Menurut Rezasyah, serangan tersebut dilakukan secara diam-diam oleh sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Hal ini terjadi meskipun banyak negara di kawasan menyatakan tidak mengizinkan wilayah udara mereka digunakan selama operasi militer berlangsung.
Rezasyah memperkirakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam. Ia menilai Teheran kemungkinan besar akan memberikan balasan melalui serangan habis-habisan terhadap Israel, serupa dengan yang mereka lakukan dalam Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025. "Yang dia balas saat ini adalah pembalasan kecil-kecil dan untuk itu, masih menunggu fatwa dari Ayatullah, karena Ayatullah belum memberikan jawaban final, masih memberikan jawaban yang standar," katanya.
Ia menambahkan, Iran masih perlu mempertimbangkan berbagai faktor strategis sebelum melancarkan serangan balasan besar-besaran, termasuk kondisi cuaca dan ketepatan target. "Pemahaman atas cuaca dan juga pemahaman atas target itu penting. Jadi, walaupun Iran sudah memiliki target yang jelas, tapi ini kan harus disesuaikan dengan sistem penginderaan jauh dan sistem satelit yang ada," jelasnya.
Rezasyah juga memperkirakan Iran akan mendapat dukungan dari sejumlah negara besar seperti China, Rusia, dan Pakistan. Selain itu, pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Mesir dinilai sudah masuk dalam sasaran peluru kendali balistik Iran. "Dan negara-negara di atas berada dalam kesulitan karena Iran adalah satu-satunya yang berani melawan ambisi teritorial Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah," ujarnya.
Tak hanya itu, potensi Iran melakukan latihan perang di Selat Hormuz juga dapat mengganggu lalu lintas energi dunia, mengingat selat tersebut merupakan jalur strategis pengiriman minyak global. Dengan berbagai potensi eskalasi ini, Rezasyah menegaskan bahwa konflik kali ini akan berdampak besar dan luas bagi kawasan Timur Tengah. (*)