Perempuan Dominasi UMKM, Pakar UM Sebut Pendidikan Kunci Kemandirian Ekonomi
Pakar sosiologi gender Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio menyebut kesadaran perempuan untuk mandiri secara ekonomi semakin tinggi di tengah arus modernisasi.
MALANG - Peran perempuan dalam mengembangkan perekonomian Indonesia semakin nyata, salah satunya dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi penopang utama ekonomi kerakyatan.
Pakar sosiologi gender Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio., menanggapi peran perempuan dalam industri berkaitan dengan kesadaran perempuan untuk mandiri secara ekonomi sekaligus didorong oleh modernisasi.
“Partisipasi perempuan ikut naik karena modernisasi. Mereka melihat bahwa tidak hanya laki-laki saja yang membutuhkan uang, perempuan mulai menyadari bahwa memiliki penghasilan sendiri dapat memberikan kemandirian dan kesempatan mengembangkan karir,” jelasnya.
Ia menyampaikan, data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait partisipasi angkatan kerja perempuan per Februari 2024 mencapai 55,41 persen. Lanjutnya, kondisi ini memberikan dampak positif dalam perekonomian keluarga dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ketika perempuan memiliki ruang setara dalam dunia kerja, daya beli masyarakat meningkat, inovasi bertambah, dan industri menjadi lebih inklusif,” tanbahnya.
Angga menyinggung bahwa kondisi ini sudah terjadi sejak zaman kolonial. Saat itu perempuan banyak yang terlibat dalam sektor manufaktur seperti tekstil, pengolahan tembakau, hingga industri padat karya lainnya.
Lebih lanjut, memasuki era 4.0 seperti saat ini, peluang dan peran perempuan semakin luas. Termasuk dalam memasuki industri digital, sektor pengetahuan hingga bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics).
Ia menegaskan bahwa kunci partisipasi perempuan dalam industri adalah pendidikan. Menurutnya, pendidikan dapat membuka akses karir yang semakin baik bagi perempuan.
“Melalui pendidikan yang berkualitas, maka semakin memungkinkan buat perempuan memiliki partisipasi lebih besar dalam sektor industri nasional maupun global,” imbuhnya.
Angga juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi perempuan dalam dunia kerja, seperti menghadapi kesenjangan upah, keterbatasan representasi dalam posisi kepemimpinan, serta stereotip yang membatasi pilihan karier.
“Yang harus diperhatikan sudahkah perempuan diberi haknya? Hak dalam pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang sama. Karena dari pemenuhan hak inilah ketidakadilan dan ketimpangan bisa dikurangi,” pungkasnya.
Menurutnya, setiap individu berhak memiliki hak yang sama untuk mengembangkan bakat dan minat tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial. (*)
Apa Reaksi Anda?