Iran: Kesepakatan dengan AS Bergantung pada Sikap “America First”
Iran menegaskan peluang kesepakatan dengan AS bergantung pada pendekatan “America First”, di tengah eskalasi konflik kawasan dan negosiasi di Islamabad.
JAKARTA - Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sangat bergantung pada pendekatan yang digunakan dalam negosiasi. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform X, Sabtu (11/4/2026), di tengah berlangsungnya perundingan kedua negara di Islamabad, Pakistan.
Aref menegaskan, kesepakatan berpotensi tercapai apabila negosiator Amerika mengedepankan pendekatan “America First”. Sebaliknya, jika yang dikedepankan adalah kepentingan “Israel First”, maka pembicaraan dinilai sulit menghasilkan kesepakatan.
“Jika kita bernegosiasi dengan perwakilan ‘America First’, maka kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak dan dunia kemungkinan besar tercapai. Namun jika menghadapi ‘Israel First’, maka tidak akan ada kesepakatan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan Iran akan tetap mempertahankan posisinya. “Kami akan melanjutkan pembelaan dengan lebih gigih, dan dunia akan menghadapi biaya yang lebih besar,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Serangan udara yang disebut melibatkan AS dan Israel dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat dan komandan senior Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan tersebut.
Di tengah ketegangan itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) pada 8 April 2026 mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan ini disebut mengacu pada proposal 10 poin yang diajukan Iran.
Delegasi tingkat tinggi Iran kemudian tiba di Islamabad untuk melanjutkan negosiasi. Tim tersebut dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan didampingi sejumlah pejabat penting, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Akbar Ahmadian.
Dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance hadir bersama negosiator Steve Witkoff dan Jared Kushner. Kedua pihak dilaporkan telah menyelesaikan putaran ketiga pembicaraan dan saling bertukar dokumen tertulis guna merumuskan kerangka kesepakatan.
Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebut putaran ketiga menjadi fase krusial untuk mencapai kesepakatan atas proposal Iran dalam menghentikan konflik yang berlangsung.
Sementara itu, dinamika kawasan semakin kompleks dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Turki. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kritik keras terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menyusul rencana Ankara mengajukan dakwaan terhadap sejumlah warga Israel terkait insiden di Jalur Gaza.
Netanyahu menuduh Erdogan mendukung Iran dan melakukan tindakan represif terhadap warga Kurdi. Pernyataan itu dibalas Kementerian Luar Negeri Turki yang menyebut tudingan tersebut tidak berdasar dan mencerminkan ketegangan politik yang meningkat.
Turki juga menegaskan akan terus mendorong pertanggungjawaban hukum terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang. Ketegangan ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan proses negosiasi yang tengah berlangsung.
Di tengah situasi tersebut, Iran kembali menegaskan bahwa arah kebijakan Amerika Serikat akan menjadi faktor penentu dalam membuka jalan menuju kesepakatan atau memperpanjang konflik di kawasan. (*)
Apa Reaksi Anda?