Hari Lahir Pancasila, Pemuda Lintas Iman di Malang Kirim Pesan Lawan ntoleransi

Ketika ruang digital dipenuhi perdebatan, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial, ratusan pemuda dari berbagai agama dan latar belakang di Malang justru memilih duduk bersama, berdialog, dan berdoa u

Juni 1, 2026 - 19:14
Hari Lahir Pancasila, Pemuda Lintas Iman di Malang Kirim Pesan Lawan ntoleransi

MALANG - Ketika ruang digital dipenuhi perdebatan, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial, ratusan pemuda dari berbagai agama dan latar belakang di Malang justru memilih duduk bersama, berdialog, dan berdoa untuk Indonesia.

Momentum itu terlihat dalam kegiatan Jagongan Lintas Iman Lintas Generasi yang digelar oleh para pemuda asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila 2026. Mengusung tema “Pemuda Pembawa Semangat Pancasila”, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan tokoh agama, akademisi, organisasi kepemudaan, pemerintah, TNI-Polri, hingga masyarakat lintas generasi.

Di tengah menguatnya sikap eksklusif dan kecenderungan masyarakat terjebak dalam sekat identitas, forum ini menghadirkan pesan berbeda: keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan bangsa yang harus dirawat bersama.

Selama lebih dari enam jam, peserta mendiskusikan berbagai persoalan kebangsaan yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari prasangka terhadap kelompok berbeda, rendahnya empati sosial, hingga mengikisnya budaya dialog di tengah masyarakat.

Dalam forum tersebut, Pancasila ditegaskan bukan sekadar dokumen sejarah atau hafalan di ruang kelas, melainkan kompas moral yang tetap relevan menjawab tantangan zaman. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga keutuhan bangsa di era digital.

Akademisi Universitas Yudharta Pasuruan, Dr. H. Saifullah, M.HI, mengingatkan bahwa Pancasila merupakan rumah bersama yang memungkinkan Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan golongan.

"Ini menjadi satu kesatuan, dan Pancasila itu rumah kita sebagai warga Indonesia," ujar Yudha, Senin (1/6/2026).

Sementara itu, dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., CPCE, menjelaskan bahwa banyak konflik sosial berakar pada persoalan psikologis seperti stereotip, prasangka, egoisme kelompok, dan rendahnya empati.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila justru menjadi jawaban atas persoalan tersebut.

"Generasi muda perlu menghadirkan Pancasila dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar menjadikannya slogan," ungkapnya.

Wajah keberagaman Indonesia tampak dari para peserta yang berasal dari berbagai organisasi dan komunitas, di antaranya GP Ansor, Fatayat, Muhammadiyah, MWCNU Lawang, IPNU-IPPNU, Gusdurian Muda Malang, Gusdurian Pasuruan, GKJW Jemaat Lawang, Gereja Katolik Jago, komunitas Baha’i, GBI Victory, GKA Immanuel, Sapta Dharma, Padepokan Dhammadipa Arama, akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, insan media, hingga pegiat perdamaian.

Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat seluruh peserta membacakan Ikrar Peseduluran Tunggal Pertiwi. Dalam ikrar tersebut, mereka berkomitmen menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, menolak intoleransi, radikalisme, kekerasan, dan politik kebencian yang mengancam persatuan bangsa.

Para peserta juga menyatakan kesiapan menjadi pelopor perdamaian, penjaga kerukunan, serta penggerak gotong royong di tengah keberagaman Indonesia.

Puncak kegiatan ditandai dengan Doa Lintas Iman untuk Indonesia yang dipimpin para pemuka agama dari berbagai tradisi. Doa dipanjatkan oleh Pdt. Sevi Niasari dari GKJW, Suster Yustina dari Gereja Katolik Jago, Bertrand Ade Prayoga dari Baha’i, Bhante Jayamedho dari Buddha, Muji Hariono dari Sapta Dharma, serta Ustadz Adam mewakili Islam.

Suasana hening yang menyelimuti ruangan menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat Indonesia untuk berjalan bersama demi tujuan yang sama.

Dari sini, lahir pesan kuat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan generasi mudanya menjaga persaudaraan dan membangun jembatan dialog.

Jagongan Lintas Iman Lintas Generasi membuktikan bahwa Pancasila hidup bukan dalam slogan dan seremoni semata. 

"Pancasila hidup ketika masyarakat mau duduk bersama, saling mendengarkan, menghormati perbedaan, dan bergotong royong menjaga Indonesia sebagai rumah bersama," pungkas Pendeta Sevi.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow