Gas Meledak di Tambang Batu Bara di China, 90 Tewas
Ledakan gas tambang batu bara Liushenyu di provinsi Shanxi, China utara, Jumat (22/5/2026) kemarin, mengakibatkan 90 orang tewas.
JAKARTA - Sebuah ledakan gas menghantam tambang batu bara Liushenyu di provinsi Shanxi, China utara, Jumat (22/5/2026) kemarin, sejauh ini informasi sementara 90 orang tewas dan lainnya dalam pencarian.
Presiden China, Xi Jinping telah menginstruksikan upaya penyelamatan besar-besaran bagi yang hilang dan perawatan bagi yang terluka.
Xi, yang juga sekretaris jenderal Komite Sentral Partai Komunis China dan juga ketua Komisi Militer Pusat itu juga menyerukan penanganan yang tepat terhadap dampak kecelakaan tersebut.
Xi menekankan bahwa pihak berwenang di seluruh negeri harus belajar dari kecelakaan tersebut, tetap waspada terhadap keselamatan kerja, dan meningkatkan upaya untuk mengidentifikasi dan menghilangkan potensi risiko guna mencegah kecelakaan besar
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara di provinsi Shanxi, Tiongkok utara , telah melonjak menjadi 90 orang, menurut laporan media pemerintah CCTV pada hari Sabtu.
Ledakan gas itu terjadi pada Jumat malam di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, dimana terdapat 247 pekerja yang sedang bertugas di bawah tanah disana.
Media pemerintah China, CCTV hari ini, Sabtu (23/5/2026) melaporkan bahwa jumlah korban tewas 90 orang. Media pemerintah China yang lain, Xinhua juga melaporkan hal yang sama.
Selain menyerukan kepada pihak berwenang untuk 'mengerahkan segala upaya' dalam merawat para korban luka dan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, seperti dilaporkan Xinhua, Presiden Xi Jinping juga memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas penyebab kecelakaan tersebut dan pertanggungjawaban yang ketat sesuai dengan hukum.
Perdana Menteri China, Li Qiang menggemakan instruksi tersebut, menyerukan agar informasi dirilis tepat waktu dan akurat serta akuntabilitas yang ketat.
"Hingga saat ini operasi penyelamatan masih berlangsung dan penyebab kecelakaan sedang diselidiki," kata otoritas manajemen darurat setempat di Qinyuan.
Melalui peraturan yang lebih ketat dan praktik yang lebih aman, sejak awal tahun 2000-an, China telah secara signifikan mengurangi angka kematian di tambang batu bara - yang sering disebabkan oleh ledakan gas atau banjir.
Tetapi insiden Liushenyu ini merupakan salah satu insiden paling mematikan yang dilaporkan di China dalam dekade terakhir.
Menurut laporan Xinhua, para eksekutif perusahaan yang bertanggung jawab atas tambang tersebut telah ditahan.
Sebelumnya, Xinhua hanya melaporkan delapan orang tewas, dengan lebih dari 200 orang berhasil dievakuasi dengan selamat. Xinhua tidak menjelaskan kemudian soal lonjakan jumlah korban tewas tersebut.
Shanxi adalah salah satu provinsi termiskin di China namun menjadi "ibu kota pertambangan batubara" negara itu.
Keselamatan pertambangan di negara ini telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, tetapi kecelakaan masih terjadi di industri dimana protokol keselamatan seringkali longgar dan peraturan tidak jelas.
Pada tahun 2023, sebuah insiden runtuhan di tambang batu bara terbuka di wilayah Mongolia Dalam bagian utara menewaskan 53 orang. Dan pada tahun 2009, sebuah ledakan di tambang di timur laut provinsi Heilongjiang menewaskan lebih dari 100 orang.
China adalah konsumen batu bara terbesar di dunia dan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, meskipun memasang kapasitas energi terbarukan dengan kecepatan yang luar biasa. (*)
Apa Reaksi Anda?