Memaknai Larung Sesaji, Cara Nelayan Pacitan Bersyukur Sambut 1 Muharram
Tradisi tahunan di pesisir selatan itu bukan lagi sebagai ritual budaya, melainkan wujud penghormatan atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
PACITAN - Tradisi Larung Sesaji kembali menjadi cara nelayan di Kabupaten Pacitan mengungkapkan rasa syukur sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Tradisi tahunan di pesisir selatan itu bukan lagi sebagai ritual budaya, melainkan wujud penghormatan atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Prosesi larung sesaji digelar dengan doa bersama para nelayan, ulama, dan pejabat daerah sebelum dua tumpeng besar diarak menuju Dermaga Tamperan untuk dilarung ke laut selatan.
Sebelum dilepaskan ke tengah laut, kapal pembawa sesaji terlebih dahulu diputar tiga kali.
Ribuan nelayan dan masyarakat tampak antusias mengikuti prosesi yang juga diramaikan hiburan rakyat, mulai dari kesenian reog hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi.
Budayawan Pacitan, Bambang Sutejo atau akrab disapa Mbah Mamik, mengatakan larung sesaji memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh masyarakat nelayan.
“Larung sesaji memiliki arti nalar kang dumunung. Sesaji, ayo podo saling ngajeni,” kata Mbah Mamik, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, tradisi itu lahir dari keyakinan bahwa seluruh unsur kehidupan di dunia telah diciptakan dan dijaga oleh Allah SWT beserta makhluk ciptaan-Nya.
Ia menjelaskan, dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal pemahaman mengenai penjaga unsur alam. Laut diyakini dijaga Nabi Khidir, daratan oleh Nabi Ilyas, sedangkan api dan angin dikaitkan dengan Nabi Sulaiman.
“Larung Sesaji ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka atas apa yang kita makan setiap hari dari laut,” ujarnya.
Dalam prosesi tersebut, sejumlah uba rampe atau perlengkapan sesaji memiliki makna filosofis tersendiri. Salah satunya buceng suci, tumpeng khusus yang saat dimasak tidak boleh dicicipi.
“Buceng itu artinya kalbu sing kenceng, kuat niat. Suci, tidak ada perasaan apa-apa,” ujar Mbah Mamik.
Selain itu, terdapat golong gilig sekawan yang dimaknai sebagai kiblat papat kalimo pancer, simbol empat penjuru mata angin sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Allah SWT.
Ada pula telur yang dimaknai sebagai simbol kesucian dan kekuatan batin, sekul suci ulam sari yang dimaknai sebagai syahadat melalui nasi dan lauk ayam ingkung, hingga jajanan pasar sebagai pengingat empat pasaran dalam tradisi Jawa.
Sementara jenang abang dan jenang putih melambangkan kesadaran bahwa manusia tidak pernah lepas dari salah dan lupa, termasuk pengingat tentang kakang kawah adi ari-ari.
Adapun jenang sumsum dimaknai sebagai rambu-rambu agar manusia tetap waspada dalam menjalani hidup.
Prosesi juga dilengkapi bunga mawar merah, kenanga, melati masing-masing tiga tangkai, serta tujuh irisan kunyit yang dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Di tengah berkembangnya anggapan bahwa larung sesaji identik dengan praktik musyrik, Mbah Mamik menilai pemahaman tersebut perlu dilihat secara lebih utuh.
“Yang bilang musyrik, tapi masih makan ikan layur dari laut, ya sama saja berarti dia sendiri yang musyrik,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Arjosari Pacitan, KH Luqman Harits Dimyathi.
Menurut dia, tradisi larung sesaji pada dasarnya merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat hasil laut yang diberikan Allah SWT.
“Para nelayan harus lebih bersyukur. Dari sisi ikan saja mengandung banyak manfaat, vitamin, omega, sudah tidak ngasih makan, tapi Allah SWT malah memberikan berbagai gizi, maka harus benar-benar bersyukur,” kata KH Luqman.
Terkait pandangan mengenai Nyai Roro Kidul yang kerap dikaitkan dengan laut selatan, KH Luqman menilai hal tersebut tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.
“Perkara Nyai Roro Kidul, dia adalah makhluknya Gusti Allah, ya di-Fatihah-i ya enggak apa-apa. Makhluknya Allah ada yang terlihat, ada yang tidak, termasuk bangsa jin,” ujarnya.
Ia juga menilai tradisi Jawa memiliki banyak titik temu dengan nilai Islam, termasuk momentum 1 Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah.
“Peringatan 1 Suro dengan tahun baru Islam bagi orang Jawa memiliki kesamaan segi waktu dan sebagainya. Orang Jawa harus bangga. Islam identik, penanggalannya juga sama,” katanya.
Bahkan, menurut KH Luqman, hubungan antara ajaran Islam dan budaya Jawa tidak seharusnya dipertentangkan karena memiliki keselarasan nilai.
“Islam dengan Jawa dari sisi ajaran dan tradisi juga simetris. Yang bilang Larung Sesaji musyrik, berarti kurang ngopi,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia pun mengenang masa kecilnya saat mengikuti tradisi malam Suro bersama sang ayah menuju pantai pada dini hari.
“Dulu saya waktu kecil naik truk bareng bapak saya jam 1 malam ke pantai saat Suro,” katanya.
Menurut KH Luqman, tradisi menuju laut pada malam Suro diyakini sebagian masyarakat sebagai bagian dari doa dan ikhtiar agar terhindar dari penyakit maupun bala.
“InsyaAllah dengan jalan-jalan ke laut pada malam hari, segala penyakit dan balak akan hilang,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?