Ketika Gagasan Bertemu Kebersamaan di Halal Bihalal KAHMI Probolinggo
Pembangunan tidak lahir dari satu suara. Pembangunan tumbuh dari banyak pikiran yang dipertemukan. Probolinggo SAE lahir dari sana. Dan di halal bihalal KAHMI Probolinggo banyak pikiran tambahan untu
PROBOLINGGO - Rabu (22/4/2026), di Ruang Tengger Lantai 4 Kantor Pemkab Probolinggo terasa gayeng. Suasana cair. Saling menyapa, bersalaman, dan sesekali tertawa kecil seperti kawan lama yang lama tak berjumpa.
Begitulah salah satu sudut suasana Halal bihalal KAHMI Kabupaten Probolinggo. Agenda siang itu tidak sekadar menjadi agenda rutin pasca-Lebaran. Halal bihalal itu menjadi ruang perjumpaan yang hangat. Ruang di mana kebersamaan dan gagasan berjalan beriringan.
Satu per satu peserta hadir. Dari kalangan akademisi, ulama, birokrat, pengusaha, hingga tokoh masyarakat. Mereka datang membawa latar belakang berbeda, tetapi berada dalam satu titik yang sama, alumni yang pernah ditempa dalam ruang intelektual yang sama.
Di dalam ruangan, kursi-kursi terisi perlahan. Percakapan kecil mulai mengalir. Ada yang membahas perkembangan daerah, ada yang sekadar mengenang masa lalu. Namun semuanya terasa akrab. Seolah ruang itu bukan aula resmi, melainkan ruang keluarga yang besar.
Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi AHZ yang hadir lebih awal, menyapa peserta satu per satu, lalu berdiri memberikan sambutan.
Nada bicaranya tidak menggurui. Lebih seperti ajakan. “KAHMI ini punya kekuatan besar. SDM-nya tersebar di berbagai sektor strategis,” ujarnya.
Fahmi melihat KAHMI bukan hanya sebagai organisasi alumni. Dia memandangnya sebagai jaringan besar yang memiliki potensi nyata. Potensi itu, menurutnya, belum sepenuhnya terhubung.
“Kita butuh ide-ide segar. Kita butuh gagasan. Dan itu ada di KAHMI,” lanjutnya.
Wabup menegaskan, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Tantangan pembangunan semakin kompleks. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dari kalangan intelektual. Kalimatnya sederhana, tetapi terasa mengena: pembangunan tidak bisa dikerjakan secara parsial.
Presidium MD KAHMI Kabupaten Probolinggo, Arief Hermawan, menangkap arah pembicaraan itu dengan cukup jernih. Arief melihat kekuatan KAHMI justru terletak pada persebaran kadernya. "Kader kita ada di hampir semua sektor. Tinggal bagaimana kita menghubungkan potensi itu,” katanya.
Arief tidak berbicara soal program besar. Ia berbicara soal kesadaran kolektif. Bahwa kekuatan organisasi bukan pada struktur, tetapi pada peran individu di dalamnya.
Di sambutan lain, kehadiran Presidium MW KAHMI Jawa Timur, Agus Mahfudz, memberi perspektif yang lebih luas. Agus melihat hubungan antara KAHMI dan pemerintah daerah sebagai sesuatu yang harus dirawat secara berkelanjutan. “Komunikasi seperti ini jangan berhenti di momentum halal bihalal saja,” ujarnya.
Menurutnya, KAHMI memiliki tanggung jawab moral untuk terus memberikan masukan strategis. Tidak hanya saat diminta, tetapi sebagai bagian dari peran intelektual dalam masyarakat.
Agus memandang bahwa pembangunan daerah membutuhkan keseimbangan. Yakni antara kebijakan dan pemikiran, antara eksekusi dan refleksi. "Di situlah peran KAHMI,” tambahnya.
Suasana semakin hangat ketika Bupati Probolinggo, Muhammad Haris, hadir sesuai acara seremonial. Bupati datang setelah menyelesaikan agenda sebelumnya, pembukaan TMMD 128 bersama TNI. Tanpa banyak formalitas, bupati langsung menyatu dalam lingkaran yang sudah terbentuk.
Kehadirannya seperti melengkapi suasana. Bupati Haris tidak berbicara panjang. Namun setiap kalimatnya terasa terarah disertai guyonan-guyonan.
“Kita membangun Probolinggo ini tidak bisa sendiri-sendiri,” katanya.
Ia mengulang gagasan yang sama. Kolaborasi.
Menurutnya, kekuatan Probolinggo tidak hanya terletak pada pemerintah, tetapi pada seluruh elemen masyarakat. Termasuk KAHMI yang memiliki kader di berbagai lini kehidupan. “Kalau semua potensi ini bisa disinergikan, saya yakin Probolinggo bisa melompat lebih jauh,” ujarnya.
Menurutnya, Probolinggo SAE sebagai visi pemerintahannya akan lebih cepat terlaksana dengan kolaborasi itu. Visi tersebut terasa lebih konkret. Bukan sekadar jargon, tetapi sesuatu yang sedang dicari bentuk nyatanya melalui kolaborasi.
Di luar sesi formal, suasana justru terasa lebih hidup. Peserta saling berdiskusi dalam kelompok kecil. Ada yang membicarakan peluang ekonomi, ada yang membahas pendidikan, ada pula yang menyinggung isu sosial yang sedang berkembang.
Semua berlangsung tanpa tekanan. Tanpa protokol yang kaku.
Halal bihalal siang itu terasa seperti ruang brainstorming besar yang tidak dirancang. Semua terjadi secara alami.
Di sudut ruangan, beberapa tokoh muda terlihat serius berdiskusi. Di sisi lain, para senior berbagi pengalaman. Ada pertukaran gagasan yang berjalan pelan, tetapi terasa kuat.
Inilah mungkin esensi dari halal bihalal itu. Bahwa kebersamaan tidak hanya tentang saling memaafkan. Tetapi juga tentang saling menguatkan. Saling membuka ruang. Saling mendengar.
Di tengah dinamika daerah yang terus bergerak, ruang seperti ini menjadi penting. Karena pembangunan tidak lahir dari satu suara. Pembangunan tumbuh dari banyak pikiran yang dipertemukan.
Dan siang itu, di Ruang Tengger, pertemuan itu terjadi.
Tetapi dalam percakapan sederhana. Dalam senyum yang tulus. Dalam kesadaran bahwa semua pihak memiliki peran.
Halal bihalal itu akhirnya bukan sekadar penutup Syawal. Halal bihalal itu menjadi awal bagi sebuah kolaborasi yang pelan, tetapi berpotensi besar. (*)
Apa Reaksi Anda?