Iran Ingatkan Minyak Asia Barat Akan Lumpuh jika Begini

Iran memperingatkan jika negara-negara tetangganya di selatan membantu upaya serangan Amerika Serikat terhadap Iran, maka minyak Asia Barat akan lumpuh.

April 22, 2026 - 09:31
Iran Ingatkan Minyak Asia Barat Akan Lumpuh jika Begini

JAKARTA - Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan, jika negara-negara tetangga Iran di selatan membantu upaya serangan Amerika terhadap Iran, maka minyak Asia Barat akan lumpuh.

Republik Islam Iran dalam pembalasannya akan bisa merampas kemampuan mereka untuk terus memproduksi minyak.

Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi memperingatkan bahwa jika negara-negara tetangga Iran di selatan membantu upaya serangan Amerika terhadap Iran, maka pembalasan Iran akan bisa merampas kemampuan mereka untuk terus memproduksi minyak.

"Harap mereka tahu, bahwa jika wilayah dan sumber daya mereka digunakan oleh Amerika Serikat untuk menyerang bangsa Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Asia Barat," tegas Seyyed Majid Mousavi, kemarin.

Ia memperingatkan bahwa selama periode "keheningan militer"  pasukan Iran tetap waspada, mata terbuka lebar dan tangan sudah siap di pelatuk, siap membela tanah kuno ini dan peradabannya yang membentang ribuan tahun.

Komentar tersebut muncul ditengah jeda dua minggu yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April lalu setelah 100 gelombang serangan balasan yang sukses dan menentukan terhadap serangan tanpa provokasi terbaru dari AS dan rezim Israel yang menargetkan negara tersebut.

Serangan balasan tersebut memberikan pukulan telak terhadap target-target sensitif dan strategis Amerika dan Israel di seluruh wilayah, termasuk yang berada di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi.

Kemarin unit komando operasional tertinggi Iran juga mengatakan, bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam memiliki keunggulan dalam menghadapi musuh, dan oleh karena itu, jangan biarkan Presiden AS Donald Trump salah menggambarkan kondisi yang mengatur medan perang.

Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, sebelumnya telah menyampaikan hal itu setelah klaim berturut-turut yang dibuat oleh Trump mengenai keadaan di jalur perairan strategis tersebut menyusul pengumumannya tentang gencatan senjata jangka pendek.

Dengan menggunakan platform Truth Social miliknya, Trump menuduh bahwa Iran telah "setuju untuk tidak pernah menutup Selat Hormuz lagi" dan "blokade angkatan laut Amerika Serikat akan tetap berlaku sepenuhnya hanya bagi Iran sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100%." ​​

Trump juga mengatakan bahwa negosiasi gencatan senjata "seharusnya berjalan sangat cepat karena sebagian besar poin telah dinegosiasikan."

Namun, para pejabat Iran dengan tegas menolak semua klaim-klaim itu.

Bahkan Iran justru bergerak lebih cepat menutup jalur lalu lintas itu kembali setelah Trump mengumumkan kelanjutan blokade.

Terbaru Iran juga menolak untuk bergabung kembali dalam negosiasi dengan Washington selama Washington tidak meninggalkan taktik tekanannya.

Dan Wakil Presiden AS J.D. Vance akhirnya juga membatalkan perjalanannya ke Pakistan tanpa batas waktu, karena Iran tidak  menetapkan bahwa negosiasi hanya akan mungkin dilakukan jika Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancamannya.

Gencatan Senjata Diperpanjang Sepihak

Presiden AS, Donald Trump secara sepihak, Selasa kemarin menyatakan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang katanya, sekali lagi katanya dengan menulis di Truth Sosialnya, atas permintaan Pakistan sambil menunggu proposal terpadu dari Iran.

“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulisnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, bahwa perilaku AS dibawah kepemimpinan Donald Trump itu tidak sesuai dengan diplomasi.

Tindakan dan posisinya kontradiktif, dan Araqchi mencatat bahwa Iran akan mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasionalnya.

Kantor berita Tasnim melansir,  bahwa Iran sepenuhnya siap perang lagi dan siap dengan kartu baru yang akan  dimainkan pada babak pertempuran berikutnya, dengan memperingatkan jika negara-negara tetangga Iran di selatan membantu upaya serangan Amerika terhadap Iran, maka pembalasan Iran akan bisa merampas kemampuan mereka untuk terus memproduksi minyak. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow