Pemadaman Listrik di Majalengka Picu Keluhan Warga, Aktivitas Ekonomi Terganggu
Pemadaman listrik mendadak di Majalengka tanpa pemberitahuan hentikan aktivitas warga dan UMKM, ganggu usaha laundry, kuliner, hingga belajar anak, serta soroti lemahnya komunikasi publik.
MAJALENGKA - Aktivitas di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mendadak terhenti ketika aliran listrik padam tanpa peringatan. Lampu-lampu rumah meredup, mesin produksi berhenti beroperasi, dan sejumlah pelaku usaha kecil terpaksa menunda pekerjaan yang bergantung penuh pada pasokan energi listrik.
Bagi sebagian warga, pemadaman listrik mungkin hanya gangguan sementara. Namun bagi pelaku usaha mikro dan rumahan, padamnya listrik secara mendadak berarti kerugian nyata yang langsung dirasakan dalam hitungan jam.
Keluhan mengenai pemadaman listrik di Majalengka tanpa pemberitahuan mencuat setelah sejumlah warga mengaku tidak menerima informasi resmi sebelum aliran listrik dihentikan. Kondisi ini memicu keresahan, terutama di kalangan masyarakat yang aktivitas ekonominya sangat bergantung pada listrik.
Salah satu warga mengungkapkan, ketidakpastian jadwal pemadaman membuat masyarakat sulit melakukan antisipasi, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha.
"Setidaknya ada pemberitahuan lebih dulu supaya masyarakat bisa bersiap," keluh seorang warga Majalengka, Winda, Sabtu (20/6/2026)
Kondisi paling terdampak dirasakan pelaku UMKM seperti usaha laundry, toko kelontong modern, percetakan, hingga bisnis kuliner yang mengandalkan freezer dan peralatan elektronik. Saat listrik padam, operasional praktis berhenti total.
Mesin cuci tak dapat beroperasi. Peralatan pendingin kehilangan daya. Sistem pembayaran digital di sejumlah toko juga terganggu akibat perangkat internet yang ikut mati. Situasi ini membuat aktivitas ekonomi harian berjalan tidak normal.
Di era digital saat hampir seluruh aktivitas terhubung dengan teknologi, listrik bukan lagi sekadar fasilitas dasar, melainkan fondasi utama produktivitas masyarakat. Ketika pasokan energi terganggu tanpa informasi, efek berantainya meluas ke banyak sektor.
Selain dampak ekonomi, pemadaman mendadak juga mengganggu aktivitas keluarga. Sejumlah orang tua mengeluhkan anak-anak kesulitan belajar, sementara pekerja jarak jauh kehilangan akses internet akibat perangkat jaringan yang ikut mati.
Keluhan warga terhadap pelayanan kelistrikan pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan pemadaman itu sendiri, tetapi juga soal komunikasi publik. Masyarakat menilai pemberitahuan melalui kanal digital seperti media sosial, aplikasi resmi, atau pesan singkat semestinya dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Pemadaman listrik di Majalengka kali ini menjadi pengingat bahwa di balik sakelar yang tampak sederhana, terdapat denyut aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial yang bergantung penuh pada kestabilan energi. Saat listrik padam, yang terhenti bukan hanya aliran daya, tetapi juga ritme kehidupan sebuah kota hingga pelosok desa. (*)
Apa Reaksi Anda?