Kasus Leptospirosis Meledak di Tulakan, DPRD Pacitan Desak Dinkes dan DKPP Rutin Anggarkan Gropyokan Tikus
Kasus leptospirosis di Pacitan tembus 157 kasus, terbanyak di Tulakan. Ketua Komisi II DPRD Rudi Handoko desak Dinkes & DKPP buat anggaran rutin gropyokan tikus, bukan hanya saat korban berjatuhan.
PACITAN - Lonjakan kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan memicu respons keras dari pihak legislatif.
Kecamatan Tulakan kini tercatat sebagai wilayah dengan persentase temuan kasus tertinggi dari total 157 kasus yang ditemukan hingga Juli 2026.
Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk melahirkan program penanganan yang berkelanjutan.
Salah satu yang ditekankan adalah penyusunan anggaran rutin untuk aksi gropyokan atau pembasmian tikus secara massal di APBD.
"Bermula dari data historis, harus ada progres yang riil. Langkah penanggulangan harus masuk di program kegiatan maupun sub-kegiatan yang memang ada di dua OPD ini," ujar Rudi, Rabu (15/7/2026).
Rudi menegaskan, pemberantasan hama tikus tidak boleh hanya menjadi program musiman atau sekadar reaksi cepat saat jatuh korban.
Ia merujuk pada data penelitian terdahulu sejak tahun 2015, di mana gerakan gropyokan saat itu mengungkap fakta mencengangkan.
Sekitar 70 persen tikus yang diperiksa di Pacitan terbukti positif membawa bakteri leptospirosis.
"Tantangan besarnya adalah bagaimana penanganan tikus ini dilakukan terus-menerus, mulai dari tikus sawah, tikus perumahan, hingga tikus got," tegasnya.
Politisi asal Kecamatan Tulakan ini mengingatkan agar instansi terkait tidak bekerja sendiri-sendiri dan bersifat pasif.
Sinergi kuat harus didelegasikan hingga ke tingkat kecamatan, pemerintah desa, bahkan menyentuh level RT/RW agar gerakannya masif.
"Intinya, ojo sampek (jangan sampai) leptospirosis ini muncul baru ada tindakan," kata Rudi.
Sebagai perwakilan masyarakat Tulakan, Rudi juga meminta Dinkes dan DKPP meluangkan waktu khusus untuk turun ke wilayahnya guna mencari solusi konkret jangka panjang.
Di sisi lain, masyarakat terutama para petani diimbau untuk lebih protektif dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat beraktivitas di sawah serta menjaga sanitasi lingkungan rumah agar terhindar dari paparan urine tikus. (*)
Apa Reaksi Anda?