PDIP Jombang Bedah Jejak Kelahiran Bung Karno, Dugaan Lahir di Ploso Kian Menguat
Polemik lokasi kelahiran Bung Karno kembali mencuat dalam sarasehan PDIP Jombang. Berbagai bukti dan kajian sejarah mengenai dugaan Soekarno lahir di Ploso dibahas secara terbuka oleh akademisi dan bu
JOMBANG - Polemik mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali mencuat dalam sebuah sarasehan yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang dalam rangka Bulan Bung Karno dan peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026) malam.
Bertempat di kantor DPC PDIP Jombang, forum tersebut menghadirkan akademisi, budayawan, mahasiswa, pemerhati sejarah, hingga kader partai untuk membahas berbagai kajian mengenai dugaan bahwa Bung Karno lahir di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.
Wakil Ketua Bidang DPC PDIP Jombang, Andika Wahyono, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar membahas kontroversi sejarah, melainkan upaya menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran besar Bung Karno yang dinilai masih relevan hingga saat ini.
"Momentum 1 Juni yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila menjadi waktu yang tepat untuk kembali mendiskusikan sejarah Bung Karno sekaligus menggali nilai-nilai perjuangannya," ujar Andika, Selasa (2/6/2026).
Dalam sarasehan itu, sejumlah narasumber memaparkan berbagai perspektif. Akademisi dari Universitas Negeri Surabaya menjelaskan sejumlah data yang selama ini menjadi dasar keyakinan bahwa Soekarno lahir di Surabaya.
Sementara itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang menyampaikan berbagai temuan yang disebut memperkuat dugaan bahwa Bung Karno lahir di Ploso. Mulai dari cerita keluarga yang merawat Bung Karno saat bayi hingga keberadaan lokasi yang diyakini sebagai tempat pemakaman ari-ari sang proklamator.
Menurut Andika, diskusi tersebut penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi juga memahami gagasan besar yang diwariskannya.
"Yang lebih penting adalah bagaimana pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme, Trisakti, dan semangat kebangsaan bisa dipahami dan diimplementasikan oleh generasi muda hari ini," katanya.
Ia menambahkan, sarasehan semacam ini juga menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas intelektual kader partai dan mahasiswa agar lebih kritis dalam memahami sejarah bangsa.
"Banyak mahasiswa yang hadir. Kami ingin ruang-ruang diskusi seperti ini terus hidup agar wawasan generasi muda semakin luas dan tidak terjebak pada satu sudut pandang saja," ujarnya.
Dukungan Mengalir untuk Pengakuan Ploso sebagai Tempat Lahir Bung Karno
Dalam kesempatan yang sama, budayawan Jombang, Nasrul Illah atau yang akrab disapa Cak Nas, mengapresiasi dukungan PDIP Jombang terhadap upaya penetapan Ploso sebagai lokasi kelahiran Bung Karno.
Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat dan partai politik menjadi energi positif dalam memperkuat kajian sejarah yang selama ini terus diperjuangkan.
"Siapa pun yang mendukung upaya ini tentu kami apresiasi. Bung Karno adalah milik seluruh rakyat Indonesia, bukan milik kelompok tertentu," tegasnya.
Cak Nas berharap pemerintah pusat melalui instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk menindaklanjuti hasil-hasil kajian sejarah yang telah dilakukan.
Ia bahkan menargetkan adanya keputusan resmi mengenai status situs yang diyakini sebagai tempat lahir Bung Karno sebelum akhir tahun 2026.
"Kalau bisa sebelum September atau November sudah ada kepastian. Semakin lama prosesnya, tentu tantangannya akan semakin besar," katanya.
Saat ini, pihaknya bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang terus berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur untuk memfasilitasi dialog dengan pihak Surabaya.
Menurutnya, forum bersama tersebut penting agar seluruh data dan bukti sejarah dapat dipertemukan secara terbuka dan akademis.
"Kalau nanti Surabaya tetap memiliki pandangan berbeda, itu tidak masalah. Yang terpenting adalah semua data dan fakta sejarah bisa dibahas dalam satu forum yang objektif," ujarnya.
Menjaga Warisan Sejarah Bangsa
Bagi Cak Nas, perdebatan mengenai lokasi kelahiran Bung Karno seharusnya tidak menjadi ajang persaingan antar daerah. Yang jauh lebih penting adalah menjaga warisan sejarah bangsa agar dapat dipahami secara utuh oleh generasi mendatang.
"Yang terpenting bukan soal siapa yang menang dalam perdebatan ini, tetapi bagaimana sejarah Bung Karno bisa diungkap secara lengkap dan menjadi pengetahuan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia," ucapnya. (*)
Apa Reaksi Anda?