Mahasiswa KSM Internasional UNISMA Jadikan Melukis Media Edukasi Kreativitas Siswa Sekolah di Thailand
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mampu menerapkan kompetensi yang dimiliki, tetapi juga belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami budaya masyarakat setempat, serta
Program Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) Internasional Universitas Islam Malang (UNISMA) merupakan salah satu bentuk kegiatan akademik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari selama perkuliahan ke dalam kehidupan masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mampu menerapkan kompetensi yang dimiliki, tetapi juga belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami budaya masyarakat setempat, serta membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
Dalam pelaksanaan KSM Internasional di Thailand, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melaksanakan berbagai program kerja yang berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu program yang mendapat antusiasme tinggi dari pihak sekolah adalah kegiatan Painting Activity atau kegiatan melukis dan mewarnai media permainan edukatif bersama siswa Sekolah Dasar.
Kegiatan painting dipilih sebagai salah satu program kerja karena dinilai mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi sekolah. Selama melakukan observasi awal di sekolah, mahasiswa melihat bahwa halaman sekolah telah dimanfaatkan sebagai tempat bermain siswa saat jam istirahat maupun ketika guru melaksanakan pembelajaran di luar kelas.
Namun, area tersebut masih terlihat sederhana dan belum memiliki media permainan edukatif yang dapat menunjang aktivitas belajar siswa. Berdasarkan hasil diskusi bersama kepala sekolah dan guru, mahasiswa kemudian menyusun sebuah program yang bertujuan untuk mempercantik lingkungan sekolah sekaligus menyediakan sarana bermain yang bersifat edukatif.
Program ini diharapkan mampu memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan sehingga siswa menjadi lebih aktif dan nyaman ketika berada di lingkungan sekolah.
Selain memperindah lingkungan sekolah, kegiatan painting juga dirancang sebagai media untuk mengembangkan kreativitas siswa sejak usia dini. Anak-anak pada usia sekolah dasar berada pada tahap perkembangan yang sangat aktif dalam mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, lingkungan belajar yang menarik akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar mereka. Warna-warna cerah, bentuk permainan yang sederhana, serta keterlibatan siswa dalam proses pembuatannya diharapkan mampu meningkatkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan semangat belajar siswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga ingin menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas, tetapi dapat dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan di luar ruangan.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bertugas. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas konsep kegiatan, lokasi yang akan digunakan, desain permainan, waktu pelaksanaan, serta pembagian peran selama kegiatan berlangsung.
Pihak sekolah menyambut baik rencana tersebut karena dianggap dapat memberikan manfaat bagi siswa dalam jangka panjang. Guru juga memberikan beberapa masukan mengenai jenis permainan yang sesuai dengan usia siswa sehingga media yang dibuat nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan sehari-hari.
Tahap observasi menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum kegiatan dimulai. Mahasiswa mengelilingi lingkungan sekolah untuk melihat kondisi halaman, luas area yang tersedia, serta kebiasaan siswa ketika bermain pada waktu istirahat.
Dari hasil observasi tersebut diketahui bahwa terdapat salah satu bagian halaman sekolah yang cukup luas dan sering digunakan oleh siswa sebagai tempat berkumpul. Area tersebut kemudian dipilih sebagai lokasi utama kegiatan painting karena mudah dijangkau oleh seluruh siswa dan memiliki permukaan lantai yang cukup baik untuk dilakukan pengecatan.
Setelah lokasi ditentukan, mahasiswa mulai berdiskusi mengenai desain permainan yang akan dibuat. Beberapa ide dikumpulkan dan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Mahasiswa berusaha memilih desain yang sederhana namun tetap menarik sehingga dapat dimainkan oleh siswa dari berbagai tingkat kelas.
Selain memperhatikan bentuk permainan, mahasiswa juga mempertimbangkan unsur keamanan agar media yang dibuat tidak mengganggu aktivitas siswa maupun proses pembelajaran di sekolah. Pemilihan warna juga menjadi perhatian utama karena warna-warna cerah dinilai lebih menarik bagi anak-anak serta mampu menciptakan suasana sekolah yang lebih hidup.
Dalam tahap persiapan, mahasiswa membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota. Pembagian tugas dilakukan agar seluruh proses dapat berjalan secara efektif dan selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Beberapa mahasiswa bertugas membuat pola gambar, sebagian lainnya menyiapkan cat dan perlengkapan, sedangkan anggota yang lain bertanggung jawab melakukan pengecatan dasar hingga penyempurnaan hasil akhir. Kerja sama yang baik antaranggota menjadi salah satu faktor yang mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan ini.
Satu hari sebelum pelaksanaan, mahasiswa mulai mempersiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan. Berbagai perlengkapan seperti cat warna, kuas dengan berbagai ukuran, ember, kapur tulis, penggaris, isolasi, gunting, kain lap, serta perlengkapan pendukung lainnya diperiksa kembali agar tidak ada peralatan yang tertinggal.
Persiapan yang matang dilakukan untuk menghindari kendala selama proses painting berlangsung sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Pada hari pelaksanaan, mahasiswa datang ke sekolah lebih awal dibandingkan jam masuk siswa. Hal tersebut dilakukan agar proses persiapan dapat diselesaikan sebelum siswa mulai berdatangan. Setibanya di sekolah, mahasiswa langsung membersihkan area yang akan digunakan sebagai media painting.
Debu, pasir, dan kotoran yang menempel pada permukaan lantai dibersihkan terlebih dahulu agar cat dapat menempel dengan baik. Setelah area benar-benar bersih, mahasiswa mulai mengukur dan membuat pola menggunakan kapur serta penggaris sebagai panduan sebelum dilakukan pengecatan.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Tahap pembuatan pola memerlukan ketelitian karena setiap garis harus dibuat dengan ukuran yang tepat agar bentuk permainan terlihat proporsional. Mahasiswa bekerja secara bergantian untuk memastikan seluruh pola sesuai dengan desain yang telah direncanakan sebelumnya.
Sesekali guru yang mendampingi kegiatan memberikan masukan mengenai posisi gambar agar tidak mengganggu jalur siswa ketika beraktivitas di halaman sekolah. Proses ini berlangsung dengan lancar berkat kerja sama yang baik antara mahasiswa dan pihak sekolah.
Setelah seluruh pola selesai dibuat, mahasiswa mulai melakukan pengecatan dasar menggunakan warna putih. Lapisan dasar ini bertujuan agar warna yang akan digunakan pada tahap berikutnya terlihat lebih cerah dan tahan lama.
Selanjutnya mahasiswa mulai mengisi setiap pola dengan berbagai kombinasi warna seperti merah, kuning, hijau, biru, oranye, dan ungu.
Perpaduan warna tersebut dipilih untuk memberikan kesan ceria sekaligus menarik perhatian siswa. Seluruh proses dilakukan secara bertahap sehingga setiap bagian dapat mengering dengan baik sebelum diberikan warna berikutnya.
Ketika proses pengecatan sedang berlangsung, siswa-siswi mulai berdatangan ke sekolah. Mereka tampak memperhatikan aktivitas mahasiswa dengan penuh rasa penasaran. Beberapa siswa berdiri di sekitar lokasi sambil mengamati gambar yang mulai terlihat di atas lantai sekolah.
Ada pula siswa yang mencoba menebak bentuk permainan yang sedang dibuat. Melihat antusiasme tersebut, mahasiswa menyapa para siswa menggunakan bahasa Inggris sederhana yang dipadukan dengan bahasa tubuh agar komunikasi tetap berjalan dengan baik.
Guru yang berada di lokasi juga membantu menjelaskan tujuan kegiatan kepada para siswa sehingga mereka memahami bahwa media permainan tersebut dibuat untuk digunakan bersama setelah selesai.
Melihat tingginya rasa ingin tahu siswa, mahasiswa kemudian mengajak mereka untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan painting. Sebelum memulai, mahasiswa memberikan penjelasan singkat mengenai cara menggunakan kuas, cara mengambil cat secukupnya, serta pentingnya menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung.
Penjelasan dilakukan dengan sederhana sehingga mudah dipahami oleh siswa. Mahasiswa juga memberikan contoh cara mengecat agar hasilnya tetap rapi. Setelah itu, siswa dipersilakan mencoba mewarnai beberapa bagian gambar yang telah ditentukan dengan tetap didampingi oleh mahasiswa.
Pada awalnya beberapa siswa terlihat malu-malu untuk ikut mengecat. Namun setelah melihat teman-temannya mulai berani memegang kuas, mereka pun ikut bergabung dengan penuh semangat. Suasana halaman sekolah berubah menjadi lebih ramai dan penuh keceriaan. Tawa siswa terdengar ketika mereka saling menunjukkan hasil pewarnaan yang telah dilakukan.
Mahasiswa terus memberikan motivasi dan apresiasi kepada setiap siswa agar mereka merasa percaya diri terhadap hasil karya yang dibuat. Interaksi sederhana tersebut menciptakan hubungan yang hangat antara mahasiswa dan siswa meskipun berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.
MALANG - Setelah seluruh siswa mulai terlibat dalam kegiatan, suasana halaman sekolah menjadi semakin hidup. Setiap kelompok siswa didampingi oleh beberapa mahasiswa agar proses pengecatan berjalan dengan baik dan tetap sesuai dengan desain yang telah dibuat.
Mahasiswa tidak hanya memberikan arahan mengenai teknik mengecat, tetapi juga mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai warna yang akan digunakan pada setiap bagian permainan.
Meskipun terlihat sederhana, kegiatan tersebut melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat, bekerja sama dengan teman, serta menghargai keputusan yang diambil bersama.
Selama proses painting berlangsung, mahasiswa memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih warna sesuai dengan kreativitas mereka. Namun demikian, mahasiswa tetap memberikan arahan agar perpaduan warna yang digunakan tetap serasi sehingga hasil akhirnya terlihat menarik.
Pendekatan tersebut membuat siswa merasa dilibatkan secara langsung dalam proses pembuatan media permainan, bukan hanya sebagai peserta yang mengikuti instruksi. Beberapa siswa bahkan terlihat sangat antusias hingga meminta kesempatan untuk membantu mengecat bagian lain setelah pekerjaan yang diberikan selesai.
Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan siswa menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung. Walaupun terdapat keterbatasan bahasa, komunikasi tetap dapat dilakukan dengan baik melalui penggunaan bahasa Inggris sederhana, gerakan tangan, serta bantuan guru yang sesekali menerjemahkan penjelasan mahasiswa.
Mahasiswa juga berusaha membangun suasana yang akrab dengan memberikan pujian ketika siswa berhasil menyelesaikan bagian pekerjaannya. Hal-hal sederhana seperti mengucapkan "Good job", "Very nice", atau memberikan tepuk tangan bersama mampu membuat siswa semakin percaya diri dan bersemangat mengikuti kegiatan hingga selesai.
Selain mahasiswa dan siswa, guru-guru sekolah juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Beberapa guru membantu mengawasi siswa agar tetap tertib selama kegiatan berlangsung, sedangkan guru lainnya turut membantu mahasiswa dalam proses pengecatan pada bagian-bagian tertentu.
Kehadiran guru tidak hanya memperlancar jalannya kegiatan, tetapi juga menunjukkan adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa KSM dan pihak sekolah. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan program painting.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Di tengah pelaksanaan kegiatan, mahasiswa juga menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang cukup panas sehingga proses pengecatan harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Cat yang terkena sinar matahari secara langsung lebih cepat mengering sehingga mahasiswa harus segera merapikan hasil pengecatan sebelum warna mengering sempurna.
Selain itu, mahasiswa juga harus memastikan agar area yang baru dicat tidak diinjak oleh siswa sampai benar-benar kering. Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa membagi area kerja menjadi beberapa bagian sehingga pengecatan dapat dilakukan secara bertahap.
Kendala lain yang dihadapi adalah perbedaan bahasa antara mahasiswa dan siswa. Meskipun sebagian besar siswa telah belajar bahasa Inggris di sekolah, kemampuan setiap siswa tentu berbeda-beda. Oleh karena itu, mahasiswa berusaha menyampaikan instruksi menggunakan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami.
Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa juga memanfaatkan bahasa tubuh serta memberikan contoh secara langsung agar siswa lebih mudah mengikuti arahan. Cara tersebut terbukti cukup efektif sehingga kegiatan dapat berlangsung tanpa hambatan yang berarti.
Selama proses berlangsung, mahasiswa menyadari bahwa kegiatan sederhana seperti painting ternyata mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Siswa terlihat lebih aktif bergerak, saling berdiskusi, dan bekerja sama untuk menyelesaikan setiap bagian gambar.
Mereka juga belajar untuk bersabar menunggu giliran menggunakan kuas serta saling membantu ketika ada teman yang mengalami kesulitan. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dapat diperoleh melalui kegiatan di luar kelas.
Proses pengecatan dilakukan secara bertahap hingga seluruh pola permainan selesai diwarnai. Setelah semua bagian selesai dicat, mahasiswa melakukan pemeriksaan kembali terhadap hasil pekerjaan. Beberapa bagian yang warnanya belum merata diperbaiki agar tampilan akhir menjadi lebih rapi.
Mahasiswa juga membersihkan sisa-sisa cat yang mengenai area di luar pola permainan sehingga lingkungan sekolah tetap terlihat bersih. Tahap penyelesaian ini dilakukan dengan teliti karena media permainan tersebut diharapkan dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama.
Setelah seluruh proses selesai, halaman sekolah tampak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Area yang sebelumnya terlihat polos kini dipenuhi berbagai warna cerah dengan pola permainan edukatif yang menarik perhatian siswa. Beberapa siswa yang melihat hasil akhirnya langsung mencoba memainkan permainan tersebut bersama teman-temannya.
Mereka tampak senang dan bersemangat mencoba setiap jalur permainan yang telah dibuat. Guru-guru yang hadir juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa atas hasil kerja yang dinilai mampu memperindah lingkungan sekolah sekaligus memberikan manfaat bagi proses pembelajaran.
Media permainan yang telah dibuat tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermain, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Guru dapat menggunakan media tersebut untuk mengajarkan konsep berhitung, mengenal warna, melatih keseimbangan tubuh, hingga meningkatkan kemampuan koordinasi gerak siswa.
Dengan demikian, hasil dari kegiatan painting dapat terus dimanfaatkan meskipun program KSM telah selesai dilaksanakan. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan utama mahasiswa, yaitu menghasilkan program kerja yang memiliki manfaat berkelanjutan bagi sekolah.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Bagi siswa, kegiatan painting memberikan pengalaman baru yang menyenangkan. Mereka tidak hanya belajar mengenai warna dan cara menggunakan alat lukis, tetapi juga belajar bekerja sama, mengikuti arahan, serta menghargai hasil karya sendiri maupun karya teman.
Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru dan tidak ragu menyampaikan pendapat kepada mahasiswa. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan keberanian siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran lainnya di sekolah.
Sementara itu, bagi mahasiswa KSM, kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena memberikan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai sistem pendidikan di Thailand.
Mahasiswa dapat melihat bagaimana guru membimbing siswa, bagaimana interaksi yang terjalin di lingkungan sekolah, serta bagaimana kegiatan sederhana dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak.
Selain itu, mahasiswa juga belajar mengenai pentingnya komunikasi lintas budaya, kerja sama dalam tim, serta kemampuan beradaptasi ketika berada di lingkungan yang baru.
Pelaksanaan kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara mahasiswa dengan pihak sekolah. Selama beberapa hari pelaksanaan program KSM, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga membangun hubungan baik dengan guru maupun siswa.
Kehangatan yang tercipta selama kegiatan membuat mahasiswa merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah. Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan yang sangat berharga selama mengikuti program KSM Internasional di Thailand.
Keberhasilan kegiatan painting tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga seluruh mahasiswa yang terlibat.
Setiap pihak memiliki peran masing-masing sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Semangat kerja sama yang ditunjukkan selama kegiatan menjadi bukti bahwa kolaborasi yang baik mampu menghasilkan program yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
Secara keseluruhan, kegiatan Painting Activity berjalan dengan lancar dan memperoleh respons yang sangat positif dari pihak sekolah. Media permainan edukatif yang telah dibuat diharapkan dapat digunakan dalam kegiatan belajar maupun bermain oleh siswa dalam jangka waktu yang panjang.
Selain memperindah lingkungan sekolah, kegiatan ini juga berhasil menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, meningkatkan partisipasi siswa, serta memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan melalui penyuluhan atau pemberian materi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan sederhana yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Painting menjadi salah satu contoh bahwa kreativitas, kerja sama, dan kepedulian dapat menghasilkan perubahan yang positif.
Diharapkan program seperti ini dapat terus dilaksanakan pada kegiatan KSM berikutnya sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang nyaman, kreatif, dan ramah anak. (*)
Apa Reaksi Anda?