Museum Marsinah Diresmikan Prabowo, Jejak Buruh Kini Menjadi Sejarah Bangsa
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk sebagai simbol penghormatan negara terhadap perjuangan buruh dan hak asasi manusia.
NGANJUK - Tiga dekade setelah nama Marsinah menggema sebagai simbol perjuangan hak-hak pekerja, negara akhirnya menghadirkan ruang khusus untuk mengenang keberanian seorang buruh perempuan yang menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Peresmian ini menjadi bentuk penghormatan negara terhadap perjuangan hak asasi manusia sekaligus pengakuan atas kontribusi Marsinah dalam memperjuangkan hak-hak buruh di Indonesia.
Setibanya di lokasi, Presiden Prabowo terlebih dahulu meninjau rumah tempat Marsinah pernah tinggal. Ia kemudian bertemu dengan keluarga besar Marsinah sebelum memasuki kompleks museum yang dibangun di atas lahan seluas 938 meter persegi.
Kompleks tersebut terdiri atas dua bangunan utama, yakni museum memorial dan rumah singgah. Keduanya dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan artefak, melainkan sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi masyarakat tentang sejarah perjuangan kaum pekerja.
Di dalam museum, tersimpan berbagai benda pribadi yang merekam perjalanan hidup Marsinah. Mulai dari seragam kerja pabrik, tas, dompet, sepeda ontel, hingga ijazah sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Sejumlah piagam penghargaan dari organisasi buruh juga dipamerkan sebagai bagian dari dokumentasi perjuangannya.
Penghormatan untuk Perjuangan Buruh
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menilai kehadiran museum ini sebagai peristiwa yang langka.
“Ini adalah sekiranya mungkin peristiwa yang langka, mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi tolong dicek, mungkin pasti adalah. Tapi ini peristiwa langka,” ujar Presiden.
Ia menegaskan bahwa museum tersebut didirikan sebagai simbol dan tonggak sejarah untuk mengenang keberanian seorang perempuan muda yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh serta keadilan bagi masyarakat kecil.
“Saya kira museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang. Seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh,” katanya.
Ruang Belajar bagi Generasi Mendatang
Usai sambutan, Presiden menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah.
Keberadaan museum ini diharapkan menjadi destinasi wisata edukasi sejarah di Nganjuk sekaligus sarana pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya keadilan sosial, perlindungan hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap perjuangan buruh.
Museum Marsinah tidak hanya menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa juga dibangun oleh keberanian rakyat kecil yang memperjuangkan hak dan martabat manusia.(*)
Apa Reaksi Anda?