Pakar UGM Ungkap Penyebab Gempa M 7,7 di Mindanao, Masyarakat Pesisir Diminta Waspada Tsunami
Gempa M 7,7 Laut Mindanao picu peringatan tsunami dan terasa hingga Indonesia. Ahli UGM ingatkan pentingnya budaya siaga bencana, edukasi, latihan evakuasi, dan info resmi.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut menjadi perhatian para ahli kebencanaan di kawasan Asia Tenggara. Selain menimbulkan guncangan kuat, gempa tersebut juga sempat memunculkan peringatan potensi tsunami yang berdampak hingga wilayah sekitar, termasuk Indonesia.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa negara-negara di kawasan Pasifik, termasuk Indonesia dan Filipina, berada di wilayah yang memiliki aktivitas tektonik sangat tinggi akibat pertemuan sejumlah lempeng bumi.
Dosen Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng di bawah Laut Mindanao.
“Gempa ini terjadi akibat pelepasan energi yang telah terakumulasi dalam waktu sangat lama pada zona subduksi. Ketika tegangan yang tersimpan melampaui kekuatan batuan, terjadi pergerakan mendadak yang menghasilkan gempa bumi,” ujar Gayatri, Kamis (11/6/2026).
Gempa Besar Bisa Picu Tsunami
Gayatri menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di bawah laut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan gempa di daratan. Risiko tsunami akan meningkat apabila pergerakan patahan menyebabkan perubahan bentuk dasar laut secara signifikan.
Pada kasus Laut Mindanao, gempa terjadi dengan mekanisme sesar naik (thrust fault), yaitu ketika satu blok batuan terdorong ke atas akibat tekanan antar lempeng tektonik.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi menggerakkan kolom air laut dan memicu gelombang tsunami.
“Tidak semua gempa besar menghasilkan tsunami. Namun jika terjadi di bawah laut dengan mekanisme tertentu dan menyebabkan perubahan dasar laut, maka potensi tsunami perlu diperhitungkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan gempa juga memengaruhi luas wilayah yang merasakan getaran. Karena itu, meskipun pusat gempa berada di Filipina, guncangannya masih dapat dirasakan hingga sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Sulawesi.
Indonesia Harus Perkuat Budaya Siaga Bencana
Menurut Gayatri, gempa di Mindanao tidak dapat dijadikan indikator bahwa Indonesia akan segera mengalami gempa besar. Namun peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana geologi.
Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) yang memiliki banyak zona subduksi aktif dan sesar aktif di daratan. Karena itu, ancaman gempa dan tsunami merupakan risiko yang harus diantisipasi secara berkelanjutan.
“Indonesia memiliki sejarah panjang terkait gempa bumi dan tsunami. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana,” katanya.
Gayatri menekankan pentingnya edukasi kebencanaan sejak dini, latihan evakuasi secara berkala, serta peningkatan kualitas infrastruktur tahan gempa untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian.
Ia juga mengingatkan masyarakat pesisir untuk segera melakukan evakuasi ketika menerima peringatan dini tsunami dari otoritas resmi.
“Jika merasakan gempa yang kuat dan berlangsung lama di kawasan pantai, segera menjauh ke tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu tanda-tanda lain karena waktu untuk menyelamatkan diri sering kali sangat singkat,” tegasnya.
Selain itu, masyarakat diminta hanya mengakses informasi dari sumber terpercaya seperti BMKG, BNPB, BPBD, maupun pemerintah daerah untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
Gayatri menegaskan bahwa gempa bumi merupakan proses alam yang tidak dapat dihentikan. Namun, dampak yang ditimbulkan dapat ditekan melalui kesiapan, pengetahuan, dan respons yang tepat dari masyarakat.
“Semakin baik kesiapsiagaan masyarakat, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko korban saat bencana terjadi. Karena itu, budaya sadar bencana harus terus dibangun di semua lapisan masyarakat,” paparnya. (*)
Apa Reaksi Anda?