Kekeringan Melanda Cilegon, Warga Gunung Batur Andalkan Mata Air Alami

Dampak kemarau panjang memicu krisis air bersih di Kampung Gunung Batur, Cilegon. Warga terpaksa berjalan kaki ke dalam hutan dan mengantre 24 jam demi air bersih.

Juli 15, 2026 - 20:31
Kekeringan Melanda Cilegon, Warga Gunung Batur Andalkan Mata Air Alami
CILEGON -

Dampak kemarau panjang yang memicu krisis air bersih memaksa warga Kampung Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, Kota Cilegon, Banten, memutar otak. Demi memenuhi kebutuhan domestik harian, masyarakat setempat kini sepenuhnya menggantungkan hidup pada sumber mata air alami di kawasan Sumur Bendung.

Salah seorang warga setempat, Herlina (30), mengungkapkan bahwa kesulitan mendapatkan air bersih ini kian merebak sejak sebulan terakhir akibat absennya curah hujan. Kondisi tersebut menjadikan sumber air yang berada di tengah kawasan hutan itu sebagai satu-satunya tumpuan harapan warga.

Untuk mencukupi kebutuhan dasar keluarganya, Herlina harus melakoni perjuangan berat setiap hari. Ia dan warga lainnya terpaksa berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih satu kilometer demi menjangkau titik mata air bersih tersebut.

"Setiap hari kami harus berjalan kaki sekitar satu kilometer ke dalam hutan. Ini menjadi satu-satunya sumber mata air kami saat kekeringan melanda seperti sekarang," ujar Herlina di Kota Cilegon, Rabu.

Keberadaan mata air alami yang mengalir dari sela-sela bebatuan gunung ini dinilai sangat vital. Air yang keluar dari sana langsung dimanfaatkan warga untuk konsumsi harian seperti memasak dan minum, hingga keperluan sanitasi seperti mandi dan mencuci.

"Kalau tidak ada mata air ini, kami tidak tahu lagi harus mencari air ke mana. Air dari gunung ini sangat segar," tuturnya.

Agar pemanfaatan air tetap berkeadilan dan pasokan mencukupi bagi seluruh kartu keluarga, warga secara swadaya menerapkan sistem piket antrean yang berjalan tertib selama 24 jam penuh.

"Kami mengantre dari pukul 18.00 WIB sampai jam 06.00 WIB, jadi siang malam lokasi ini penuh. Sehari dibatasi hanya untuk tujuh sampai delapan orang yang dapat giliran. Kalau siang paling dapat 12 galon, tapi kalau malam bisa sampai 14 galon karena cuaca sudah tidak panas," kata Herlina merinci.

Senada dengan Herlina, Masitoh (45) mengakui ketergantungan warga terhadap sumber air alami ini kian menebal. Hal itu diperparah oleh pasokan bantuan air bersih dari pihak luar maupun pemerintah daerah yang dinilai masih sangat minim.

"Bantuan air bersih dari pemerintah sejauh ini baru masuk sekitar dua kali saja. Untungnya ada mata air alami ini yang terus mengalir meskipun debet nya mengecil akibat tidak ada hujan," ungkap Masitoh.

Secara geografis, struktur tanah di Kampung Gunung Batur yang didominasi batuan keras memang menyulitkan warga untuk membuat sumur bor mandiri. Alhasil, menjaga kelestarian mata air alami di perbukitan tersebut kini menjadi kunci pertahanan warga di tengah cekaman kekeringan musiman, sembari menanti hujan kembali mengisi bak penampungan alami mereka. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow