Membedah Buku Softbrain Engineer Karya Yusak Anshori, Menjaga Kewarasan di Era Disrupsi
Mohamad Yusak Anshori tulis “Softbrain Engineer” solusi SDM di era AI. Konsep softbrain skill (neurosains, EQ, desain humanistik) ciptakan psychological safety dan resiliensi organisasi.
SURABAYA - Perkembangan teknologi mengakibatkan adanya perubahan hampir di segala lini kehidupan. Bisnis dan industri secara universal mau tidak mau melakukan inovasi besar-besaran sebagai upaya untuk bertahan dan beradaptasi.
Transformasi digital dan hadirnya kecerdasan buatan (AI) semakin memperluas spektrum tantangan Sumber Daya Manusia (SDM). Dimana digitalisasi yang berlebihan dapat menyebabkan dehumanisasi, bahkan empati dalam proses manajerial hilang karena bergantung pada mesin.
Percepatan dan makin luasnya jangkauan membuat kompetisi tak lagi bersifat lokal, melainkan global sehingga mulai banyak orang bekerja lintas batas negara.
Tingginya persaingan dalam memenuhi kecepatan dan ketepatan juga membuat banyak organisasi mulai berpikir untuk menjaga kesehatan psikologis tenaga kerjanya.
Di tengah transformasi ini, isu kesejahteraan psikologis muncul, burnt out mengalami peningkatan drastis, kompleksitas emosi dan konflik identitas banyak terjadi dalam organisasi.
Mohamad Yusak Anshori sepertinya membaca kondisi era disrupsi ini hingga perlu menuliskan solusi dari kegelisahannya dalam menghadapi era yang serba cepat ini dalam buku berjudul "Softbrain Engineer", bagaimana membangun kecerdasan organisasi di era disrupsi.
Dalam konteks ini peran softbrain engineer berfungsi memandu agar teknologi digunakan untuk augmentasi, bukan substitusi manusia.
Lahirnya Konsep Softbrain Engineer
Menurut seorang peresensi buku, Rella Mart, buku ini mengupas bagaimana dalam dunia sumber daya manusia, soft skill adalah salah satu faktor pembeda utama tenaga kerja.
"Soft skill sendiri dalam prakteknya memiliki keterbatasan karena seringkali berhenti pada efek motivasional jangka pendek, tanpa menghasilkan perubahan perilaku yang konsisten dalam pekerjaan sehari-hari," kata Rella Mart, Sabtu (23/5/2026).
Hal ini terjadi karena soft skill biasanya hanya menyentuh lapisan perilaku, bukan akar biologis dan psikologis yang mendasari cara manusia berpikir, merasa dan bertindak.
Mengutip isi buku tersebut, Rella menjabarkan bagaimana neurosains kemudian menawarkan terobosan baru, bahwa konsep soft skill dapat diturunkan ke level yang lebih dalam yakni softbrain skill.
"Ini merupakan ketrampilan sosial – emosional berbasis mekanisme otak yang dapat diukur, dilatih dan dikembangkan secara sistematis dan ditulis oleh Pak Yusak Anshori," ujarnya.
Dalam buku tersebut, softbrain engineer didefinisikan sebagai seorang profesional SDM yang berperan sebagai arsitek emosi, kognisi dan kolaborasi dalam organisasi melalui pendekatan neurosains, psikologi dan managemen modern.
Dimana tujuan akhir dari softbrain engineer ini adalah menciptakan organisasi yang adaptif, sehat dan produktif.
Seorang softbrain engineer merancang pengalaman kerja yang bermakna dan berfungsi sebagai jembatan antara dunia data yang logis dengan dunia manusia yang sarat emosi.
Ada 3 pilar utama dari konsep softbrain engineer ini. Pertama adalah kecerdasan emosional (EQ), dimana EQ menjadi dasar bagi softbrain engineer dalam membangun rasa aman psikologis serta menjalin relasi kerja yang sehat dalam tim.
Pilar kedua adalah neurosains terapan, dimana ilmu ini membantu menjelaskan bagaimana otak manusia bereaksi terhadap stres, bagaimana keputusan diambil dan bagaimana proses belajar berlangsung.
Pilar ketiga adalah desain organisasi humanistik yang menekankan penciptaan system kerja yang inklusif, empatik dan kolaboratif sehingga terjadi adanya ikatan antara tenaga kerja dan tempat bekerja.
Nilai Strategis dan Tantangan Implementasi Softbrain Engineer
Peran softbrain engineer bukan sekedar pelengkap fungsi HR, tetapi katalis daya saing organisasi melalui orkestrasi softbrain capital, yakni kombinasi kecerdasan emosional, kelincahan kognitif dan kecerdasan kolaboratif yang dirancang secara ilmiah.
"Ini tentu membawa perubahan besar dari HR masa lalu yang hanya berfungsi sebagai pusat data tenaga kerja saja," ujarnya.
Lebih lanjut Rella mengungkapkan, Softbrain Engineer menciptakan iklim psikologis yang aman untuk bereksperimen (psychological safety), sehingga karyawan berani menyampaikan ide tanpa takut dikritik.
"Dalam kondisi seperti ini organisasi tidak hanya mampu berinovasi, tetapi juga lebih siap mempertahankan keunggulan kompetitif dalam pasar yang terus berubah. Softbrain Engineer juga memiliki peran penting dalam membangun resiliensi organisasi. Resiliensi tidak hanya terkait dengan kekuatan sistem, tetapi juga kapasitas emosional kolektif untuk bangkit dari krisis," paparnya.
Dengan demikian, karyawan dinilai lebih siap menghadapi tekanan, sementara organisasi dapat menjaga produktivitas jangka panjang.
Meskipun konsep Softbrain Engineer menawarkan paradigma baru yang menjanjikan dalam pengelolaan SDM berbasis neurosains, psikologi, dan desain humanistik, implementasinya tidak selalu berjalan mulus.
Banyak organisasi menghadapi hambatan struktural, kultural, maupun teknis ketika mencoba menerapkan peran ini. Pemahaman mengenai tantangan implementasi menjadi penting agar strategi penerapan dapat lebih realistis dan adaptif.
"Dalam buku ini dibahas secara lengkap bagaimana menerapkan softbrain engineer dalam berbagai sektor usaha, tantangan dan kendalanya. Seperti halnya teori manajemen yang pernah kita pelajari, keberhasilannya sebagian besar terletak pada faktor pimpinan yang membawa ke arah mana teori ini akan bermuara," ucapnya.
"Buku ini membawa kita pada secercah harapan dan rasa percaya diri bahwa teori neurosains ini tak hanya patut direnungkan tapi patut dicoba agar tak terjadi gegar psikologis di era disrupsi yang mulai kita rasakan saat ini," sambungnya. (*)
Apa Reaksi Anda?