Pesantren Ramadan Anak Marjinal, Hidupkan Harapan di Sudut Jakarta Utara

Setiap sore, puluhan anak usia 5 hingga 20 tahun membawa langkah kaki mereka ke Yayasan Anak Nagari Indonesia, demi dapat menuntut ilmu dalam Pesantren Ramadan 1447 Hijriah.

Maret 8, 2026 - 20:30
Pesantren Ramadan Anak Marjinal, Hidupkan Harapan di Sudut Jakarta Utara

JAKARTA Di tengah gemerlap kota Jakarta, tersimpan perjuangan mengharukan demi menjemput ilmu di bulan suci Ramadan. Mereka adalah anak-anak yatim dan dhuafa di Penjaringan, Jakarta Utara. 

Setiap sore, puluhan anak usia 5 hingga 20 tahun membawa langkah kaki mereka ke Yayasan Anak Nagari Indonesia, demi dapat menuntut ilmu dalam Pesantren Ramadan 1447 Hijriah.

Mereka berasal dari PAUD dan PKBM Anak Nagari Indonesia, serta anak-anak sekitar yang selama ini memiliki keterbatasan terhadap akses pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Mengusung tema 'Kembali Menjadi Manusia', pesantren Ramadan yang dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 16 Ramadhan pukul 17.30 WIB ini menjadi angin segar bagi mereka yang memiliki keterbatasan fasilitas dan perhatian terhadap pendidikan non formal.

pesantren-Marjinal-2.jpg

Tema ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadan menjadi momentum untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan, peduli kepada yang lemah, membuka akses pendidikan bagi mereka yang minoritas, serta memberikan keadilan sosial bagi anak bangsa. 

Di tempat sederhana ini, anak-anak belajar membaca Iqro’ dan Al-Qur’an. Mereka juga memperoleh pemahaman dasar terkait Akidah, Fiqih, dan Akhlak. Bagi mereka, ini bukan sebatas belajar agama, tetapi menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik. 

Pada puncak kegiatan 17 Ramadan 1447 H (7 Maret 2026), pesantren Ramadan mengadakan santunan kepada anak yatim sekaligus buka bersama para dhuafa. Dengan menghadirkan pendongeng anak, kak Sidik untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada peserta. 

Bagi mereka, ini bukan sekadar kegiatan seremonial Ramadan, tetapi ruang yang menunjukkan bahwa anak-anak marjinal berhak untuk mendapatkan kesempatan menuntut ilmu dan membangun karakter.

Di tengah kesederhanaan mereka, muncul secercah harapan terhadap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap pendidikan non formal, terkhusus bagi lembaga-lembaga sebagai tempat menuntut ilmu kaum marjinal.

Semangat mereka membuktikan bahwa di tempat sederhana dan kecil sekalipun, harapan masa depan anak-anak Indonesia sedang diperjuangkan, meskipun terkadang masih luput dari perhatian. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow