Margasari Urutan Kedua Kasus HIV di Tegal, Dinkes Tekankan Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi
Margasari mencatat 53 kasus HIV, tertinggi kedua di Kabupaten Tegal. Dinkes menekankan pentingnya deteksi dini, edukasi, pengobatan, serta penghapusan stigma terhadap ODHIV.
TEGAL - Di balik hiruk-pikuk aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa, persoalan HIV di Kabupaten Tegal masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Data yang disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edy Sucipto, menunjukkan bahwa wilayah kerja Puskesmas Margasari menempati urutan kedua dengan jumlah penderita HIV terbanyak setelah wilayah kerja Puskesmas Slawi.
Berdasarkan data yang dipaparkan Edy kepada awak media pada Selasa (2/6/2026), jumlah penderita HIV yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Margasari mencapai 53 orang. Sementara itu, wilayah kerja Puskesmas Slawi berada di posisi tertinggi dengan 79 penderita.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa kasus HIV masih ditemukan di berbagai wilayah dan membutuhkan perhatian bersama. HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.
"Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS yang dapat menyebabkan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit." jelas Edy.
Menurut Edy, dari hasil pemantauan dan pendataan yang dilakukan, sebagian kasus HIV yang ditemukan berkaitan dengan perilaku seksual berisiko, termasuk hubungan sesama jenis.
Meski demikian, para tenaga kesehatan menegaskan bahwa HIV tidak hanya dapat menular melalui satu jalur tertentu. Penularan juga dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman,
Kemudian penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, hingga penularan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.
Di Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal keberadaan 53 penderita HIV menjadi perhatian tersendiri bagi petugas kesehatan.
Kecamatan Margasari merupakan Wilayah yang dikenal sebagai salah satu kecamatan dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas penduduk yang cukup tinggi itu dinilai memerlukan penguatan program edukasi serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Petugas kesehatan di tingkat puskesmas selama ini terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Selain penyuluhan kepada masyarakat, layanan tes HIV sukarela juga terus didorong agar warga yang memiliki faktor risiko dapat mengetahui status kesehatannya lebih awal.
Deteksi dini menjadi langkah penting karena seseorang yang mengetahui status HIV sejak awal dapat segera mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
Masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) juga menjadi tantangan yang tidak kalah besar. Banyak penderita yang enggan melakukan pemeriksaan atau berobat karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Padahal, HIV bukanlah penyakit yang dapat menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berbagi makanan, atau berdekatan dengan penderita.
Karena itu, pendekatan yang mengedepankan edukasi dan kemanusiaan dinilai lebih efektif dibandingkan stigma. Masyarakat perlu untuk memahami bahwa pencegahan HIV tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Di sisi lain, tingginya angka kasus di wilayah kerja Puskesmas Slawi dan Margasari menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan reproduksi serta perilaku hidup sehat harus terus diperkuat.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan bersama puskesmas diharapkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi, terutama kepada kelompok usia produktif yang memiliki tingkat mobilitas tinggi.
Data yang disampaikan Dinas Kesehatan tersebut bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap kasus terdapat individu, keluarga, dan lingkungan sosial yang terdampak. Karena itu, upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta penghapusan stigma harus berjalan beriringan.
Dengan kesadaran masyarakat yang semakin baik dan dukungan layanan kesehatan yang mudah diakses, diharapkan penyebaran HIV dapat ditekan sehingga kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Tegal, termasuk di Kecamatan Margasari dan Slawi, dapat terus meningkat di masa mendatang.(*)
Apa Reaksi Anda?