Listrik Raas Padam, Warga Mulai Siapkan Lampu Portable Khawatir hingga Idul Fitri

Persoalan yang selalu berulang ini tidak cukup hanya soal PLN saja, tapi pemangku kebijakan juga harus bergerak.

Februari 22, 2026 - 09:30
Listrik Raas Padam, Warga Mulai Siapkan Lampu Portable Khawatir hingga Idul Fitri

SUMENEP Pemadaman listrik yang terjadi di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, selama Ramadan memicu kekhawatiran warga. Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat dan menjelang arus mudik Idul Fitri, sebagian warga mulai menyiapkan lampu portable sebagai langkah antisipasi.

Dalam beberapa malam terakhir, suasana di sejumlah desa tampak gelap ketika aliran listrik terhenti. Penerangan rumah dan jalan padam, sementara jaringan telekomunikasi ikut terganggu.

Ihsan, warga Kepulauan Raas mengatakan, masyarakat mulai bersiap menghadapi kemungkinan pemadaman berlanjut hingga mendekati Idul Fitri.

“Sekarang warga banyak beli lampu portable. Kami khawatir kalau pemadaman ini terus terjadi sampai jelang Idul Fitri,” ujarnya, Minggu (21/2/2026).

Menurutnya, kekhawatiran itu muncul seiring kabar yang beredar di masyarakat mengenai keterbatasan mesin pembangkit. Warga memperkirakan beban listrik akan meningkat ketika pemudik mulai berdatangan.

“Kalau nanti arus mudik meningkat, takutnya makin sering mati. Katanya mesin tidak kuat,” katanya.

Dampak pemadaman terasa pada aktivitas ibadah Ramadan. Ia menyebut, ketika listrik padam hingga menjelang sahur, suasana masjid menjadi lebih sepi karena pengeras suara tidak dapat digunakan untuk membangunkan warga.

“Kalau mati sampai jam sahur, masjid sepi. Banyak warga yang bangun mepet imsak kalau tidak pasang alarm. Masjid baru bunyi mendekati adzan Subuh,” ujarnya.

Selain itu, pelaku usaha kecil juga terdampak. Warga yang biasa menyiapkan bahan dagangan pada malam hari harus menunda pekerjaan karena peralatan listrik tidak dapat dioperasikan.

“Yang jualan terganggu juga. Biasanya siapkan bahan malam hari, sekarang menunggu listrik nyala. Tidak bisa pakai blender bumbu atau selep kelapa listrik,” katanya.

Ia menambahkan, ketika listrik padam, kondisi lingkungan menjadi gelap dan aktivitas warga berkurang. Sinyal telekomunikasi juga dilaporkan tidak tersedia sehingga komunikasi terbatas.

“Kalau sudah mati, rumah dan jalan gelap. Sinyal juga tidak ada. Banyak warga akhirnya tidur lebih awal,” ujarnya.

Menanggapi kondisi tersebut, anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Daerah Pemilihan (Dapil) VII, Ahmad Juhairi, menyatakan persoalan kelistrikan di wilayah kepulauan perlu menjadi perhatian bersama.

Menurutnya, gangguan yang berulang tidak hanya menjadi tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pemangku kebijakan.

“Persoalan yang selalu berulang ini tidak cukup hanya soal PLN saja, tapi pemangku kebijakan juga harus bergerak. Kalau para pemangku kebijakan diam saja, tekanannya menjadi lemah,” ujarnya.

Ia menambahkan, kualitas sumber pembangkit listrik berkaitan dengan kebijakan dan penganggaran.

“Kalau terkait kualitas sumber pembangkit, itu juga berkaitan dengan pemerintah selaku pemangku kebijakan karena menyangkut penganggaran,” katanya.

Ahmad Juhairi menegaskan DPRD akan menjalankan fungsi pengawasan, regulasi, dan penganggaran untuk mendorong ketersediaan layanan listrik yang memadai bagi masyarakat kepulauan, terutama menjelang Idul Fitri saat aktivitas dan kebutuhan meningkat.

"Kami akan mengupayakan dengan baik dan segera akan berkoordinasi untuk menemukan solusi cepat," pungkasnya.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow