Dr. Stepi Anriani Papar Dampak Peperangan Kognitif
Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS), Dr. Stepi Anriani, S.IP., M.Si., menjadi pembicara dalam Bincang Cendekia Vol. 5 yang digelar oleh Jaringan Cendkiawan Muda.
JAKARTA - Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS), Dr. Stepi Anriani, S.IP., M.Si., menjadi pembicara dalam Bincang Cendekia Vol. 5 yang digelar oleh Jaringan Cendkiawan Muda.
Acara yang mengusung tema "Pembatasan Media Sosial: Solusi Atas Disinformasi atau Ancaman Bagi Ruang Digital?" ini berlangsung di Waroeng Sadjoe, Tebet Barat, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).
Pada paparannya Stepi menjelaskan bahwa informasi palsu kini menjadi senjata yang memecah belah masyarakat.
Menurutnya, medan pertempuran saat ini telah bergeser dari cara konvensional menuju peperangan kognitif yang memicu manipulasi massal.
"Disinformasi masuk ranking kelima sebagai ancaman global dan media sosial menjadi wadahnya," ujar Stepi.
Senada dengan hal tersebut, Penasehat Jaringan Cendekiawan Muda sekaligus Ketua Umum PB HMI Periode 2018-2020, Respiratori Saddam Al Jihad, menyoroti transformasi masyarakat yang kini menjadi 'makhluk digital'.
"Interaksi manusia saat ini lebih banyak didikte oleh algoritma, sehingga manusia berada pada titik di mana kesadaran digital terbangun lebih dominan dibandingkan kesadaran sosialnya," tegasnya.
Dalam opening speech, Sekretaris Jenderal PP KMHDI 2023-2025 sekaligus Founder Jaringan Cendikiawan Muda, Teddy Chrisprimanata Putra, S.T., M.Sos., menambahkan bahwa problematika di Indonesia terletak pada platform digital yang kian kompleks.
"Dinamika ruang digital yang sangat riuh dan terlampau demokratis justru membuat masyarakat kesulitan mengidentifikasi serta membedakan antara informasi yang valid dengan disinformasi," kata Teddy sapaan akrabnya. (*)
Apa Reaksi Anda?