Kapolresta Malang Bongkar Fakta Mengejutkan di Hadapan Mahasiswa UWG
Diskusi santai antara mahasiswa dan aparat kepolisian di Universitas Widya Gama Malang berubah menjadi forum penuh perhatian publik setelah Kapolresta Malang Kota
MALANG - Diskusi santai antara mahasiswa dan aparat kepolisian di Universitas Widya Gama Malang berubah menjadi forum penuh perhatian publik setelah Kapolresta Malang Kota, Putu Kholis, membongkar berbagai fakta mengejutkan terkait maraknya minuman keras ilegal, narkoba, hingga penipuan online yang kini mengancam generasi muda Indonesia.
Bertempat di Selling Well Cafe dan Resto pada Sabtu (23/5/2026) malam, dialog yang dihadiri Rektor UWG, pimpinan kampus, dan 20 mahasiswa perwakilan ORMAWA itu berlangsung hangat namun penuh pesan serius tentang masa depan Kota Malang.
Dalam sambutannya, Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, SH., M.Hum., menegaskan bahwa kampus tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter mahasiswa sebagai agen perubahan sosial.
“UWG saat ini berada di peringkat 3 terbaik di Malang dan peringkat 81 nasional. Kami ingin mahasiswa UWG menjadi mahasiswa unggul yang tetap beradab dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebut dialog bersama Kapolresta menjadi ruang penting agar mahasiswa memahami langsung persoalan nyata yang sedang dihadapi bangsa. “3000 botol miras kami sita,” tegasnya.
Suasana diskusi langsung mencuri perhatian ketika Kapolresta Malang memaparkan fakta mengejutkan terkait peredaran miras ilegal di wilayah Malang Raya.
“Miras ini bukan budaya. Dari sisi agama haram, dari sisi sosial juga merusak. Banyak tindak kriminal bermula dari konsumsi miras,” ujar Putu Kholis di hadapan mahasiswa.
Ia mengungkapkan bahwa pihak kepolisian telah menyita sekitar 3.000 botol minuman keras ilegal yang sebagian besar berasal dari distribusi luar daerah seperti arak Bali.
Tak hanya itu, Kapolresta juga membongkar keberadaan produksi miras ilegal rumahan di wilayah Kabupaten Malang.
“Ada home industry di Bantur, Dampit, dan Poncokusumo. Produksinya tidak higienis, kadar alkohol tidak jelas, sangat berbahaya bagi kesehatan,” ungkapnya.
Menurutnya, miras sering menjadi pemicu perilaku tidak terkendali hingga tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat.
“Orang mabuk itu mudah kehilangan kontrol. Bicara ngawur, emosional, bahkan berpotensi melakukan tindak kejahatan,” katanya. Mahasiswa Diajak Jadi “Agen Perubahan”
Dalam dialog tersebut, Kapolresta secara khusus mengajak ribuan mahasiswa di Kota Malang untuk mengambil peran aktif melawan penyakit masyarakat.
“Bagaimana kalau mahasiswa di Malang bersama-sama menolak miras dan narkoba? Mahasiswa punya kekuatan besar sebagai agen perubahan,” tegasnya.
Ia menyebut budaya lingkungan sangat memengaruhi karakter seseorang. Karena itu, mahasiswa harus mampu menjaga diri dan menjadi contoh positif di masyarakat.
“Kelak saat kalian lulus dan hidup bermasyarakat, kalian harus bisa menempatkan diri dengan baik dan membawa nilai-nilai positif,” pesannya.
Penipuan Online dan Judol Jadi Ancaman Baru
Tak kalah menarik, mahasiswa UWG juga mengangkat isu maraknya penipuan online dan judi online (judol) yang kini semakin banyak memakan korban.
Menjawab pertanyaan mahasiswa, Putu Kholis menyebut kejahatan digital saat ini telah berkembang menjadi sindikat lintas negara yang sangat terorganisir.
“Penipuan online dan judol ini bukan pelaku tunggal. Mereka jaringan besar, bahkan lintas negara. Kejahatan seperti ini termasuk extraordinary crime,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan instan yang banyak beredar di media sosial.
“Masyarakat kita masih mudah ditipu karena malas membaca detail informasi. Celah itu yang dimanfaatkan pelaku,” katanya.
Kapolresta juga menyoroti derasnya arus informasi palsu di media sosial yang dapat memicu keresahan publik. “Sekarang banyak manipulasi konten memakai simbol negara untuk menipu masyarakat. Bahkan isu begal viral yang dicek polisi ternyata tidak benar,” ujarnya.
Diskusi Santai, Pesan Kebangsaan Sangat Kuat
Kepala Biro Administrasi Akademik UWG, Ir. Suprihana, MP., menjelaskan bahwa forum ini memang dirancang santai agar mahasiswa lebih terbuka menyampaikan pandangan.
“Ini berawal dari permintaan Kapolresta Malang untuk berdiskusi langsung dengan mahasiswa UWG dengan tema bebas dan suasana semi formal,” jelasnya.
Diskusi yang berlangsung hingga malam itu akhirnya tidak hanya menjadi forum sharing biasa, tetapi juga momentum kolaborasi antara kampus dan kepolisian dalam menjaga masa depan generasi muda dan kondusivitas Kota Malang.
Di akhir acara, mahasiswa UWG mendapat pesan kuat bahwa intelektualitas tanpa kepedulian sosial tidak akan cukup menghadapi tantangan zaman. (*)
Apa Reaksi Anda?