Pertempuran Darat Antara AS vs Iran Sudah di Ambang Pintu

Iran menuduh Washington secara diam-diam merencanakan serangan sambil berupaya melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang .

Maret 30, 2026 - 14:47
Pertempuran Darat Antara AS vs Iran Sudah di Ambang Pintu

JAKARTA Kebohongan demi kebohongan AS di bawah perintah Donald Trump makin nyata dengan tibanya ribuan pasukan dari 3.500 yang direncanakan di Timur Tengah. Iran pun kini  telah siap menghadapi serangan. Pertempuran darat antrara AS-Iran kinipun di ambang pintu.

Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka siap menghadapi pasukan AS untuk pertempuran di darat, dan menuduh Washington secara diam-diam merencanakan serangan sambil berupaya melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang .

Sebelumnya Trump gembar-gembor serangan darat itu hanya salah satu pertimbangan saja sambil selalu mengatakan ada pembicaraan negosiasi yang membaik dengan Iran.

Tapi diam-diam dia memerintahkan pengiriman pasukannya ke Timur Tengah untuk melakukan serangan darat terhadap Iran.

"Musuh secara terbuka mengirimkan pesan negosiasi dan dialog, tetapi secara diam-diam juga merencanakan serangan darat," kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf seperti dilansir media Iran,  IRNA dan Tasnim News Agency yang berafiliasi dengan negara.

Bagher Ghalibaf, mengatakan, Iran sangat berhati-hati dengan modus diplomasi yang dilakukan AS, karena secara terbuka menyatakan sedang melakukan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang, namun pada saat yang sama mereka diam-diam merencanakan serangan darat.

"AS tidak menyadari bahwa pasukan kami sedang menunggu tentara Amerika memasuki wilayah tersebut agar mereka dapat membakar pasukan itu dan menghukum mitra regional mereka selamanya," tambahnya.

Komentar-komentar tersebut muncul beberapa jam setelah The Washington Post melaporkan, bahwa Pentagon telah menyusun rencana operasi darat selama beberapa minggu di Iran meskipun bukan invasi skala penuh.

Bahkan ketika Presiden Donald Trump dan tokoh-tokoh penting Gedung Putih selalu berkoar mengisyaratkan bahwa mereka ingin segera mengakhiri konflik tersebut. 

Pulau Kharg salah satu pusat produksi minyak Iran yaang utama, akan dijadikan pusat perang.

"AS telah memperkuat kekuatan militernya di kawasan tersebut. USS Tripoli tiba di Timur Tengah pada hari Sabtu sebagai bagian dari kontingen 3.500 pasukan,' kata Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pada Jumat bahwa Iran belum menanggapi proposal perdamaian 15 poin yang dikirim para negosiator AS, tetapi mengatakan bahwa ada 'kesediaan untuk membicarakan hal-hal tertentu' dari pihak Iran.

Namun Ghalibaf, seorang tokoh garis keras yang merupakan salah satu dari sedikit tokoh politik besar Iran  menuduh AS "mengejar melalui diplomasi apa yang gagal dicapai dalam perang," dengan mengutip daftar 15 poin tersebut.

"Selama Amerika menginginkan Iran menyerah, tanggapan putra-putra Anda terhadap keinginan ini sudah jelas. Kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” katanya, berbicara kepada rakyat Iran pada umumnya.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa ia akan memperpanjang tenggat waktu untuk menghentikan serangan terhadap pembangkit listrik Iran setelah perkembangan positif dalam negosiasi dengan Iran.

Trump mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang berjalan "sangat baik," meskipun Teheran bersikeras bahwa mereka tidak sedang bernegosiasi.

Dalam sebuah pernyataan yang menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan pengiriman pasukan ke Iran, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan: “Adalah tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Itu tidak berarti Presiden telah membuat keputusan.”

Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval pada 20 Maret bahwa dia "tidak akan mengirim pasukan ke mana pun."

“Seandainya saya melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda, tetapi saya tidak akan mengerahkan pasukan,” tambahnya.

Namun, Sabtu kemarin CENTCOM mengatakan, bahwa ribuan tentara Amerika telah tiba di Timur Tengah bersama kedatangan pesawat angkut dan pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi dan taktis sebagai aset militer di wilayah tersebut.

Tiga belas anggota militer AS mati selama perang dengan Iran, dan dua lainnya mati karena sebab non-tempur. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow