Netflix Menyerah, Paramount Menangkan Akuisisi Warner Bros Discovery

Paramount Skydance resmi unggul dalam akuisisi Warner Bros Discovery senilai US$111 miliar setelah Netflix menolak menaikkan tawaran. Transaksi ini berpotensi mengubah peta industri hiburan global.

Februari 27, 2026 - 16:30
Netflix Menyerah, Paramount Menangkan Akuisisi Warner Bros Discovery

JAKARTA Industri hiburan global memasuki fase baru setelah Paramount Skydance dipastikan unggul dalam proses akuisisi Warner Bros Discovery (WBD). Kepastian itu muncul setelah Netflix secara resmi menolak menaikkan tawaran pada Kamis (26/2/2026), sekaligus mengakhiri persaingan panjang antara dua raksasa media tersebut.

Sebelumnya, Netflix sempat menjadi kandidat terkuat untuk mengambil alih Warner Bros, yang memiliki sejumlah aset strategis seperti waralaba DC Universe, seri Harry Potter, serta jaringan berita internasional CNN. Namun posisi itu berubah ketika Paramount Skydance menaikkan penawaran menjadi sekitar US$111 miliar atau US$31 per saham.

Selain nilai akuisisi, Paramount juga menyetujui sejumlah ketentuan finansial: membayar US$2,8 miliar kompensasi pembatalan merger yang sebelumnya menjadi kewajiban WBD kepada Netflix, memberikan ticking fee sebesar US$0,25 per kuartal mulai 30 September 2026, serta menjaminkan US$7 miliar sebagai kompensasi jika transaksi gagal akibat kendala regulasi. Skema tersebut dinilai lebih memberikan kepastian bagi pemegang saham.

Co-CEO Netflix, Ted Sarandos dan Greg Peters, menyatakan Warner Bros merupakan organisasi kelas dunia dan proses berjalan secara adil serta transparan. Namun, menurut mereka, menyamai tawaran Paramount “tidak lagi menarik secara finansial”. Akuisisi ini disebut sebagai peluang yang baik untuk dimiliki, tetapi bukan kebutuhan strategis yang harus dimenangkan dengan harga berapa pun.

Beban Utang dan Tekanan Industri

Penjualan Warner Bros Discovery tidak lepas dari tekanan fundamental perusahaan. Utang WBD tercatat lebih dari US$53 miliar, ditambah penurunan pendapatan dari televisi kabel tradisional serta kompetisi ketat di industri streaming global.

Beban utang tersebut merupakan akumulasi dari rangkaian merger sejak dekade 1990-an. Setelah Warner Communications bergabung dengan Time Inc. membentuk Time Warner, perusahaan kemudian melebur dengan AOL pada 2001 dan AT&T pada 2016. Sejumlah integrasi itu memicu restrukturisasi berulang hingga menyisakan entitas inti seperti Warner Bros, HBO, serta jaringan Turner termasuk CNN, TNT, TBS, dan TCM.

Dalam kondisi tersebut, penjualan dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memaksimalkan nilai bagi pemegang saham.

Pernyataan Manajemen

Presiden dan CEO Warner Bros Discovery, David Zaslav, menyampaikan apresiasi kepada Netflix atas proses yang telah dilalui. Ia menilai Netflix sebagai mitra profesional sepanjang tahapan negosiasi.

Setelah dewan menyetujui perjanjian merger dengan Paramount, Zaslav menyebut kesepakatan itu akan menciptakan nilai signifikan bagi pemegang saham dan membuka potensi kolaborasi konten yang lebih luas.

Sementara itu, CEO Paramount, David Ellison, menegaskan bahwa tawaran perusahaannya memberikan nilai lebih, kepastian transaksi, serta proses penyelesaian yang cepat. Dewan WBD, kata dia, menilai proposal Paramount sebagai yang terbaik secara keseluruhan.

Dampak dan Tantangan Regulasi

Meski Paramount berada di posisi terdepan, akuisisi ini masih menunggu persetujuan regulator di Amerika Serikat dan Eropa. Jika disetujui, Paramount akan menguasai studio Warner Bros, mengintegrasikan layanan streaming HBO Max, serta mengambil alih CNN dan sejumlah saluran hiburan lainnya.

Langkah tersebut diperkirakan mengubah peta kekuatan industri hiburan global, termasuk lanskap media berita. Peralihan kepemilikan CNN juga berpotensi memunculkan dinamika politik, mengingat jaringan tersebut kerap menjadi sorotan dalam pemberitaan kebijakan pemerintah Amerika Serikat. (*)

Pewarta: Annisa Maghzar Vidyantoro

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow