Iran Buka Akses Terbatas Selat Hormuz, Kapal Malaysia Lolos Berkat Diplomasi

Iran memberikan akses terbatas di Selat Hormuz. Kapal Malaysia berhasil melintas berkat diplomasi, sementara Indonesia masih menunggu hasil negosiasi.

April 7, 2026 - 12:30
Iran Buka Akses Terbatas Selat Hormuz, Kapal Malaysia Lolos Berkat Diplomasi

JAKARTA Sebuah kapal tanker yang disewa oleh Petronas berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia, di tengah situasi konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Informasi ini diumumkan langsung oleh Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui media sosial.

“Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz,” bunyi pernyataan tersebut.

Kapal bernama Ocean Thunder itu mengangkut sekitar satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak sejak 2 Maret dan dijadwalkan melakukan bongkar muatan di Pengerang, Johor, pada pertengahan April. Pelayaran ini terjadi sehari setelah Iran menyatakan bahwa Irak dikecualikan dari kebijakan pembatasan di Selat Hormuz.

Izin Khusus untuk Kapal Malaysia

Ocean Thunder merupakan bagian dari tujuh kapal terkait Malaysia yang mendapat izin khusus dari Iran untuk melintas. Selain Petronas, perusahaan seperti Vantris Energy dan MISC juga termasuk dalam daftar tersebut.

Keberhasilan ini tidak lepas dari hubungan diplomatik antara kedua negara. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin tersebut. Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke bahkan menyebutnya sebagai hasil dari “hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran”.

Negara Lain Ikut Negosiasi dengan Iran

Selain Malaysia, sejumlah negara juga menjalin komunikasi intensif dengan Iran demi menjaga jalur energi mereka tetap aman. Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro mengungkapkan bahwa negaranya telah memperoleh jaminan dari Iran.

“Pelintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat,” kata Theresa, menggambarkan hasil kesepakatan setelah “percakapan telepon yang sangat produktif” dengan Teheran.

Filipina sendiri sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 98% impor minyak berasal dari kawasan tersebut. Lonjakan harga energi akibat konflik bahkan membuat negara itu menetapkan status darurat energi nasional.

Negara lain seperti Pakistan dan India juga mendapatkan sinyal positif dari Iran. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut langkah Iran sebagai “isyarat yang positif dan konstruktif”. Sementara India mendapat jaminan keamanan dengan pernyataan, “Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, tidak perlu khawatir.”

Iran Tegaskan Selektivitas di Zona Perang

Meski memberikan akses kepada beberapa negara, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya terbuka untuk semua pihak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negara-negara yang dianggap musuh tidak akan diizinkan melintas.

“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” tegasnya.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Iran menerapkan pendekatan selektif berdasarkan posisi politik negara dalam konflik yang sedang berlangsung.

Nasib Kapal Indonesia Masih Dibahas

Sementara itu, Indonesia masih berupaya memastikan keselamatan kapal-kapalnya. Melalui Pertamina International Shipping, pemerintah terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Perwakilan PIS, Vega Pita, menyatakan, “PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.”

Ia juga menambahkan, “Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut terus berjalan.”

Ketidakpastian Masih Membayangi

Meski sejumlah negara berhasil mendapatkan akses, masih banyak ketidakpastian yang menyelimuti jalur strategis ini. Belum diketahui secara pasti syarat yang harus dipenuhi kapal-kapal untuk bisa melintas, termasuk kemungkinan adanya biaya tertentu.

Di sisi lain, ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menyerang infrastruktur Iran jika akses Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya semakin memperkeruh situasi.

Para analis menilai bahwa kesepakatan yang ada saat ini memang merupakan “terobosan diplomatik”, namun belum menjadi solusi jangka panjang. Stabilitas jalur energi global masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan keberlanjutan diplomasi antarnegara. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow