Lampaui Preseden, AS Siapkan Kekuatan Tempur Masif di Teluk untuk Hadapi Iran

Amerika Serikat mengerahkan kekuatan tempur masif, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln ke Teluk. Iran tegaskan siap lakukan strategi ofensif.

Februari 22, 2026 - 10:30
Lampaui Preseden, AS Siapkan Kekuatan Tempur Masif di Teluk untuk Hadapi Iran

JAKARTA Amerika Serikat (AS) dikabarkan tidak akan melibatkan invasi darat jika eskalasi dengan Iran berujung pada serangan militer. Namun, Washington telah menumpuk kekuatan tempur di kawasan Teluk yang melampaui preseden sebelumnya, baik dalam hal ukuran armada maupun kecepatan pengerahan.

Kapal induk bertenaga nuklir terbaru, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah melewati Selat Gibraltar menuju Laut Mediterania pada Jumat lalu. Sebelumnya, kapal perang terbesar di dunia ini terdeteksi berada di lepas pantai Atlantik Maroko saat bergerak menuju Timur Tengah. Di kawasan tersebut, kapal induk lainnya, USS Abraham Lincoln, telah lebih dulu bersiaga sejak awal pekan ini.

Berdasarkan citra satelit pada Sabtu (21/2/2026), USS Abraham Lincoln terpantau berada di lepas pantai Oman, atau sekitar 700 km (430 mil) dari wilayah Iran.

Kekuatan Udara Terapung Tanpa Batas

Diresmikan pada 2017, USS Gerald R. Ford memiliki panjang lebih dari 1.100 kaki dengan bobot melampaui 100.000 ton. Kapal ini berfungsi sebagai pangkalan udara terapung yang mampu beroperasi di perairan internasional tanpa ketergantungan pada izin negara tuan rumah.

Didukung dua reaktor nuklir, kapal ini memiliki daya tahan operasi hampir tak terbatas dan menjadi tulang punggung proyeksi kekuatan angkatan laut AS. Satuan udara di atas kapal ini biasanya terdiri dari 75 pesawat, mulai dari jet tempur siluman F-35C Joint Strike Fighter, F/A-18 Super Hornet, jet perang elektronik EA-18G Growler, hingga pesawat peringatan dini E-2D Hawkeye.

Saat ini, AS memiliki total 11 kapal induk. Kehadiran dua kapal induk di Timur Tengah ini memperkuat armada tempur lainnya yang mencakup kapal perusak, kapal perang, dan skuadron jet tempur yang telah tiba dalam beberapa pekan terakhir.

Pergerakan Logistik dan Armada Pendukung

Untuk pertama kalinya tahun ini, USS Gerald R. Ford mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (AIS) pelacakan kapal pada Rabu pukul 12:30 GMT. Selain kapal induk, pergerakan besar pesawat militer AS juga terdeteksi menuju pangkalan di Eropa dan Timur Tengah.

Aset udara yang dikerahkan meliputi:

  • Jet Tempur: F-35 dan F-22 Raptor.

  • Pesawat Tanker: KC-135 dan KC-46 untuk dukungan logistik jarak jauh.

  • Komando & Pengawasan: E-3 Sentry untuk koordinasi operasi skala besar.

  • Angkut Berat: C-17A Globemaster dan C-5M Super Galaxy untuk mobilisasi personel dan kargo.

Pakar intelijen militer, Justin Crump, menilai persiapan ini menunjukkan "kedalaman dan keberlanjutan" yang jauh lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro maupun Operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.

"Yang kita lihat bukan sekadar persiapan serangan, melainkan pengerahan kekuatan pencegahan (deterrence) yang bisa ditingkatkan sewaktu-waktu. Kekuatan ini dirancang untuk menangkal semua potensi respons terhadap aset AS di kawasan dan Israel," jelas Crump.

Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk

Merespons tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan pernah menyerah pada intimidasi dan paksaan musuh, terlepas dari luka yang telah ditimbulkan terhadap Republik Islam tersebut.

Senada dengan Presiden, Kepala Institut Penelitian Ilmu Dasar Iran, Mohammad-Javad Larijani, menyatakan bahwa Iran tidak akan sekadar menerapkan prinsip respons timbal balik "mata ganti mata".

"Respons Iran akan melampaui kerangka defensif dan beralih ke strategi ofensif. Kami akan menargetkan pusat-pusat yang menimbulkan rasa tidak aman," tegas Larijani dalam wawancara dengan Mehr News Agency.

Ia memperingatkan bahwa jika agresi terjadi, Iran akan mengincar kepentingan regional agresor secara luas. Larijani juga mengingatkan pemerintahan Donald Trump agar tidak salah kalkulasi. Menurutnya, luasnya aset AS di kawasan justru menjadikan target operasi Iran semakin lebar.

"Amerika Serikat harus bersiap menghadapi jatuhnya korban jiwa dan hilangnya kepentingan regional yang signifikan. Kami tidak menunggu untuk melihat titik mana yang menjadi target; kami yang menentukan titik mana yang harus diserang," pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow