PM Jepang Desak Iran Pastikan Keamanan Jalur Kapal di Selat Hormuz
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menjamin kelancaran navigasi di Selat Hormuz yang lumpuh akibat konflik regional.
JAKARTA - Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menggelar pembicaraan via telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Senin (1/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Takaichi menyerukan pentingnya kelancaran dan jaminan keamanan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang saat ini secara efektif terisolasi akibat konflik.
Di tengah ketidakpastian proses negosiasi perdamaian untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, Takaichi menyampaikan kepada awak media bahwa dirinya menaruh ekspektasi tinggi terhadap sikap Teheran dalam meja perundingan.
Takaichi mengatakan kepada wartawan bahwa ia juga menyatakan "harapan besar” agar Iran "akan menunjukkan fleksibilitas dan bahwa kesepakatan dapat dicapai sesegera mungkin."
Komunikasi via telepon ini merupakan interaksi ketiga kalinya bagi kedua pemimpin sejak konflik bersenjata tersebut pecah pada akhir Februari lalu. Takaichi membeberkan bahwa dalam dialog tersebut, Presiden Pezeshkian memberikan laporan berkala mengenai perkembangan terkini dari dinamika negosiasi antara Iran dan AS.
Lebih lanjut, Takaichi dan Pezeshkian sepakat untuk terus mempertahankan komunikasi bilateral yang erat demi mendorong penyelesaian konflik. Langkah diplomasi ini mempertegas posisi unik Jepang; meskipun dikenal sebagai sekutu dekat Washington, Tokyo secara tradisional tetap merawat hubungan baik dan bersahabat dengan Teheran.
Dampak Pemblokiran Jalur Pasokan Energi Asia
Terkait situasi Selat Hormuz yang hingga kini masih ditutup, Takaichi mendesak agar akses jalur aman "segera diwujudkan untuk kapal-kapal dari semua negara, termasuk Jepang dan negara-negara Asia lainnya."
Sikap tegas Jepang ini bukan tanpa alasan. Banyak negara di kawasan Asia yang miskin sumber daya alam kini harus menghadapi guncangan ekonomi hebat. Kenaikan harga minyak mentah global dan kelangkaan komoditas utama menjadi ancaman nyata, mengingat tingginya ketergantungan wilayah Asia pada pasokan energi Timur Tengah yang jalur logistik utamanya memotong Selat Hormuz.
Kendati situasi di selat tersebut masih genting, beberapa kapal yang terafiliasi dengan kepentingan Jepang dilaporkan mulai memberanikan diri untuk melintas. Salah satunya adalah kapal tanker yang dioperasikan oleh unit usaha raksasa penyulingan Idemitsu Kosan Co. Kapal tersebut berhasil bersandar di Jepang pada 25 Mei lalu, sekaligus menjadi kapal pertama yang sukses kembali ke negeri sakura sejak konflik pecah.
Di sisi lain, laporan dari sejumlah media AS dan Iran menyebutkan bahwa kedua belah pihak yang bertikai saat ini sedang menggodok revisi nota kesepahaman (MoU). Perubahan ini ditujukan untuk memperpanjang masa gencatan senjata mereka selama 60 hari ke depan. Sementara itu, sumber dari internal Pemerintah AS membocorkan bahwa tim negosiator sebenarnya telah menyepakati sebagian besar poin klausul perdamaian tersebut sejak pekan lalu. (*)
Apa Reaksi Anda?