Penyaluran MBG Dihentikan Selama Libur Sekolah, Relawan di Bondowoso Terpaksa Cari Pekerjaan Sampingan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso untuk sementara tidak berjalan selama masa libur sekolah. Penghentian penyaluran tersebut diperkirakan berlangsung hingga kegiatan belajar men
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso untuk sementara tidak berjalan selama masa libur sekolah. Penghentian penyaluran tersebut diperkirakan berlangsung hingga kegiatan belajar mengajar kembali dimulai pada 13 Juli 2026.
Kebijakan penghentian distribusi MBG ini tidak hanya berlaku di Bondowoso, tetapi juga diterapkan secara nasional mengikuti jadwal libur sekolah peserta didik.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso, Mila Afriana Agustina, membenarkan bahwa penghentian distribusi dilakukan selama masa liburan sekolah dengan estimasi waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
"Betul Mbak, mengikuti jadwal libur sekolah, kalau tidak salah 2-3 minggu ya," jelasnya saat dikonfirmasi pada Jumat (19/6/2026).
Menurut Mila, selama distribusi MBG dihentikan, sebagian besar relawan yang bekerja di dapur SPPG juga tidak menjalankan aktivitas seperti biasa. Hanya petugas tertentu yang tetap bertugas.
"Relawan libur, kecuali keamanan. Kalau Kepala, PK, dan PG tetap bertugas," tegasnya.
Terkait informasi mengenai rencana audit dari Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap seluruh dapur SPPG, Mila mengaku masih menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan. Namun selama masa libur, seluruh unsur di dapur diminta melakukan pembenahan dan persiapan.
Saat ini terdapat sekitar 80 dapur SPPG yang telah beroperasi di Bondowoso. Selain itu, empat dapur lainnya disebut sudah siap untuk dioperasikan.
Sementara itu, pemilik dapur SPPG di Desa Tegal Pasir, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Lina Tripuspita Sudarmo Putri, juga membenarkan bahwa distribusi MBG dihentikan selama masa liburan.
Menurut Lina, dapurnya sudah menghentikan distribusi sejak Kamis. Penyaluran terakhir dilakukan pada Rabu sebelumnya. Ia menyebut salah satu penyebab penghentian operasional adalah anggaran yang belum cair.
"Tiga minggu tidak akan beroperasi, se-Indonesia itu tidak ada (distribusi)," ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada para relawan yang selama ini menggantungkan penghasilan dari program MBG. Lina mengaku banyak relawan yang menyampaikan keluhan karena harus kehilangan sumber pendapatan sementara waktu.
"Teman-teman relawan banyak yang sedih juga, karena banyak yang menggantungkan pekerjaan dari sana," ujarnya.
Meski demikian, ia berharap program tersebut dapat kembali berjalan normal setelah masa libur berakhir.
"Kita legowo ya, saya harap bisa bekerja seperti biasanya lagi," jelasnya.
Hal serupa dirasakan Baeni, seorang relawan SPPG di Kecamatan Grujugan. Ia mengungkapkan bahwa pada masa libur sebelumnya masih ada distribusi untuk kelompok B3 yang meliputi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Namun kali ini seluruh aktivitas benar-benar dihentikan.
Akibatnya, ia harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama tiga minggu ke depan. "Terpaksa cari tambahan kerja lain dulu," ungkapnya, Rabu (24/6/2026).
Di sisi lain, penghentian sementara distribusi MBG tidak menjadi persoalan bagi sebagian orang tua siswa. Wahyudi, warga Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, menilai kebijakan tersebut dapat dimaklumi apabila memang merupakan ketentuan dari pemerintah pusat.
"Kalau bukan ketentuan lalu tidak dibagi, baru itu diprotes. Kalau memang sudah ketentuan ya tidak apa-apa," jelasnya.
Meski demikian, ayah dua anak tersebut berharap masa penghentian sementara dapat dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan kualitas menu MBG yang diterima siswa.
Ia menilai masih terdapat sejumlah catatan terkait kualitas buah yang dibagikan, mulai dari ukuran pisang yang terlalu kecil hingga jeruk yang dinilai kurang layak.
"Jangan hanya pas waktu di-unggah saja, di medsos saja gambarnya begini, padahal di lapangan tidak sesuai ekspektasi," ujarnya.(*)
Apa Reaksi Anda?