersebut tidak hanya bersifat institusional, tetapi juga lahir dari pengalaman pribadi yang mendalam. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bahwa kehilangan orang tua akibat kanker menjadi titik balik dalam cara pandangnya terhadap kesehatan, bahwa sering kali masyarakat datang ketika kondisi sudah terlambat untuk ditangani secara optimal. Pengalaman tersebut menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk mendukung setiap upaya yang mendorong deteksi dini sebagai budaya.

Di sisi lain, pendekatan komunikasi publik dalam kegiatan ini juga dirancang secara strategis. Kehadiran figur publik seperti Puteri Indonesia 2026, Agnes Rahajeng dan Puteri Indonesia 2025, dr. Melizza Xaviera tidak hanya menjadi simbol representasi perempuan Indonesia masa kini, tetapi juga menjadi jembatan antara dunia medis dan masyarakat luas. Melalui pendekatan ini, pesan kesehatan tidak hanya disampaikan secara ilmiah, tetapi juga dirasakan secara emosional dan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Founder Rhemedi Medical Services, dr. Rheza Maulana Syahputra, Sp.Rad, SH, MM, MARS, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah awal menuju sistem kesehatan berbasis medical intelligence (intelijen medis). Ia menyampaikan bahwa radiogenomics bukan sekadar teknologi baru, melainkan sebuah cara berpikir baru dalam memahami kesehatan manusia. Dengan menggabungkan data klinis, lab, data radiologi yang menggambarkan kondisi saat ini dengan data genomik yang merefleksikan risiko di masa depan, pendekatan ini memungkinkan tenaga medis untuk tidak hanya mendiagnosis, tetapi juga memprediksi dan mencegah penyakit sejak dini (rhemedi.com).

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Ibu Siti Fauziah, menegaskan bahwa semangat Kartini di era modern harus dimaknai sebagai keberanian perempuan dalam menjaga kesehatannya. Ia menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun budaya deteksi dini, yang dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga dalam lingkup keluarga dan bangsa secara keseluruhan. Menurutnya, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya nyata dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia yang lebih sehat dan berdaya.

Kegiatan ini pada akhirnya tidak hanya menjadi sebuah acara satu hari, tetapi menjadi sebuah titik awal. Sebuah langkah menuju pengembangan ekosistem deteksi dini berbasis integrasi antara gaya hidup sehat, pemeriksaan klinis, teknologi radiologi, dan analisis genomik. Sebuah pendekatan yang menggeser paradigma dari pengobatan setelah sakit menjadi pencegahan sebelum penyakit muncul.

Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan global, langkah seperti ini menjadi semakin relevan. Karena pada akhirnya, masa depan kesehatan tidak lagi ditentukan oleh seberapa cepat kita mengobati penyakit, tetapi seberapa dini kita mampu memahaminya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow