Kartini dari Tasikmalaya, Iyan Yuliantini Menolak Menyerah Demi Kesetaraan Disabilitas
Perempuan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu bernama Iyan Yuliantini (60). Dahulu mengajar di SLB Negeri Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, namun ia tak pernah benar-benar berhenti menjad
TASIKMALAYA - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dan derasnya perubahan zaman, seorang perempuan di Kota Tasikmalaya yang berusia lebih setengah abad memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk satu perjuangan besar - kesetaraan bagi penyandang disabilitas.
Perempuan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu bernama Iyan Yuliantini (60). Dahulu mengajar di SLB Negeri Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, namun ia tak pernah benar-benar berhenti menjadi guru.
Meski secara administratif telah pensiun pada tahun 2025, jiwa pendidiknya tetap menyala. Bagi Iyan, masa pensiun bukanlah garis akhir. Justru itu menjadi babak baru pengabdian.
“Saat ini saya sudah pensiun kemarin tahun 2025 dari PNS. Tapi saya terus aktif lewat Papeditas dan masih membantu mengajar dan membina anak-anak difabel di beberapa SLB di Kota Tasikmalaya. Bagi saya anak-anak adalah obat segalanya,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Sejak berusia sekitar 20 tahun, Iyan telah mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan luar biasa. Saat banyak orang mencari karier mapan, ia justru memilih jalan sunyi untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus yang kerap dipandang sebelah mata.
Ditemui di SLB Insan Sejahtera, Cieunteung Kota Tasikmalaya, Iyan mengaku selama puluhan tahun menjadi saksi bagaimana penyandang disabilitas sering dianggap tidak mampu, diremehkan, bahkan diasingkan dari ruang sosial.
Namun ia tidak tinggal diam. Ia hadir sebagai pendidik, pengasuh, motivator, sekaligus pembela. Baginya, anak-anak disabilitas bukan beban, melainkan manusia dengan potensi luar biasa yang membutuhkan ruang dan kesempatan.
“Saya ingin mereka tidak direndahkan. Mereka harus punya kesempatan yang sama,” tuturnya.
Menurut data yang dihimpun komunitasnya, jumlah penyandang disabilitas di Kota Tasikmalaya cukup besar.
“Ada lebih dari 778 siswa penyandang disabilitas di Kota Tasikmalaya. Kalau digabung dengan yang dewasa, bisa sampai 2.200-an orang,” jelas Iyan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa isu disabilitas bukan persoalan kecil. Ini adalah realitas sosial yang membutuhkan perhatian serius, baik dari pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat luas.
Karena itulah Iyan terus bergerak bersama Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas).
Bersama Papeditas, Iyan tak sekadar berkumpul dan berdiskusi. Mereka bekerja nyata membuka jalan kemandirian ekonomi bagi kaum disabilitas.
Salah satu program unggulan mereka adalah UMKM produksi telur asin khusus penyandang disabilitas. Bagi sebagian orang, telur asin mungkin hanya makanan biasa. Namun di tangan Iyan, telur asin berubah menjadi simbol perjuangan.
Iyan memahami masih ada stigma negatif terhadap pekerja disabilitas, terutama di bidang makanan. Ada anggapan produk buatan penyandang disabilitas tidak higienis atau kurang layak konsumsi.
Ia menolak keras stigma tersebut. Karena itu, ia memilih usaha telur asin yang memiliki filosofi kuat.
“Jadi kalau telur asin yang diolah itu cangkangnya. Bagian dalam telur tetap bersih, aman, dan tidak tersentuh. Jadi tidak perlu takut kotor atau ada bakteri,” katanya.
Menurutnya, telur asin menjadi media edukasi kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas mampu menghasilkan produk berkualitas dan aman dikonsumsi.
Lebih dari itu, proses pembuatannya melatih keterampilan penting seperti melatih konsentrasi tinggi dalam ketelitian, kedisiplinan tentunya juga tentang kebersihan.
"Ya, Selain itu membangu pula tanggung jawab dan kerja sama tim. Jika proses kebersihan diabaikan, telur akan busuk saat pematangan."
Karena itu menurut Iyan, para peserta diajarkan standar higienitas secara ketat. Bagi Iyan, hasil penjualan telur asin bukan hanya soal rupiah. Yang lebih penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri.
Saat seseorang dengan disabilitas bisa bekerja, menghasilkan uang, dan dihargai masyarakat, maka ia sedang memperoleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar pendapatan dan martabat.
“Selain belajar, mereka juga mendapat penghasilan. Dari sisi ekonomi tentu terbantu,” ujarnya.
Di sekolah luar biasa, pelajaran tak selalu tentang membaca dan menulis. Banyak hal mendasar yang justru menjadi prioritas.
Iyan menuturkan, guru SLB kerap harus mengajarkan siswa cara merawat diri sendiri. Mulai dari menjaga kebersihan tubuh, mandi, berpakaian rapi, hingga disiplin dalam aktivitas sehari-hari.
“Pendampingan siswa SLB selama ini seperti melatih kemandirian dan tidak lagi tergantung ke orang lain, termasuk orang tua,” katanya.
Selama 23 tahun menjadi PNS guru SLB, Iyan menjalani tugas itu dengan sepenuh hati.
Perjuangan Iyan tak berhenti di ruang kelas. Ia mengaku telah membantu menyalurkan sejumlah lulusan SLB Kota Tasikmalaya ke berbagai tempat kerja, termasuk dapur SPPG dalam program pembuatan MBG untuk anak sekolah.
Selain itu, banyak penyandang disabilitas kini bekerja di restoran modern dan kafe-kafe di Tasikmalaya. Menurutnya, dunia kuliner justru cocok bagi sebagian penyandang disabilitas karena menuntut kebersihan, konsistensi, dan ketelitian.
“Sebetulnya banyak yang punya keterampilan tinggi dan dapat menjaga kebersihan ekstra di dunia kuliner Tasikmalaya,” ungkapnya.
Keberhasilan itu sekaligus mematahkan anggapan bahwa penyandang disabilitas hanya bisa bergantung pada belas kasihan.
Kartini Masa Kini dari Priangan Timur
Di Hari Kartini, nama Iyan Yuliantini layak disebut sebagai representasi perempuan Indonesia masa kini. Ia menilai perjuangan RA Kartini telah membuka jalan bagi perempuan untuk berkiprah luas tanpa batasan gender.
“Sekarang perempuan lebih diberi kesempatan dan leluasa bergerak. Tidak terbatas gender. Bahkan banyak perempuan kariernya lebih tinggi dibanding laki-laki,” ucapnya.
Namun Iyan menambahkan, perjuangan perempuan hari ini harus diperluas bukan hanya soal kesetaraan gender, tetapi juga kesetaraan bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
Kini Iyan tinggal sendiri di kawasan salah satu Perumahan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Namun hidupnya jauh dari kata sepi.
Hari-harinya masih diisi dengan mendampingi siswa, menghadiri kegiatan komunitas, membantu pelatihan, dan menguatkan para orang tua anak disabilitas. Ia telah pensiun dari negara, tetapi tidak pernah pensiun dari kemanusiaan.
Pelajaran dari Iyan Yuliantini dari sosok Iyan, masyarakat belajar bahwa pengabdian tidak selalu hadir di panggung besar. Kadang ia tumbuh diam-diam di ruang kelas kecil, di dapur produksi telur asin, atau di tangan seorang guru yang sabar membimbing anak-anak istimewa.
Ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kasih sayang, konsistensi, dan keberanian melawan stigma.
Tasikmalaya punya banyak tokoh. Tetapi Iyan Yuliantini adalah satu dari sedikit orang yang memilih menjadi cahaya bagi mereka yang sering luput dilihat dunia. (*)
Apa Reaksi Anda?