Perpustakaan Bawah Tanah di Malang Ini Simpan Warisan “Profesor Ludruk”

Padepokan Sastra Tan Tular di Wendit, Malang, menyimpan 6.000 koleksi langka milik Prof. Henricus Supriyanto. Perpustakaan bawah tanah ini unik dengan ranjang tua di tengah ribuan buku dan riset ludru

Februari 25, 2026 - 09:30
Perpustakaan Bawah Tanah di Malang Ini Simpan Warisan “Profesor Ludruk”

MALANG Menjelajah pinggiran Malang, tepatnya di kawasan Wendit, berdiri perpustakaan bawah tanah dengan keunikan konsepnya: sebuah ranjang tua berada tepat di tengah ribuan koleksi buku yang mengelilinginya. Tempat itu adalah Padepokan Sastra Tan Tular. Bukan sekedar perpustakaan biasa, di dalamnya tersimpan ribuan warisan budaya milik Sang Maestro Sastra, Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M. Hum. 

Telah berdiri sejak tahun 2001 sebagai perpustakaan pribadi, Prof. Henricus telah menyimpan sebanyak 6000 koleksi miliknya. Seiring berjalannya waktu, pihak keluarga membuka perpustakaan yang ada Jalan. Wendit Barat, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini sepenuhnya untuk umum pada Maret 2025 demi meluaskan manfaat ilmu sang profesor.

Sosok Sang Maestro

Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum merupakan seorang jurnalis sekaligus akademisi yang memiliki juluan “Profesor Ludruk”. Kecitaannya pada budaya tumbuh sejak remaja, berkeliling dalam pentas ludruk mengikuti pamannya, Yasmo, yang merupakan pemimpin grup Lerok Tresno Wargo di Malang kala itu.

Teater-dan-masih-banyak-lagi.jpgKoleksi karya-karya Prof. Henricus Supriyanto seperti, Ludruk, Topeng Panji, Teater dan masih banyak lagi. (FOTO: Afina Faza Nabila/TIMES Indonesia)

Dedikasinya dalam membawa kesenian ke ranah akademik membuat beliau dianugerahi penghargaan bergengsi yang berupa Satyalancanaca Kebudayaan 2024 oleh Presiden RI. Padepokan Sastra Tan Tular yang didirikannya pada 2001 kini menjadi benteng terakhir bagi ribuan koleksi pribadinya, termasuk risetnya yang mendalam tentang sejarah Tumapel, yang menurutnya cikal bakal Majapahit, dan naskah-naskah ludruk langka yang diselamatkannya dari kepunahan.

Ranjang Tua di Balik Ribuan Buku

Kehadiran ribuan buku tersebut tak bisa dipisahkan dari keseharian sang profesor. Menurut keterangan pustakawan, Endah, bahwa Prof. Henricus selalu mengunjungi perpustakaan bawah tanah ini hingga usia senja, yang akhirnya ranjang itu difungsikan agar beliau dapat terus dekat dengan koleksi bukunya.

"Jadi beliau tak perlu harus naik-turun tangga," ucapnya, Sabtu (21/2/2026).

Hingga sekarang, ranjang tersebut tetap dijaga sebagaimana mulanya yang secara tidak langsung dapat menarik perhatian siapapun yang sedang berkunjung ke sana.

Bukan tanpa alasan, ranjang tersebut dipertahankan karena itu merupakan salah satu upaya keluarga dalam menjaga memori dan kehadiran beliau di sana. Dari ranjang tersebut menunjukkan bahwa semangat dan dedikasinya dalam dunia akademik tak pernah lekang oleh waktu. 

Menyelamatkan Ludruk Dalam Lembaran Kertas

Bagi Prof. Henricus, Ludruk bukan sekedar hiburan semata, melainkan kesenian yang harus dijaga dan diselamatkan. Ia tersadar bahwa banyak seniman Ludruk yang memiliki pengalaman luar biasa, namun sangat minim dalam hal pencatatan. Khawatir akan sekedar hilang tanpa adanya regenerasi, beliau mengambil peran sebagai pencatat sejarah.

Di perpustakaan riset ini, ia mengumpulkan naskah-naskah Ludruk yang tersedia dari era pra hingga pasca-kolonial. Tak hanya mengoleksi, ia juga menyusun teori, mencatat gerakan, hingga mendokumentasikan jenis-jenis lakon agar Ludruk memiliki panduan akademik yang jelas. 

Koleksi Padepokan Sastra Tan Tular pun tergolong langka. Pengunjung dapat menemukan riset mendalam tentang sejarah Tumapel yang ditulis sendiri olehnya, hingga literatur tentang jurnalisme dan teater. Nafa, yang menjadi salah pengelola perpustakaan menyebut bahwa ia menemukan koleksi buku langka yang ia temukan di perpustakaan ini.

“Di sini ternyata ada bukunya Siti Rukiah yang Tandus itu. Padahal di luar udah jarang banget yang jual, dan kalaupun ada pasti mahal,” ujarnya.

Tak heran jika perpustakaan bawah tanah ini kerap kali menjadi jujukan utama bagi para pelaku kesenian maupun mahasiswa yang sedang melakukan riset mendalam terkait kesusastraan. 

Terbuka Lebar dengan Setiap Kolaborasi

Keinginan agar ribuan buku berharga tidak sekedar mengendap di basement menjadi alasan kuat bagi pihak keluarga, terutama sang putri, Anastasia, untuk membuka pintu padepokan lebar-lebar bagi masyarakat umum. Di tangan generasi penerus seperti Nafa dan Endah, Padepokan Sastra Tan Tular kini tampil lebih inklusif dan jauh dari kesan kaku.

Tak hanya menjadi jujukan untuk meneliti, tetapi juga sebagai ruang temu bagi berbagai komunitas. Endah mengutarakan bahwa mereka telah mengadakan diskusi kepenulisan secara online bersama penulis seperti, Sasti Gotama dan Annisa Resmana.

Menariknya, padepokan ini bahkan pernah menjadi ruang kolaborasi untuk kegiatan meditasi, membuktikan bahwa perpustakaan riset pun bisa menjadi tempat yang sangat fleksibel bagi pencarian ketenangan dan inspirasi.

Untuk tetap relevan dengan pembaca muda, pihak pengelola secara aktif memperbarui koleksi mereka dengan berbagai novel fiksi dan non-fiksi terbaru. 

“Perpus ini enggak strictly cuma buat baca buku aja. Kalau mau bikin acara di luar itu, kami sangat terbuka,” ungkap Nafa. Harapannya terkesan sedrhana namun mendalam: mereka ingin lebih banyak orang yang mendengar keberadaan perpustakaan ini dan datang untuk merasakan langsung manfaat dari koleksi angka peninggalan sang maestro yang mungkin tak akan ditemukan di tempat lain. (*)

Pewarta: Afina Faza Nabila

 

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow