Pameran “Amor Fati” Ajak Pengunjung Memaknai Takdir Lewat Seni Rupa

Pameran “Amor Fati” di Galeri Raos Kota Batu menghadirkan karya Fadjar Djunaedi, Hendung Tunggal Jati, dan Ahmad Yunus, mengangkat filosofi mencintai nasib, berlangsung 25 April–4 Mei 2026.

April 29, 2026 - 19:31
Pameran “Amor Fati” Ajak Pengunjung Memaknai Takdir Lewat Seni Rupa

MALANG - Galeri Raos Kota Batu kembali menghadirkan ruang apresiasi seni rupa melalui pameran bertajuk Amor Fati yang berlangsung mulai 25 April hingga 4 Mei 2026. Pameran ini menampilkan karya dari tiga seniman, yakni Fadjar Djunaedi, Hendung Tunggal Jati, dan Ahmad Yunus, dengan mengusung gagasan filosofis tentang mencintai nasib sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.

Diselenggarakan setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB, pameran ini dapat dinikmati masyarakat umum dengan harga tiket masuk Rp10.000. Melalui puluhan karya yang dipamerkan, pengunjung diajak menyelami hubungan antara pengalaman hidup, identitas, budaya, dan kesadaran spiritual yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual seni rupa.

Secara filosofis, Amor Fati berasal dari pemikiran stoikisme yang berarti “mencintai nasib.” Konsep ini tidak sekadar mengajak manusia menerima takdir, melainkan memahami setiap proses kehidupan sebagai pembentuk karakter, identitas, dan kesadaran. Dalam katalog pameran dijelaskan bahwa nasib merupakan “harta karun” yang membangun konstruksi berpikir serta perilaku manusia, hingga tercermin dalam peradaban, termasuk seni rupa.

Gerbang Galeri Raos Kota Batu - 2Ruang pamer Galeri Raos menampilkan karya tiga seniman dengan ragam visual penuh makna dalam tajuk “Amor Fati”. (Foto: Firyanka Mirna Wahita/TIMES Indonesia)

Nilai tersebut juga selaras dengan pitutur luhur budaya Jawa, aja nggolek wah, mengko dadi owah, yang mengajarkan ketulusan dalam berkarya tanpa mengharapkan pujian semata.

Masing-masing seniman menghadirkan interpretasi personal terhadap tema besar tersebut. Fadjar Djunaedi merekonstruksi memori masa kecil melalui metafora kebiasaan sang ibu yang setiap pagi berbelanja sayur, bunga, dan palawija. Karyanya menjadi simbol bakti dan cinta terhadap sosok ibu.

Sementara Hendung Tunggal Jati lebih menitikberatkan penciptaan karya pada pengalaman empiris dan penggalian substansi mendalam, alih-alih sekadar merespons isu-isu aktual. Adapun Ahmad Yunus memanfaatkan pengalaman masa lalunya sebagai tukang sablon dan pembuat papan nama, yang menuntut presisi tinggi, menjadi dasar eksplorasi visual melalui huruf, simbol, dan kanon populer dalam karya-karyanya.

Seniman Ahmad Yunus menjelaskan bahwa pihaknya memang sengaja tidak memberikan penjelasan rinci pada katalog maupun judul karya.

“Memang sengaja, pada bagian katalog maupun judul lukisan tidak diberi penjelasan karena kami ingin para pengunjung menginterpretasikan makna menurut keyakinan mereka masing-masing,” ujar Ahmad Yunus.

Ia menambahkan, sebagian besar karya yang ditampilkan berangkat dari pengalaman hidup personal.

“Ini terinspirasi dari pengalaman yang sudah pernah terjadi di kehidupan kami,” tambahnya.

Pendekatan tersebut menjadikan pameran ini lebih terbuka secara interpretatif, sehingga setiap pengunjung memiliki kebebasan memaknai karya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang masing-masing.

Gerbang Galeri Raos Kota Batu - 1Pengunjung menikmati beragam karya seni dalam pameran “Amor Fati” yang menghadirkan refleksi takdir dan perjalanan hidup. (Foto: Firyanka Mirna Wahita/TIMES Indonesia)

Pameran Amor Fati di Galeri Raos Kota Batu bukan sekadar ajang menampilkan karya seni rupa, tetapi juga ruang kontemplatif untuk memahami kehidupan, tradisi, dan perjalanan manusia melalui perspektif visual. Dengan menghadirkan refleksi tentang cinta terhadap nasib, pameran ini memperkuat posisi seni sebagai medium dialog antara pengalaman personal, budaya, dan spiritualitas.

Melalui karya-karya Fadjar Djunaedi, Hendung Tunggal Jati, dan Ahmad Yunus, pengunjung diajak menyadari bahwa setiap pengalaman hidup—baik pahit maupun indah—merupakan bagian penting dalam membentuk identitas dan peradaban manusia. Pameran ini pun menjadi salah satu agenda seni yang layak dikunjungi di Kota Batu bagi penikmat seni maupun masyarakat umum. (*)

Pewarta: Firyanka Mirna Wahita

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow