Leptospirosis Jangkiti 133 Warga, DKPP Pacitan: Pengendalian Tikus Belum Merata

DKPP Pacitan akan melakukan pengendalian hama tikus di lahan pertanian karena tikus menjadi salah satu sumber utama penyebaran bakteri leptospira.

April 28, 2026 - 17:03
Leptospirosis Jangkiti 133 Warga, DKPP Pacitan: Pengendalian Tikus Belum Merata

PACITAN - Ancaman leptospirosis di Kabupaten Pacitan belum mereda. Dalam empat bulan pertama 2026, sebanyak 133 warga tercatat terinfeksi.

Di tengah angka yang masih tinggi itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan baru akan melakukan pengendalian hama tikus di lahan pertanian.

Langkah ini ditempuh karena tikus menjadi salah satu sumber utama penyebaran bakteri leptospira, terutama di lingkungan sawah dan saluran air.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, mengakui serangan hama tikus masih terjadi di sejumlah wilayah. Karena itu, pihaknya bersama petugas lapangan dan kelompok tani terus melakukan pengendalian.

“Bersama dengan petugas POPT dan juga PPL di wilayah-wilayah yang ada laporan serangan hama tikus, teman-teman di wilayah koordinasi dengan kelompok tani melakukan pengendalian,” ujarnya.

Serangan Tikus Masih Ditemukan

DKPP mencatat, laporan serangan tikus masih masuk dari beberapa wilayah. Kondisi ini tak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga memperbesar risiko penularan leptospirosis ke petani.

Sebagai respons, gerakan pengendalian serentak disiapkan dalam waktu dekat dengan menyasar wilayah yang dianggap rawan.

“Minggu depan rencana akan ada Gerakan Pengendalian. InsyaAllah Ngadirojo di Desa Wiyoro, Hadiwarno, Ngadirojo, dan Sidomulyo,” imbuhnya.

Namun, upaya ini dinilai belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Edukasi Belum Menyeluruh

Di sisi lain, edukasi kepada petani terkait pencegahan leptospirosis juga diakui belum merata. Padahal, perilaku di lapangan menjadi faktor penting dalam menekan risiko penularan.

“Sebenarnya sebagai penentu juga dari petaninya memang perlu memperhatikan kebersihan. Apabila makan di sawah harus cuci tangan dengan sabun, menutup luka terbuka dengan hansaplast, makan makanan bergizi,” katanya.

Sugeng menyebut, baru sebagian petani yang mendapatkan sosialisasi langsung dari petugas.

“Ini juga disampaikan ke petani, untuk mengantisipasi leptospirosis. Di beberapa petani sudah mas, tapi jelas belum semua petani secara langsung dari petugas. Harapannya saling menginformasikan di antara mereka sehingga informasi ini bisa menyebar,” lanjutnya.

Kasus Masih Tinggi

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan menegaskan angka kasus yang mencapai 133 orang tidak bisa dianggap ringan, meskipun secara tren lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Bidang P2P Dinkes Pacitan, drg Nur Farida, mengingatkan agar masyarakat tidak lengah.

“Total pasien leptospirosis dari Januari sampai April 2026 ada 133 pasien. Memang lebih rendah dibanding tahun lalu, tapi kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” ujarnya.

Data Dinkes mencatat, pada Maret 2025 terdapat 69 kasus, sedangkan Maret 2026 turun menjadi 47 kasus. Sementara April 2025 sebanyak 50 kasus, dan April 2026 menjadi 42 kasus.

Meski menunjukkan penurunan, fakta bahwa kasus masih terus muncul menandakan penularan belum terkendali sepenuhnya, terutama di lingkungan dengan aktivitas pertanian tinggi dan sanitasi yang kurang memadai. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow