Menjawab Tantangan Pertanian Modern, Polbangtan Malang Percepat Implementasi Kurikulum OBE
Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang mempercepat transformasi pendidikan vokasi melalui implementasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
MALANG - Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang) mempercepat transformasi pendidikan vokasi melalui implementasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta tantangan pembangunan pertanian modern.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pembukaan Workshop Pemutakhiran Kurikulum Tahun 2026 yang diselenggarakan Polbangtan Malang di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batu, Kamis (11/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum strategis bagi pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan untuk menyelaraskan kurikulum dengan Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 sekaligus memperkuat kualitas lulusan pendidikan vokasi pertanian.
Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana menegaskan bahwa transformasi kurikulum menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab perubahan yang terjadi di sektor pertanian.
Udrayana menyebut ada tiga fokus utama yang harus menjadi perhatian bersama, yaitu implementasi kurikulum Outcome Based Education sesuai Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023, peningkatan kapasitas dan karakter mahasiswa, serta persiapan reakreditasi Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan.
"Ketiga hal tersebut merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika," ujarnya menegaskan.
Menurutnya, implementasi OBE akan mengubah paradigma pembelajaran dari yang berorientasi pada proses menjadi berorientasi pada capaian kompetensi lulusan. Kurikulum tidak lagi hanya menekankan penguasaan teori, tetapi memastikan mahasiswa mampu menunjukkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan pertanian.
"Kita harus bergerak lebih cepat. Banyak perguruan tinggi telah menerapkan OBE. Karena itu, Polbangtan Malang harus memastikan kurikulum yang disusun mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan sektor pertanian masa depan," ujarnya.
Dalam penerapannya, pembelajaran akan diperkuat melalui pengalaman nyata di lapangan dengan proporsi 40 persen magang dan proyek industri, 40 persen praktik laboratorium maupun bengkel, serta 20 persen teori dan penguatan konsep dasar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi dinamika dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.
Udrayana juga menjelaskan bahwa implementasi kurikulum OBE membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif sebagai tugas akhir. Sesuai ketentuan terbaru, tugas akhir tidak harus berbentuk skripsi konvensional, tetapi dapat berupa prototipe, proyek, model pengembangan, maupun karya terapan yang memberikan solusi bagi persoalan pertanian.
Selain membahas penyempurnaan kurikulum, workshop juga menjadi momentum untuk mendiskusikan rencana pembukaan Program Magister (S2) Penyuluhan Pertanian. Polbangtan Malang mendapat mandat untuk menyiapkan usulan program tersebut guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian Indonesia.
"Program Magister yang dirancang nantinya diharapkan mampu menghasilkan penyuluh pertanian spesialis berbasis kawasan yang memiliki kemampuan merancang dan mengembangkan potensi wilayah sesuai karakteristik sumber daya yang dimiliki," jelasnya.
Melalui workshop tersebut, kata dia, Polbangtan Malang menargetkan tersusunnya kurikulum yang lebih adaptif, relevan dengan kebutuhan industri, dan mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian masa depan. (*)
Apa Reaksi Anda?